Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Media Ibrani: Turki Bukan Satu-satunya Aktor di Balik Upaya Menjatuhkan Assad

Tanggapi Agresi Rezim Zionis ke Suriah, Al-Hashd al-Shaabi: Keserakahan Israel Tiada Batasnya

POROS PERLAWANAN – Sebuah laporan media berbahasa Ibrani pada Selasa 10 Desember, mengungkapkan bahwa Turki bukanlah satu-satunya aktor di balik upaya menggulingkan Presiden Suriah, Bashar al-Assad. Selain Turki, ada pihak-pihak lain yang turut memainkan peran signifikan dalam operasi tersebut, termasuk Qatar, yang disebut sebagai pendukung utama secara finansial. Sementara itu, ada kekhawatiran baru bahwa beberapa kelompok oposisi Suriah mungkin berusaha mendekati perbatasan dengan wilayah yang mereka sebut sebagai “Palestina yang Diduduki”, sehingga meningkatkan ancaman keamanan di kawasan tersebut.

Keterlibatan Turki dan Qatar

Menurut jurnalis militer portal berita Walla News, Amir Bohbot, Turki menjadi pemain utama di balik serangan pemberontak di Suriah. Namun, ia mencatat bahwa Ankara tidak bertindak sendirian. Qatar juga memainkan peran kunci dengan menyediakan dukungan finansial besar-besaran untuk aktivitas-aktivitas yang dirancang untuk menggulingkan Assad.

“Turki mungkin menjadi motor utama, tetapi Qatar adalah penyokong dana yang membuat aktivitas oposisi Suriah tetap berjalan”, tulis Bohbot.

Sumber-sumber Militer Israel juga menegaskan bahwa tanpa sokongan finansial Qatar, banyak dari kelompok pemberontak mungkin tidak akan mampu mempertahankan operasi mereka.

Kekhawatiran Israel tentang Perbatasan Suriah

Salah satu kekhawatiran terbesar bagi Israel saat ini adalah situasi di perbatasan Suriah. Wilayah tersebut, yang berbatasan langsung dengan Dataran Tinggi Golan yang Diduduki, masih menjadi pusat ketidakpastian. Bohbot melaporkan bahwa lembaga keamanan Israel telah menerima informasi tentang upaya kelompok-kelompok bersenjata untuk mendekati wilayah perbatasan.

Pada puncak perang saudara Suriah pada 2014, kelompok Jabhat al-Nusra berhasil menguasai wilayah perbatasan, termasuk Dataran Tinggi Golan dan penyeberangan Quneitra. Mereka bahkan menyandera 43 anggota pasukan penjaga perdamaian internasional, menandai eskalasi besar dalam konflik di kawasan tersebut.

Dua hari lalu, insiden serupa kembali terjadi ketika kelompok pemberontak bersenjata Suriah menyerang beberapa pos penjaga perdamaian internasional. Upaya ini memicu bentrokan dengan Militer Israel, yang merespons serangan tersebut untuk mencegah kelompok bersenjata mendekati wilayah sensitif di perbatasan.

Militer Israel juga melaporkan beberapa upaya baru oleh kelompok bersenjata yang menggunakan truk dan kendaraan jeep untuk mendekati daerah perbatasan. Namun, hingga kini, belum ada kejelasan tentang afiliasi kelompok-kelompok ini dengan faksi-faksi tertentu dalam oposisi Assad.

Iran dan Hizbullah Tetap Berpengaruh

Laporan Walla News menyoroti bahwa meskipun Assad kehilangan kendali di sejumlah wilayah, Iran dan Hizbullah masih memiliki kemampuan untuk memengaruhi opini publik dan dinamika politik di wilayah Golan. Kehadiran kedua aktor ini, menurut media tersebut, merupakan ancaman jangka panjang bagi Israel, terutama dalam hal potensi mobilisasi dukungan dari masyarakat lokal untuk melawan kepentingan Israel di kawasan tersebut.

Pengaruh ini bukan hanya dalam bentuk militer, tetapi juga dalam membangun opini publik di kawasan tersebut. Kehadiran mereka terus menjadi ancaman strategis bagi Israel, yang kini memantau dengan cermat setiap perkembangan di lapangan.

Dinamika Kawasan: Konflik yang Mengglobal

Keterlibatan negara-negara seperti Turki dan Qatar dalam mendukung upaya penggulingan Assad menunjukkan bahwa konflik di Suriah telah melampaui batas internal. Dukungan finansial dan operasional dari negara-negara tersebut tidak hanya memperdalam perang saudara, tetapi juga membuka jalan bagi persaingan geopolitik yang semakin intens.

Situasi ini memunculkan risiko yang lebih besar: Suriah dapat menjadi medan konflik berkepanjangan, serupa dengan Libya, di mana perang internal diwarnai oleh intervensi kekuatan regional dan internasional. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh rakyat Suriah yang terus menderita, tetapi juga oleh stabilitas seluruh Timur Tengah.

Kawasan ini kini berpotensi menjadi pusat ketidakstabilan yang merembet ke negara-negara tetangga yang mengancam negara-negara seperti Turki dan Qatar sendiri. Dalam skenario terburuk, Suriah akan menjadi episentrum konflik yang melibatkan lebih banyak aktor regional, menciptakan lingkaran kekerasan baru yang sulit dihentikan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *