Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Gelombang Penangkapan Baru Wartawan dan Aktivis di Azerbaijan

POROS PERLAWANAN – Gelombang baru represi terhadap wartawan dan aktivis politik kembali mencuat di Azerbaijan. Puluhan individu, termasuk para jurnalis terkemuka, telah ditangkap dengan tuduhan “penyelundupan”. Langkah ini memicu kekhawatiran komunitas internasional terkait kebebasan pers dan hak asasi manusia di negara tersebut.

Penangkapan Massal Wartawan

Dalam laporan yang dirilis oleh Kantor Berita Tasnimnews pada Selasa 10 Desember, sedikitnya 10 wartawan dan aktivis politik ditangkap dalam beberapa hari terakhir. Dari jumlah tersebut, enam orang ditahan pada hari yang sama. Lima di antaranya bekerja untuk saluran televisi oposisi Meydan, yang berbasis di Berlin dan dikenal sebagai kritikus vokal terhadap Pemerintah Azerbaijan.

Empat dari wartawan tersebut telah dijatuhi hukuman penjara selama empat bulan.

Aksi penangkapan massal ini dilakukan setelah pihak keamanan melakukan penggeledahan di rumah-rumah mereka, menyita ponsel, komputer, dan barang-barang pribadi lainnya. Mereka menghadapi tuduhan “penyelundupan”, yang di Azerbaijan dapat berujung pada hukuman penjara lima hingga delapan tahun.

Namun, para wartawan membantah keras tuduhan ini. Mereka menegaskan bahwa kasus ini hanyalah dalih Pemerintah untuk membungkam suara-suara kritis terhadap rezim Presiden Ilham Aliyev. Hingga kini, lebih dari 20 wartawan dan aktivis telah dipenjara atas tuduhan serupa.

Peningkatan Intimidasi terhadap Media Oposisi

Saluran televisi Meydan merilis pernyataan resmi setelah penangkapan ini, mengungkapkan bahwa para wartawan mereka dan keluarga mereka menjadi target intimidasi oleh otoritas Azerbaijan. Sebelum penangkapan, para wartawan ini dilaporkan dicegah keluar dari negara secara ilegal. Mereka juga berada di bawah pengawasan intensif melalui perangkat mata-mata Pegasus buatan Israel, yang diklaim digunakan oleh Pemerintah untuk memantau aktivitas mereka.

Menurut Meydan, serangkaian tindakan represif ini menunjukkan upaya sistematis Pemerintah untuk menghilangkan kritik terhadap kebijakan negara.

Terkait Kunjungan Pejabat AS

Gelombang penangkapan ini terjadi tak lama setelah kunjungan Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Joshua Huck ke Azerbaijan pada 6 Desember. Dalam kunjungannya, Huck bertemu dengan keluarga wartawan dan aktivis yang sebelumnya ditahan oleh Pemerintah.

Para pengamat menduga bahwa penangkapan ini adalah respons langsung Pemerintah Azerbaijan terhadap kritik internasional, khususnya dari Amerika Serikat, terhadap kebijakan represif mereka.

Penahanan Analis Politik dan Aktivis HAM

Penangkapan tidak hanya terbatas pada wartawan. Baru-baru ini, seorang analis politik dan Kepala Institut Manajemen Politik di Azerbaijan, Azar Qasumlu, juga ditangkap. Qasumlu dikenal sebagai pengkritik tajam kebijakan Pemerintah, baik dalam isu domestik maupun hubungan luar negeri.

Dalam wawancara sebelum penahanannya, Qasumlu menyatakan bahwa gelombang baru represi ini berkaitan dengan semakin eratnya hubungan Pemerintah Azerbaijan dengan Kremlin. Saat ini, ia tengah diperiksa sebagai saksi dalam beberapa kasus pidana, dan keputusan resmi atas status hukumnya diharapkan diumumkan dalam waktu dekat.

Selain Qasumlu, aktivis hak asasi manusia Rufat Safarov juga ditangkap pekan lalu. Safarov sejatinya dijadwalkan menerima penghargaan dari Menteri Luar Negeri AS atas dedikasinya di bidang hak asasi manusia. Menurut pengacaranya, Pemerintah Azerbaijan mengetahui rencana penghargaan tersebut dan menangkap Safarov untuk menggagalkan acara sekaligus menghukumnya.

Peningkatan Jumlah Tahanan Politik

Berdasarkan laporan Reporters Without Borders pada 2024, Azerbaijan berada di peringkat ke-164 dari 180 negara dalam hal kebebasan pers. Negara ini digolongkan sebagai “tidak bebas”, dengan laporan yang menyebutkan bahwa Presiden Ilham Aliyev telah menyingkirkan setiap bentuk pluralisme suara sejak 2014. Pada tahun tersebut, Azerbaijan memberlakukan undang-undang yang membatasi pendanaan dari luar negeri untuk organisasi masyarakat sipil dan media, memaksa lebih dari 50 organisasi internasional keluar dari negara itu.

Statistik terbaru dari Juni 2024 menunjukkan bahwa jumlah tahanan politik di Azerbaijan telah mencapai 303 orang. Ini adalah pertama kalinya sejak awal 2000-an jumlah tahanan politik melebihi angka 300, sebuah tanda semakin memburuknya situasi hak asasi manusia di negara tersebut.

Penindasan Sistematis

Gelombang terbaru penangkapan ini menegaskan pola represi sistematis yang dilakukan Pemerintah Azerbaijan terhadap suara kritis. Para pengamat internasional mendesak komunitas global untuk mengambil tindakan konkret dalam menanggapi pelanggaran hak asasi manusia yang semakin meningkat di negara ini. Sementara itu, keluarga para tahanan terus menyuarakan harapan agar tekanan internasional dapat membantu membebaskan mereka yang ditahan secara tidak adil.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *