300 Serangan Udara Israel ke Suriah dalam Dua Hari
POROS PERLAWANAN – Media-media pro Israel pada Selasa 10 Desember mengakui bahwa Angkatan Udara Israel telah melakukan 300 serangan udara terhadap Suriah dalam dua hari terakhir. Serangan ini menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur pertahanan dan militer Suriah, termasuk penghancuran pangkalan, radar, dan sistem pertahanan negara tersebut.
Serangan Skala Besar terhadap Suriah
Menurut laporan Fox News, Angkatan Udara Israel melancarkan 250 serangan udara dalam 48 jam terakhir. Namun, media Israel lainnya menyebutkan bahwa jumlah serangan mencapai 300 kali, termasuk serangan pada malam sebelumnya hingga dini hari.
Radio Militer Israel melaporkan bahwa dalam beberapa jam terakhir saja, lebih dari 100 serangan telah diluncurkan ke berbagai titik di dalam wilayah Suriah. Target serangan mencakup pangkalan militer, pusat sains, dan sistem radar di beberapa provinsi seperti Aleppo, Hama, dan Homs.
Kerusakan pada Infrastruktur Militer Suriah
Seiring melemahnya Pemerintahan Suriah akibat tekanan pemberontak bersenjata dan runtuhnya fondasi militer serta sistem pertahanan negara itu, Israel memanfaatkan situasi ini dengan meningkatkan serangan ke berbagai instalasi militer Suriah. Serangan tersebut mencakup bandara militer Sha’irat di Homs Timur dan beberapa situs militer di provinsi Raqqa.
Sementara laporan dari Al Mayadeen juga mengonfirmasi bahwa serangan Israel terus merusak infrastruktur pertahanan utama Suriah. Target lain termasuk instalasi militer strategis di provinsi Latakia dan Hasakah.
Invasi Darat dan Pendudukan Wilayah Suriah
Selain serangan udara, Israel dilaporkan melakukan agresi darat dengan menduduki sejumlah kota dan desa di perdesaan Damaskus.
Menurut laporan dari Al Mayadeen, pasukan Israel telah menguasai beberapa wilayah, termasuk Arnah, Buq’asm, Al-Raymah, Hineh, Qalaat Jandal, Al-Husseiniyah, dan Jita Al-Khashab.
Konsekuensi Geopolitik dan Ancaman Keamanan Regional
Serangan besar-besaran ini mencerminkan strategi Israel untuk melemahkan kemampuan Militer Suriah di tengah kekacauan internal negara itu. Namun, eskalasi ini berisiko memicu ketegangan lebih lanjut di kawasan Timur Tengah.
Penghancuran infrastruktur Militer Suriah tidak hanya memperburuk situasi domestik, tetapi juga membuka jalan bagi aktor-aktor asing lainnya untuk memperkuat pengaruh mereka. Invasi darat oleh Israel di beberapa wilayah Suriah menambah dimensi baru pada konflik ini, menunjukkan ambisi Israel untuk memperluas kontrol strategisnya.
Jika tren ini terus berlanjut, Suriah tidak hanya akan menghadapi kehancuran internal, tetapi juga risiko fragmentasi wilayah yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai kekuatan regional. Hal ini berpotensi mengubah Suriah menjadi medan konflik berkepanjangan yang berdampak buruk bagi stabilitas seluruh Kawasan.
