Loading

Ketik untuk mencari

Opini

[OPINI PUBLIK] Mengapa Tentara Zionis Aman dari Peluru ‘Mujahidin’ Suriah?

Ukraina Beri Sokongan Intelijen dan Teknologi kepada Kelompok-kelompok Teroris Suriah

POROS PERLAWANAN – Di tengah klaim perjuangan yang dilontarkan kelompok Takfiri Suriah, muncul kejanggalan yang sangat mencolok: bahwa mereka lebih sibuk memerangi sesama umat Islam daripada menentang Zionis-Israel yang terang-terangan menghancurkan kedaulatan Suriah. Ketika militer Zionis bebas melancarkan serangan dan melanjutkan strategi kolonialnya, kelompok-kelompok ini tampak abai, seolah peran mereka hanya untuk melemahkan Poros Perlawanan terhadap Israel dengan pekikan “Allahu Akbar!”

Mengapa Takfirisme Tidak Menargetkan Zionis?

Puluhan ribu pejuang Takfiri mengangkat senjata, mengepung Damaskus, dan menyerang berbagai wilayah Suriah. Namun, tak ada satu pun peluru yang diarahkan kepada Militer Zionis. Jika mereka benar-benar memperjuangkan Islam, bukankah Zionis-Israel—yang merebut tanah Palestina dan membantai ribuan warga sipil—seharusnya menjadi musuh utama mereka? Nyatanya, mereka justru memprioritaskan pertempuran melawan Iran, Suriah, dan Hizbullah, yang merupakan pilar Perlawanan terhadap Israel.

Fenomena ini hanya meninggalkan dua kemungkinan tidak lebih: apakah mereka benar-benar tidak peduli terhadap keadilan sejati, atau mereka sebenarnya adalah alat proksi dalam agenda imperialisme Barat yang bertujuan menghancurkan stabilitas Timur Tengah.

Jejak Sejarah: Pembunuhan Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi

Salah satu tragedi yang menunjukkan pola ini adalah pembunuhan ulama besar Sunni asal Suriah, Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi. Pada 21 Maret 2013, bom bunuh diri Takfiri meledak di Masjid Al Iman, Damaskus, menggugurkan Syaikh Al Buthi bersama 20 jemaah lainnya, serta melukai 40 orang.

Syaikh Al Buthi dikenal sebagai ulama yang dihormati lintas kalangan. Meski mendukung Presiden Bashar Assad saat konflik berlangsung, pandangannya tidak semata-mata politik. Ia dihormati karena pendekatan toleran terhadap perbedaan pandangan keagamaan, dakwah yang ikhlas, serta pemikiran yang mendalam dalam hukum Islam. Sebagai seorang sufi, kontribusinya diakui di Suriah dan negara lain, termasuk Indonesia.

Namun, bagi kelompok Takfiri, figur seperti Syaikh Al Buthi adalah ancaman. Ironisnya, kelompok yang mengeklaim berjihad demi keadilan ini tak pernah sekalipun menyentuh tentara Zionis atau sekutunya. Justru, mereka memilih menargetkan elemen-elemen internal yang mempertahankan kedaulatan bangsa mereka sendiri. Pertanyaan mendasarnya adalah, “Apakah mereka pernah membunuh satu saja tentara Zionis?” Tidak! Mereka hanya pandai membunuh ulama, saudara Muslim, dan rakyat tak berdosa.

Mengapa Zionis dan Barat Mendukung Takfirisme?

Pertanyaan penting muncul: siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh aksi kelompok-kelompok Takfiri? Jawabannya jelas: Zionis-Israel dan kekuatan Barat. Strategi klasik “divide and conquer” digunakan untuk melemahkan kawasan Timur Tengah. Dengan mengalihkan fokus kelompok Takfiri untuk menyerang Poros Perlawanan, Zionis dan Barat berhasil memastikan stabilitas kepentingan geopolitik mereka.

Hasilnya nyata. Suriah, yang dahulu menjadi benteng perlawanan terhadap Israel, kini terpecah-belah oleh perang saudara. Di sisi lain, Israel bebas menyerang wilayah Suriah dan menghancurkan infrastruktur vital tanpa hambatan berarti. Sementara itu, kelompok Takfiri terus menyerukan jihad, tetapi arah perjuangan mereka justru memperkuat agenda Zionis dan Barat.

Konsekuensi dan Tanggung Jawab Moral

Dalam situasi ini, muncul pertanyaan tentang kesadaran anggota kelompok Takfiri terhadap peran mereka. Jika mereka benar-benar berjuang atas nama Islam, mengapa mereka tidak melawan penjajahan Zionis atas Palestina? Mengapa senjata mereka diarahkan kepada umat Islam yang menentang ideologi mereka, bukan kepada musuh bersama yang sebenarnya?

Dunia Islam dan komunitas internasional memiliki tanggung jawab besar untuk mengekspos narasi keliru ini. Kelompok Takfiri bukan hanya ancaman bagi Suriah, melainkan juga instrumen yang digunakan untuk memecah-belah umat Islam dan melayani agenda kekuatan global.

Perlawanan yang Sejati

Konflik di Suriah bukan sekadar perang saudara; ini adalah pertarungan antara dua visi masa depan: satu yang mempertahankan kedaulatan dan keadilan, dan satu lagi yang menghancurkan stabilitas demi ambisi geopolitik. Kelompok Takfiri, dengan klaim jihad mereka, telah menunjukkan bahwa mereka bukanlah pejuang Islam sejati, melainkan alat imperialisme.

Untuk menghentikan tragedi ini, umat Islam—baik Sunni maupun Syiah—harus bersatu melawan taktik “divide and conquer” yang dimainkan oleh Zionis dan Barat. Hanya dengan persatuan ini, umat Islam dapat melindungi kedaulatan, keadilan, dan masa depan Timur Tengah serta dunia Islam. [PP/MT]

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *