Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Aksi Barat Memoles Citra Al-Jolani, HTS, dan Peluang ‘Hubungan Menantang’ Suriah Baru dengan Iran

Russia Today Sindir Barat: Al-Jolani Sudah Jadi ‘Moderat’

POROS PERLAWANAN – Perang di Suriah telah memasuki babak baru dengan pelengseran rezim Bashar al-Assad yang dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS), di bawah komando Mohammad al-Jolani. Perubahan kekuasaan ini tidak hanya mengubah dinamika konflik, tetapi juga memunculkan tantangan geopolitik yang kompleks, khususnya hubungan dengan Iran dan negara-negara besar lainnya. Artikel ini berusaha mengeksplorasi bagaimana HTS, kelompok yang memiliki akar dalam ekstremisme dan Takfirisme, mencoba menata ulang citra dan posisinya di panggung internasional.

HTS dan Kebangkitan di Suriah

HTS, yang terbentuk pada 2017 setelah al-Jolani memutus hubungan dengan al-Qaeda, telah menjadi aktor dominan dalam konflik Suriah. Kelompok ini memanfaatkan kelemahan dan problem mental pasukan Assad di Aleppo utara dalam serangan yang melibatkan koalisi kelompok bersenjata beragam. Dalam waktu singkat, mereka berhasil merebut wilayah strategis dan menggulingkan Assad, yang kini dilaporkan mencari suaka di Rusia.

Kemenangan ini menyoroti pergeseran kekuasaan yang didukung oleh penggunaan senjata canggih buatan AS dan Turki, memunculkan dugaan keterlibatan Barat dalam mendukung operasi HTS. Al-Jolani, yang sebelumnya menjadi target hadiah $10 juta dari AS, kini tampil di media Barat sebagai pemimpin moderat yang ingin membangun Suriah inklusif.

Pergeseran Narasi Barat

Salah satu aspek menarik adalah bagaimana media-media Barat menggambarkan transformasi al-Jolani. Sebelumnya dikenal sebagai pemimpin teroris, kini ia muncul sebagai tokoh yang menyerukan pluralisme dan perdamaian. Narasi ini memicu pertanyaan besar tentang motivasi politik di balik perubahan persepsi tersebut, terutama mengingat keterlibatan langsung senjata Barat dalam konflik terbaru ini.

Namun, tantangan besar justru ada dalam tubuh faksi-faksi kelompok Takfiri ini. Kendati HTS telah merebut kekuasaan, mereka menghadapi struktur koalisi yang terdiri dari kelompok beragam ideologi yang membuat stabilitas Pemerintahan baru menjadi sulit diwujudkan.

Hubungan dengan Iran: Antagonisme dan Peluang

Selain ujian faktor internal, faktor ujian eksternal besar bagi HTS adalah membangun hubungan dengan Republik Islam Iran, yang selama ini menjadi pendukung utama Assad. Al-Jolani sering melontarkan kritik tajam terhadap Iran, menyebutnya sebagai aktor destabilisasi di Suriah dan Kawasan. Namun, Jolani menghindari komentar serupa tentang Israel, yang menimbulkan spekulasi tentang afiliasinya dengan kepentingan Barat.

Iran, melalui penasihat militernya, memainkan peran penting dalam memerangi kelompok teroris Takfiri seperti ISIS di Suriah. Dengan demikian, hubungan Iran-HTS akan menentukan keberlanjutan stabilitas di wilayah tersebut. Seorang analis Kawasan, Mohammad Reza Moradi, mengatakan bahwa untuk mendapatkan pengakuan regional, HTS harus menunjukkan perubahan sikap terhadap Iran, mirip dengan upaya Taliban yang mencoba mereformasi citra mereka setelah mengambil alih kekuasaan di Afghanistan.

Tantangan Internal dan Regional

Koalisi yang dipimpin HTS mencakup berbagai kelompok dengan ideologi dan agenda berbeda. Hal ini menimbulkan risiko fragmentasi dalam Pemerintahan baru. Selain itu, HTS harus menghadapi keraguan internasional terkait kredibilitasnya dalam memimpin Suriah yang inklusif. Dukungan masyarakat internasional, termasuk negara-negara regional seperti Iran, akan bergantung pada kemampuan HTS untuk meninggalkan masa lalu ekstremisme dan Takfirismenya.

Transformasi Suriah pasca-kejatuhan Assad adalah momen bersejarah yang membuka peluang sekaligus tantangan. HTS, di bawah al-Jolani, menghadapi ujian besar dalam membangun legitimasi domestik dan internasional. Keberhasilan mereka bergantung pada kemampuan untuk mengatasi perpecahan internal, mengubah hubungan dengan aktor regional seperti Iran, dan membuktikan bahwa mereka tidak lagi menjadi ancaman bagi stabilitas global.

Sebagai catatan, meskipun narasi Barat tentang al-Jolani mengalami pergeseran, skeptisisme tetap diperlukan untuk menilai komitmen HTS terhadap reformasi dan perdamaian jangka panjang. Situasi ini terus berkembang dengan cepat, dan analisis lebih lanjut sangat diperlukan seiring dengan munculnya fakta-fakta baru di lapangan. [PP/MT]

Rujukan:

1. The New Arab: Who is Abu Mohammed al-Jolani, the leader of Syria’s rebel offensive?

2. The Jerusalem Post: Syrian rebel leader claims group wants to end Assad regime, see foreign forces withdraw – interview

 

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *