Ilusi Erdogan Bangun Dongeng Kejayaan dan Kebangkitan Kekaisaran Ottoman
POROS PERLAWANAN – Di tengah gejolak politik di Suriah, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tampak tenggelam dalam orgasme Kekaisaran Ottoman. Dengan retorika yang dibalut romantisme sejarah, ia berupaya menampilkan Turki sebagai pewaris sah tahta kejayaan imperial masa lampau. Di balik pesona nostalgia itu, tersembunyi ambisi melampaui ilusi daripada visi yang realistis.
Dalam salah satu pidato penuh semangatnya di konferensi Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), Erdogan dengan percaya diri menyebut wilayah seperti Aleppo, Damaskus, dan Raqqa sebagai “provinsi yang hilang.” Alih-alih mencerminkan strategi geopolitik yang cerdas, ucapan ini lebih menyerupai lamunan seorang politisi yang terjebak pada glorifikasi sejarah. Dunia abad ke-21, sayangnya, tidak mengenal peta politik yang digambar dengan pena nostalgia.
Neo-Ottomanisme: Sebuah Fantasi Politik
Obsesi Erdogan untuk menghidupkan kembali semangat Ottoman tidak lebih dari alat politik domestik. Dunia modern—dengan segala kompleksitas globalnya—tidak menyediakan panggung bagi klaim-klaim historis seperti itu. Negara-negara di kawasan, meski sedang dalam situasi konflik, tetaplah entitas berdaulat yang tidak mungkin tunduk pada lamunan imperial ala Erdogan.
Narasi “Turki yang kuat” sebenarnya lebih ditujukan untuk meredam tekanan domestik yang kian menghimpit. Di tengah inflasi yang menggila dan merosotnya kepercayaan publik, Erdogan tampaknya telah menemukan formula klasik: alihkan perhatian dengan cerita kejayaan masa lalu. Sayangnya, yang ia abaikan adalah kenyataan bahwa rakyat Turki tidak bisa hidup hanya dengan cerita; mereka butuh solusi nyata atas masalah ekonomi dan sosial.
Suriah: Simbol Kekalahan Strategis Erdogan
Jika ada ironi yang paling menonjol dalam kebijakan Erdogan, itu adalah obsesinya terhadap Suriah. Setelah bertahun-tahun mendukung kelompok-kelompok teroris bersenjata untuk menggulingkan Pemerintahan Bashar al-Assad, Erdogan kini memandang Suriah sebagai “wilayah yang layak dikelola” oleh Turki. Langkah ini bukan hanya tidak realistis, tetapi juga mengisyaratkan kegagalan besar dalam strategi geopolitiknya.
Dukungan Turki terhadap kelompok-kelompok ekstremis Takfiri justru memperburuk situasi di kawasan. Alih-alih memperkuat posisi Turki, pendekatan ini hanya menciptakan aktor-aktor baru yang sulit dikendalikan, seperti Abu Mohammad al-Jolani dari Hay’at Tahrir al-Sham. Jolani, dengan janji bombastisnya, kini tampil layaknya pemimpin alternatif di Suriah, sebuah bukti bahwa kebijakan Erdogan justru melahirkan kekacauan baru.
Neo-Ottomanisme: Peluang yang Disia-siakan
Penarikan sebagian pasukan Rusia dari Suriah sebenarnya membuka peluang bagi Turki untuk mengambil langkah diplomasi yang lebih konstruktif. Namun, bukannya memanfaatkan momen tersebut, Erdogan memilih untuk memperkuat delusi neo-Ottomanismenya. Alih-alih menyelesaikan konflik, Erdogan justru terus memupuk ilusi imperial yang mengisolasi Turki di panggung internasional.
Erdogan: Sultan Modern atau Pemimpin yang Terjebak Masa Lalu?
Erdogan mungkin ingin dikenang sebagai ‘Sultan Modern’ yang membangkitkan kejayaan Ottoman, tetapi kenyataannya, ia semakin tenggelam dalam mimpi utopis yang justru mempermalukan Turki di mata dunia. Ambisinya tidak hanya menciptakan jurang dalam negeri tetapi juga menjauhkan Turki dari komunitas internasional.
Seperti pernah disindir oleh Necmettin Erbakan, mantan Perdana Menteri Turki: “Erdogan adalah anggur masam yang kami harapkan menjadi anggur manis. Tapi kini ia hanya menjadi anggur memabukkan.” Sebuah satire tajam yang mencerminkan seorang pemimpin yang terlalu sibuk mengejar bayangan masa lalu hingga melupakan tugas utamanya: mempersiapkan dan membangun masa depan untuk peradaban manusia. [PP/MT]
