Mengapa Jolani Lucuti Senjata Perlawanan Palestina dan Malah Diamkan Agresi Israel di Suriah?
POROS PERLAWANAN – Surat kabar Rai al-Youm pada Minggu 15 Desember menurunkan laporan yang mengkritik keras keputusan kelompok Takfiri bersenjata Suriah yang dipimpin oleh Tahrir al-Sham untuk melucuti senjata kelompok Perlawanan Palestina di Suriah. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa Palestina tidak pernah menjadi prioritas, baik di masa lalu maupun masa kini, bagi penguasa baru Suriah itu.
Langkah Takfiri Melawan Kelompok Palestina
Laporan terbaru menyebutkan bahwa Tahrir al-Sham telah melucuti dan menyita senjata-senjata kelompok Perlawanan Palestina yang berada di Suriah, menutup kamp pelatihan mereka, dan membatalkan seluruh aktivitas cabang militer kelompok tersebut. Keputusan ini diumumkan dalam sebuah pertemuan antara salah satu pemimpin senior Tahrir al-Sham dan perwakilan Kelompok Palestina. Namun, pertemuan itu tidak melibatkan perwakilan dari dua organisasi besar Palestina, yakni Fatah dan Hamas.
Menurut Rai al-Youm, keputusan ini sebenarnya tidak mengejutkan. Namun, yang menjadi perhatian adalah cepatnya keputusan ini diambil, menunjukkan bahwa menghadapi kelompok Perlawanan Palestina menjadi prioritas utama Takfiri bersenjata. Bahkan, prioritas ini dianggap lebih mendesak dibandingkan banyak isu internal Suriah lainnya, termasuk perlawanan terhadap Israel.
Pernyataan Abu Muhammad al-Jolani
Pemimpin Tahrir al-Sham, Abu Muhammad al-Jolani, yang juga dikenal sebagai Ahmed al-Shar’a, baru-baru ini menyatakan bahwa kelompoknya tidak berniat untuk memerangi rezim Zionis Israel. Pernyataan ini muncul di tengah keberhasilan kelompoknya menguasai sejumlah wilayah strategis, termasuk Hama, Homs, dan akhirnya Damaskus, tanpa menghadapi perlawanan berarti dari pasukan Pemerintah Suriah.
Namun, segera setelah jatuhnya Pemerintahan Suriah, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di seluruh negeri. Jet tempur Israel menghancurkan sejumlah fasilitas strategis, termasuk Pangkalan Militer, bandara, dan infrastruktur penting lainnya. Pada saat yang sama, pasukan darat Israel bergerak maju ke wilayah Quneitra dan sekitar Damaskus, serta menguasai sejumlah desa.
Fokus yang Salah dari Takfiri Suriah
Rai al-Youm mempertanyakan keputusan Takfiri yang lebih memprioritaskan melucuti senjata kelompok Perlawanan Palestina dibandingkan menghadapi ancaman nyata dari agresi Israel. Padahal, serangan Israel dalam beberapa hari terakhir telah menargetkan hampir seluruh elemen kekuatan militer Suriah, termasuk pelabuhan, pabrik senjata, dan pangkalan rudal. Namun, penguasa baru Suriah itu tampak tidak memberikan perhatian sama sekali terhadap serangan tersebut.
Ketika Perdana Menteri baru Suriah terlihat salat di Masjid Umayyah di Damaskus, pemukim Israel di Dataran Tinggi Golan merayakan perampasan wilayah baru di Suriah. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat Arab dan bahkan Israel: mengapa Takfiri Suriah memilih diam terhadap pelanggaran terang-terangan yang dilakukan Israel?
Kritik Dunia Internasional
Bahkan serangan Israel di Suriah telah memicu kecaman dari sejumlah negara, termasuk Iran, Mesir, UEA, Yordania, Kuwait, dan Irak. Namun, kecaman ini tidak menghentikan ambisi Israel untuk memperluas wilayah pendudukan mereka, yang terus dilakukan tanpa mengindahkan peringatan internasional.
Sinyal kepada Israel dan Barat
Rai al-Youm menilai bahwa keputusan Tahrir al-Sham terhadap kelompok Perlawanan Palestina sebenarnya merupakan pesan kepada Israel, Amerika Serikat, dan negara-negara Barat. Pesan tersebut menunjukkan bahwa penguasa baru Suriah memiliki sikap yang berbeda terhadap Palestina dibandingkan Pemerintahan sebelumnya. Dengan alasan bahwa kelompok Perlawanan Palestina ini terkait dengan Pemerintah sebelumnya dan Tahrir al-Sham mencoba menghapus asosiasi mereka dengan kelompok ekstrem seperti ISIS, sambil menciptakan citra baru untuk diri mereka sendiri.
Namun, keputusan ini dinilai tidak akan membawa perubahan bagi Perjuangan Palestina. Sebaliknya, ini mempertegas bahwa Palestina tidak pernah menjadi bagian dari agenda kelompok teroris Takfiri seperti Tahrir al-Sham.
Prioritas yang Keliru
Rai al-Youm menutup laporannya dengan memberikan catatan bahwa tindakan Tahrir al-Sham adalah langkah yang tergesa-gesa dan sangat tidak strategis. Di tengah serangan besar-besaran Israel, mereka seharusnya memfokuskan upaya untuk menghadapi agresor eksternal, bukan melawan kelompok Perlawanan Palestina. Keputusan ini tidak hanya menunjukkan ketidakpedulian terhadap Palestina tetapi juga menghilangkan harapan akan adanya perubahan positif terkait isu Palestina di masa mendatang.
