Mayor Jenderal Salami: Rakyat Suriah Kini Memahami Pentingnya Para Pejuang Perlawanan
POROS PERLAWANAN – Komandan Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), Mayor Jenderal Hossein Salami, menyatakan bahwa rakyat Suriah kini menyadari betapa pentingnya Perlawanan, khususnya peran para pejuang perlawanan dalam menjaga keutuhan dan kehormatan bangsa mereka. “Rakyat Suriah memahami bahwa tanpa para pejuang perlawanan, negara mereka dapat dengan mudah jatuh ke tangan musuh, dan bencana besar akan menimpa mereka,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara penutupan “Biennale Ketiga Penghargaan Jenderal Syahid Haj Qassim Soleimani”, yang digelar di Museum Nasional Revolusi Islam dan Pertahanan Suci pada Minggu 15 Desember di Tehran. Acara ini juga dihadiri berbagai tokoh, termasuk Mayor Jenderal Salami.
Sejarah dan Identitas Bangsa
Dalam pidatonya, Salami menegaskan bahwa identitas dan karakter suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dari sejarahnya. Ia menyebutkan, kehormatan, martabat, dan karakter sebuah negara berasal dari serangkaian peristiwa, perjuangan heroik, tragedi, dan peran besar tokoh-tokoh yang membentuk bangsa tersebut.
“Hakikat sebuah bangsa tidak terpisah dari sejarahnya. Kita masih memiliki hubungan yang dalam dengan sejarah Islam dan Iran, baik yang jauh maupun yang dekat. Tragedi Karbala, misalnya, hadir dalam semua aspek kehidupan kita sebagai identitas hidup yang menjadi sumber nilai, kebajikan, dan cita-cita,” kata Salami.
Pentingnya Pemimpin Besar
Mayor Jenderal Salami juga menyoroti peran Pemimpin dalam melewati masa-masa sulit. Menurutnya, untuk menghadapi tantangan besar, suatu bangsa membutuhkan pemimpin besar yang jiwa, kebajikan, dan cita-citanya melekat dalam setiap individu masyarakat. “Pemimpin yang sejati dapat mengilhami rakyatnya, membimbing mereka menuju keteguhan, dan menghadirkan kemenangan,” tambahnya.
Ia juga menekankan, ketahanan suatu bangsa tidak semata-mata bergantung pada kekuatan fisik atau perangkat keras, tetapi pada keyakinan, kepercayaan, dan identitas spiritual rakyatnya. “Keteguhan hati dan imanlah yang menjadi landasan utama perjuangan dan keberlanjutan,” jelasnya.
Perang, Kejatuhan, dan Keabadian
Salami mengingatkan, perang selalu dirancang untuk menghapus keberadaan suatu bangsa. Jika tidak ada tokoh besar yang mampu menghalangi musuh dan menggerakkan rakyat untuk menciptakan kejayaan, bangsa tersebut dapat hancur dan hilang dari peta sejarah.
“Tidak ada jalan lain bagi sebuah bangsa selain berdiri melawan ancaman. Sejarah penuh dengan contoh kebangkitan dan kejatuhan bangsa-bangsa. Keputusan sebuah bangsa untuk memilih jalur sejarah yang benar adalah kunci keberlanjutan mereka,” katanya.
Ia juga menyoroti konsep Syahid (Kesyahidan) sebagai simbol keabadian. “Syahid bukan sekadar individu yang dikenang. Kesyahidan menciptakan dampak abadi berupa kehormatan, keteguhan, dan martabat. Logika Karbala adalah tentang mencintai keabadian melalui pengorbanan. Imam Husain (a.s) sendiri adalah pecinta keabadian,” ungkapnya.
Pelajaran dari Suriah
Menyinggung situasi di Suriah, Salami menyatakan bahwa rakyat kini menyadari betapa pentingnya kehadiran para pejuang perlawanan. “Rakyat di Damaskus memahami bahwa selama ada pejuang perlawanan, mereka hidup dengan penuh kehormatan. Namun, jika mereka tiada, rakyat akan menghadapi kehancuran besar,” tegasnya.
Ia menggambarkan bagaimana Suriah hampir jatuh ke tangan kekuatan asing, dengan Zionis menguasai wilayah selatan, kekuatan lain di utara, dan rakyat di tengah menghadapi ketidakpastian dan penderitaan. “Ini adalah pelajaran pahit yang harus kita renungkan, sebagaimana pelajaran besar dari pengalaman Defa-e-Moqaddas (Perang Pertahanan Suci),” katanya.
Kepemimpinan dan Keteguhan dalam Jihad
Salami memuji kepemimpinan yang mampu mengilhami rakyat untuk bertahan melawan kekuatan musuh. Ia menyoroti pentingnya memahami nilai besar kepemimpinan revolusioner, yang tetap teguh berdiri di tengah segala ancaman dan hanya bergantung pada kekuatan ilahi.
“Kepemimpinan yang sejati tidak takut pada kekuatan duniawi dan mampu mematahkan setiap rencana agresif musuh. Di bawah kepemimpinan seperti ini, kita menyadari bahwa kita memiliki kekayaan yang luar biasa,” tambahnya.
Komitmen Iran di Suriah
Salami menegaskan, kehadiran Iran di Suriah bukan untuk mengejar kepentingan material, tetapi untuk melindungi kehormatan umat Islam. “Kami tidak datang untuk mencaplok tanah mereka atau mengejar keuntungan. Kami hadir untuk memastikan bahwa kehormatan umat Islam tidak direndahkan,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan, setelah Suriah hampir runtuh, bencana besar mulai terlihat. “Zionis bahkan dapat mengamati kehidupan rakyat di Damaskus dengan mata telanjang. Ini adalah situasi yang tidak dapat diterima,” katanya dengan tegas.
Dunia Islam dan Jihad
Di akhir pidatonya, Salami menekankan dunia Islam saat ini adalah medan Jihad, dan kebahagiaan umat Islam hanya dapat dicapai melalui perjuangan. “Kita akan terus membela keamanan, kemerdekaan, dan martabat bangsa ini. Tanah ini adalah tanah para pejuang, di mana tidak ada ruang untuk campur tangan asing,” pungkasnya.
