Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Wawancara dengan Anggota Parlemen Hizbullah: Antara Perlawanan, Pengorbanan, dan Diplomasi

POROS PERLAWANAN – Dalam wawancara ini (17/12/24), narasumber primer Hasan Fadlallah, selaku anggota parlemen Hizbullah yang memiliki hubungan erat dengan Sayyid Hasyim Safiuddin, dikenal dekat dengan Syahid Sayyid Hasan Nasrallah (SHN), dan menikah dengan seorang keturunan Nabi dari marga Al-Faqih, mengungkapkan pandangannya tentang situasi terkini, khususnya dalam konteks pertempuran dengan Israel dan kondisi internal partainya.

Berikut adalah ringkasan utama dari pernyataannya:

Fadlallah secara terbuka mengakui bahwa Hizbullah telah mengalami kerugian signifikan, baik dalam hal Pemimpin yang gugur maupun kerugian material lainnya. Namun, ia menegaskan kerugian ini tidak dapat dianggap sebagai kekalahan. Bagi Hizbullah, kehilangan Pemimpin dan dampak lainnya justru menjadi motivasi untuk melawan lebih keras. Fadlallah menggambarkan kematian para Pemimpin sebagai bagian dari Syahadah.

Dalam wawancara yang disiarkan di Televisi al-Jadeed yang banyak ditonton oleh pemirsa Kristen, Fadlallah menggambarkan Kesyahidan para Pemimpin seperti Syahid Sayyid Hasan Nasrallah dengan perbandingan terhadap pengorbanan Nabi Isa (a.s). Ia bertanya kepada presenter, “Apakah Anda mengira Nabi Isa kalah atau tak berdaya?” Ketika presenter menjawab tidak, Fadlallah menegaskan bahwa pengorbanan para Pemimpin Hizbullah juga dianggap sebagai Penyelamatan. Tanpa pemimpin-pemimpin seperti SHN, komunitas ini mungkin sudah menyerah dan kehilangan motivasi untuk melanjutkan perjuangan.

Fadlallah menjelaskan taktik Perlawanan yang efektif dengan membandingkan antara situasi terkini dan peristiwa pada 1982, ketika Israel berhasil menembus Beirut. Para pejuang yang dahulu berperang melawan Israel di Beirut seperti Imad Mughniyah, Mustafa Badruddin, Fuad Syukr, dan lainnya—yang gugur dalam beberapa dekade terakhir maupun dalam serangan Israel baru-baru ini—telah mewariskan taktik Perlawanan kepada murid-murid mereka. Generasi penerus ini mampu menghalangi musuh di perbatasan dan menghancurkan banyak target Israel. Meskipun pencapaian-pencapaian ini mungkin tidak dianggap sebagai kemenangan oleh pihak-pihak lain, bagi Hizbullah, fakta-fakta ini tetap dianggap sebagai bentuk kemenangan yang nyata.

Fadlallah mengonfirmasi kesulitan luar biasa yang dihadapi masyarakat di selatan Lebanon, namun ia menekankan bahwa meskipun mengalami penderitaan besar dan pengungsian massal, masyarakat di wilayah ini menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Kehadiran Hizbullah di sana menjadi simbol keberanian dan ketahanan, bahkan banyak pengungsi yang secara terbuka mengungkapkan keinginan untuk segera kembali ke rumah mereka dan merasakan “harumnya darah Syuhada” yang mengaliri rumah-rumah serta kebun-kebun mereka.

Fadlallah juga membahas keputusan untuk mengambil langkah diplomatik, termasuk Gencatan Senjata, yang meskipun dianggap penting, tetap kontroversial. Ia menegaskan bahwa meskipun ada perbedaan pandangan mengenai langkah tersebut, Hizbullah tetap berpegang pada prinsip-prinsip perjuangan yang mampu membangun konsensus. Ia menambahkan bahwa Resolusi PBB 1701 telah disetujui dan dijalankan oleh Hizbullah, sementara Israel adalah pihak yang mengingkari dan melanggarnya.

Fadlallah menjelaskan bahwa sejak 7 Oktober 2023, mentalitas Israel telah berubah drastis karena mereka merasakan adanya ancaman eksistensial. Sebelumnya, konsep deterensi Hizbullah terhadap Israel masih berlaku, tetapi kini situasi tersebut tidak lagi relevan. Dia menekankan bahwa Front Dukungan terhadap Gaza memberikan keuntungan strategis bagi Hizbullah, karena dengan mendukung Gaza, Hizbullah menjadi lebih siap menghadapi Israel. Ia yakin bahwa jika Hizbullah tidak bertindak dan Gaza benar-benar dihancurkan, Israel akan semakin termotivasi untuk menyerang Hizbullah. Setelah kehancuran Gaza, motivasi Israel untuk menyerang Hizbullah akan jauh lebih brutal, karena mereka akan merasa bisa dengan mudah memenangkan perang.

Fadlallah membandingkan situasi tersebut dengan apa yang terjadi di Suriah, di mana meskipun tentara Suriah tidak menjadi ancaman langsung, Israel tetap mencaplok wilayah strategis di pegunungan Syaikh dekat Damaskus. Saat ini, Israel menempatkan tentaranya hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari Ibu Kota sekaligus menguasai Dataran Tinggi strategis yang memungkinkan mereka memonitor pergerakan di seluruh wilayah Suriah.

Fadlallah juga mengungkapkan setelah Hizbullah berhasil membuka Front Dukungan bagi kelompok-kelompok Perlawanan di Gaza, Israel melancarkan berbagai operasi intelijen, termasuk peledakan jaringan komunikasi internal Hizbullah dan pembunuhan hampir seluruh pemimpin level pertamanya. Namun, di tengah tekanan ini, Hizbullah berharap Israel jatuh dalam jebakan mereka dengan melancarkan invasi darat. Ketika invasi darat ini terjadi, Perlawanan Hizbullah ternyata jauh lebih kuat dari yang diperkirakan Israel, dan berhasil mengembalikan keseimbangan deterensi.

Saat ini, ketika gelombang kembalinya pengungsi warga Lebanon selatan dimulai, pengungsi di wilayah utara Israel masih belum berani memasuki wilayah-wilayah Pendudukan yang berbatasan dengan Lebanon.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *