Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Siapakah ‘Sinwar 2’, Tawanan Palestina yang Pembebasannya Bikin Israel Khawatir?

Siapakah ‘Sinwar 2’, Tawanan Palestina yang Pembebasannya Bikin Israel Khawatir?

POROS PERLAWANAN – Dinukil al-Alam dari Sama News, di saat berbagai forum publik Zionis membicarakan potensi kesepakatan pertukaran tawanan Israel dengan tawanan Palestina, seorang petinggi Israel menyoroti nama seorang tahanan Palestina yang dijatuhi hukuman penjara lama oleh Rezim Zionis. Petinggi tersebut memperingatkan bahwa jika tahanan itu dibebaskan, ia bisa menjadi pemimpin baru orang-orang Palestina, sama seperti Yahya Sinwar.

Mengutip dari Kepala Penghimpunan Informasi di Unit Intelijen Badan Penjara Israel, David Harari, harian Maariv menulis,”Salah satu tokoh terkemuka Hamas adalah Ibrahim Hamed, yang merupakan komandan sayap militer Hamas di Tepi Barat dalam Intifada II. Hamed telah mendapatkan puluhan vonis hukuman seumur hidup.”

Harari juga menyinggung tahanan Palestina lain bernama Abbas al-Sayyid. Warga Tulkarem tersebut memimpin serangan ke hotel Park di Nataniya. Tahanan lainnya adalah Hassan Salamah dari Gaza, yang bertanggung jawab atas serangan besar-besaran di Quds pada dekade 90. Juga ada Muhammad Arman, yang terlibat dalam serangan ke sebuah kafe di Quds.

Adapun dari faksi Fatah, nama yang disebut adalah Marwan al-Barghouthi, yang merupakan tokoh ikonik di tengah masyarakat Palestina. Juga ada Naser Auf dari Nabulus, yang merupakan figur menonjol di era Intifada II.

Berdasarkan statistik Badan Penjara Israel, saat ini ada sekitar 10 ribu tahanan ‘keamanan’ Palestina di berbagai penjara Israel. 40 persen dari mereka berasal dari Fath, 40 persen lainnya dari Hamas, dan sekitar 10 persen berafiliasi kepada Jihad Islam. Sementara sisanya adalah anggota Front Rakyat dan Front Demokratik Pembebasan Palestina.

Harari menyingggung perubahan situasi di dalam penjara-penjara Israel dan pemberlakuan pembatasan ketat terhadap para tahanan Palestina. Ia mengatakan,”Setelah Operasi 7 Oktober, terjadi perubahan dramatis. Kami memisahkan para tahanan satu sama lain. Kami membuat mereka tidak bisa menghimpun kekuatan di dalam penjara, juga membuat mereka tidak mampu bertukar pesan. Kami juga membuat mereka tidak bisa membimbing para tahanan lain dan mengelola proses kepemimpinan dan pemilihan di dalam penjara.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *