Pemimpin Revolusi Islam Ajak Umat Kristiani Ciptakan Dunia Lebih Adil dan Spiritual
POROS PERLAWANAN – Dalam artikel yang diterbitkan oleh Tasnim News Agency pada Kamis 26 Desember, Mohsen Saleki menulis catatan tentang pesan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei terkait perayaan kelahiran Isa Al-Masih dan Tahun Baru Masehi.
Berikut adalah kutipan pesan Pemimpin Revolusi Islam:
“Jika Nabi Isa Al-Masih (a.s.) berada di tengah-tengah kita hari ini, ia tidak akan menyia-nyiakan sedetik pun untuk melawan para pemimpin kezaliman dan arogansi global. Ia juga tidak akan menoleransi kelaparan dan keterasingan miliaran manusia yang dieksploitasi oleh kekuatan besar, diarahkan pada perang, korupsi, dan permusuhan.
Saya berharap, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dunia, upaya tulus para pemimpin pengetahuan agama, serta kebangkitan hati nurani yang tertidur, umat manusia dapat menyongsong Abad Baru yang berorientasi pada spiritualitas dan nilai-nilai agama. Dunia, sebagaimana telah menyaksikan kehancuran pemerintahan-pemerintahan Marxis, juga akan menyaksikan runtuhnya seluruh fondasi kezaliman dan arogansi.”
Pesan tersebut mengkritik penyimpangan dunia Kristen dari nilai-nilai asli yang diajarkan oleh Nabi Isa (a.s.) dan mengingatkan pentingnya kesadaran serta kebangkitan hati nurani umat manusia.
Pernyataan “Jika Nabi Isa (a.s.) berada di tengah-tengah kita hari ini…” merujuk pada akar keyakinan Mesianis dalam Kekristenan, sekaligus memberikan kritik terhadap keheningan sebagian masyarakat Barat atas sistem global yang menindas dan kapitalisme tanpa batas.
Kekristenan dan Spirit Perlawanan dalam Sejarah
Secara historis, Kekristenan awal berakar pada perlawanan terhadap kezaliman dan penyerahan diri kepada Tuhan. Nabi Isa (a.s.) sendiri melawan kekaisaran besar yang zalim dan menanggung penderitaan dengan keikhlasan iman. Setelah wafatnya, para rasul melanjutkan perjuangan tersebut meskipun menghadapi berbagai kesulitan.
Santo Paulus (Paulus dari Tarsus) menjadi tokoh penting dalam penyebaran Kekristenan. Ia harus menghadapi penganiayaan besar hingga akhirnya dieksekusi oleh Kekaisaran Romawi. Dalam ajarannya, Paulus sering menekankan pentingnya melawan kezaliman, menerima penderitaan dengan ikhlas, serta menjaga kesinambungan iman.
Namun, tradisi ini kemudian mengalami perubahan. Gereja perlahan-lahan menjadi pasif terhadap kezaliman, bahkan terlibat dalam sistem penindasan.
Pada abad ke-16, Martin Luther mendirikan Protestanisme yang mempercepat adaptasi Kekristenan dengan kapitalisme. Dalam doktrinnya, ia menolak perlawanan terhadap pemerintah dengan alasan bahwa setiap kebijakan pemerintah adalah kehendak Tuhan yang harus dipatuhi. Akibatnya, konsep penyerahan kepada Tuhan bergeser menjadi penyerahan kepada negara.
Selain itu, Luther juga menyesuaikan doktrin gereja dengan praktik riba yang dilakukan oleh sejumlah pedagang Yahudi kaya, sehingga menciptakan perpecahan dalam Kekristenan. Hal ini mengakibatkan kemerosotan spiritual yang memengaruhi masyarakat Katolik di Barat.
Relevansi dengan Kondisi Modern
Pemimpin Revolusi Islam mengingatkan umat manusia untuk kembali memahami esensi ajaran Nabi Isa (a.s.), terutama dalam menghadapi arogansi global. Ia menyoroti pentingnya menghindari pasivitas teologis yang merupakan bentuk penyerahan teologi kepada kekuatan sekuler yang menindas.
Pesan ini menjadi semakin relevan mengingat meningkatnya kejahatan yang dilakukan oleh beberapa negara Barat yang mengeklaim mewakili Kekristenan. Seruan untuk kebangkitan kesadaran dan iman yang sejati menjadi sangat penting di tengah situasi ini.
Harapan Masa Depan
Dalam konteks modern, pesan Pemimpin Revolusi ini dapat menjadi panduan bagi umat Kristiani untuk kembali kepada nilai-nilai asli iman mereka. Kesadaran global tentang penderitaan Palestina dan kebrutalan Zionisme internasional menunjukkan adanya tanda-tanda kebangkitan, bahkan di kalangan Protestan.
Protes terhadap rezim Zionis, baik secara sadar maupun tidak, mencerminkan keinginan untuk kembali kepada akar spiritual Kekristenan. Dengan kesadaran dan koordinasi yang lebih besar, umat Kristiani dapat berkontribusi dalam menciptakan dunia yang lebih baik sesuai dengan ajaran Nabi Isa (a.s.).
Pesan Pemimpin Revolusi ini tidak hanya mengingatkan umat Kristiani akan tanggung jawab moral mereka, tetapi juga menyerukan solidaritas global untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan spiritual. Pesan ini mengandung ajakan untuk memperbarui pemahaman tentang Kekristenan sebagai dasar bagi dunia yang lebih baik dan masa depan yang harmonis, serta membantu memulihkan identitas sejati seorang Kristen.[]
