Kisah Heroik Pejuang Muda Hizbullah: 26 Hari ‘Hidup Bersama Allah’
POROS PERLAWANAN – Hari itu, perang memasuki hari ke-40. Dalam keheningan penuh ketegangan, seorang pemuda menerima pesan penting dari kelompoknya. Pesan itu singkat, lugas, dan tanpa kompromi: “Bersiaplah. Dalam satu jam, kamu harus bergabung.”
Ia tak punya banyak waktu. Dengan tenang, ia menyiapkan perlengkapan seadanya. Tak lupa, ia berpamitan dengan keluarga, memeluk mereka dengan kehangatan yang entah mungkin akan jadi yang terakhir. Setelah mengucap selamat tinggal kepada orang-orang yang dicintainya, ia memahami pepatah yang mengatakan bahwa, “Mereka yang pergi ke medan perang dianggap telah hilang, dan yang kembali, seperti terlahir Kembali”.
Saat perjalanan dimulai, rekan-rekannya hanya bisa mengantarkannya hingga empat desa sebelum tujuan. Di batas desa itu, mereka berkata, “Kita hanya bisa sampai di sini. Selanjutnya, kamu harus berjalan sendiri. Hati-hati, ini jalanmu menuju Allah.”
Langit di atas terasa gelap, bukan karena malam, tetapi oleh pesawat-pesawat drone pengintai musuh yang terus mengawasi. Pemuda itu melangkah dengan hati-hati, memecah sunyi dengan derap kakinya sendirian. Kadang, ia harus merangkak, kadang menahan napas panjang, karena satu langkah terlalu cepat atau terlalu lambat bisa berarti maut. Ia berjalan dalam sepi, mengendap-endap tanpa suara, hingga jarak 10 meter pun terasa seperti perjalanan panjang selama berjam-jam.
Malam demi malam berlalu. Ia tidur di bawah bintang-bintang, angin dingin menusuk tubuh, dan lolongan serigala di kejauhan menjadi irama yang menemaninya. Akhirnya, setelah empat hari dan tiga malam, ia sampai di tempat tujuan.
Namun, kenyataan pahit yang diterimanya. Rekan-rekan seperjuangan yang seharusnya menyambutnya di sana telah gugur syahid seluruhnya. Ia kini berdiri sendiri, termangu di tengah kampung yang sunyi, hanya ditemani bayangan dirinya dan reruntuhan yang berserakan.
Dua Jalan: Mundur atau Bertahan
Ia merenung. Pilihan itu membebaninya seperti gunung yang menghimpit dadanya. Kembali mundur berarti ia kembali dengan aman, menyelamatkan nyawanya. Apalagi ia tanpa alat komunikasi, dengan makanan dan amunisi yang sangat terbatas. Tapi, ia tahu itu bukan dirinya. “Aku tidak datang untuk kembali. Aku datang untuk berdiri,” pikirnya.
“Ini adalah pertempuran hidup dan mati. Aku akan bertahan, seperti Imam Husein (a.s) yang tidak mundur. Jika aku gugur, setidaknya aku meninggalkan satu peluru yang mungkin akan membuat musuh gentar. Mereka harus berpikir ada lebih banyak pejuang di sini, walau hanya aku seorang.”
Ia pun memutuskan untuk bertahan. Bukan hanya bertahan—ia bersiap untuk menyerang.
Bertahan dengan Keberanian
Ia mempelajari lingkungan di sekitarnya dengan teliti dan cermat, memilih tiga rumah sebagai titik strategis. Dinding-dinding rumah itu ia lubangi untuk menciptakan jalur rahasia agar bisa bergerak cepat dari satu tempat ke tempat lain. Ia tahu, jika musuh datang, ia tak bisa hanya mengandalkan kekuatan fisik. Ia harus mengandalkan akal, iman dan keyakinannya kepada Allah.
Pada suatu malam, musuh mulai mendekat. Ia mendengar derap langkah kaki mereka mulai mendekat. Degup jantungnya berdetak keras seolah tak mau berhenti. Ia berdoa kepada Allah, lalu menarik napas panjang. “Bismillah,” gumamnya.
Ia memulai serangan dengan melemparkan dua granat sekaligus, menciptakan ledakan yang memecah keheningan malam. Strateginya berhasil: musuh mengira ada banyak pejuang di dalam rumah. Selama hampir satu jam, ia bertahan dengan taktik yang membuat musuh bingung. Ketika serangan musuh tak berhenti, ia mengeluarkan senjata pamungkas: peluncur granat yang ia isi dengan dua bom sekaligus. Ledakan besar kemudian mengguncang malam itu, jeritan musuh yang terluka terdengar sampai ke telinganya.
Ia tetap bertahan, sebab musuh pasti akan membalas. Benar saja, bombardir besar-besaran dimulai, mencoba meratakan tempat persembunyian itu. Tapi, ia sudah siap. Ia mundur ke posisi yang lebih strategis, tetap mengawasi setiap gerak musuh. Dan nampaknya rasa takut menguasai jiwa musuh; mereka pergi untuk tidak pernah kembali, karena mengira tempat itu dikuasai banyak pejuang.
Sendiri, 26 Hari Bersama Allah
Ia bertahan di tempat itu selama 26 hari. Tanpa teman, tanpa alat komunikasi, tanpa dukungan logistik. Makanannya pun seadanya: beras pecah, mie instan, kaleng kacang polong yang ia temukan di rumah-rumah kosong. Tak jarang ia menahan rasa lapar dan hanya mengandalkan air yang tersisa.
Ketika seseorang berseloroh kepadanya setelah perang usai, “Kamu gila.” Dengan tenang, ia menjawab sambil melempar senyum, “Jika kupikir sekarang ini, mungkin aku memang gila. Tapi, Allah memberiku keberanian, keteguhan, dan kekuatan yang tak pernah kubayangkan.”
Allah Swt. dalam Al-Quran penggalan Surah at-Taubah, Ayat 40 berfirman; “Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat”.
Di akhir kisahnya, kalimat terindah yang dia ucapkan adalah: “Aku hidup bersama Allah selama 26 hari.”
Kisah Pemuda Pejuang ini bukan sekadar tentang keberanian, melainkan tentang Iman yang teguh dan Yakin yang kokoh. Keimanan dan keyakinan membuktikan bahwa kesendirian seorang hamba, justru momen paling agung bersama Allah Swt.
