Tujuan Strategis Amerika Serikat di Suriah Pasca-Asad
POROS PERLAWANAN – Sejak dimulainya konflik pada 2011, Suriah telah menjadi arena perebutan pengaruh antara aktor global dan regional. Amerika Serikat (AS), meskipun kerap mengedepankan alasan pemberantasan terorisme, memiliki kepentingan strategis yang melampaui narasi ini. Berdasarkan laporan Al Jazeera dan sejumlah pakar, keterlibatan AS di Suriah pasca-kejatuhan Pemerintahan Bashar al-Asad mencerminkan agenda geopolitik untuk memperkuat stabilitas Kawasan, melemahkan musuh strategis seperti Iran dan Rusia, serta mendukung sekutu-sekutu Arab yang pro-Barat.
Kehadiran Militer AS: Motif dan Dinamika
Menurut laporan Al Jazeera (2024), AS mengerahkan sekitar 2.000 pasukan militer ke Suriah. Meskipun Donald Trump, selama masa kampanyenya, menekankan kebijakan non-intervensi, kehadiran ini tetap berlangsung dengan narasi memerangi ISIS. Pernyataan Penasihat Keamanan Nasional Trump, Michael Waltz, menggarisbawahi bahwa rakyat AS tidak mendukung keterlibatan baru di perang Timur Tengah.
Namun, langkah AS di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Meski sempat diumumkan bahwa sekitar 400 personel akan ditarik, keputusan Pentagon memastikan keberlanjutan kehadiran militer di Suriah untuk memantau ancaman “terorisme” dan menjaga stabilitas regional.
Tujuan Strategis yang Lebih Luas
Delegasi diplomatik AS yang baru-baru ini berkunjung ke Damaskus menegaskan upaya Washington dalam memengaruhi transisi politik di Suriah. Sejak 2014, intervensi AS, yang dimulai dengan alasan memerangi ISIS, telah berkembang menjadi strategi geopolitik yang lebih besar.
Berdasarkan analisis Brookings Institution (2023), tujuan utama AS di Suriah meliputi:
1. Melemahkan Pengaruh Iran: Washington memandang Suriah sebagai jalur strategis yang digunakan Iran untuk mendukung Hizbullah di Lebanon.
2. Memperkuat Rezim Moderat Arab: AS berusaha mendukung sekutu-sekutu Arab yang bersedia menjalin hubungan diplomatik lebih erat dengan Israel.
3. Menekan Rusia: Kehadiran AS bertujuan membatasi kemampuan Rusia mempertahankan pangkalan militernya di Suriah, termasuk fasilitas di Tartus dan Latakia.
Pandangan Pakar: Mencari Stabilitas Regional
Ketua Studi Timur Tengah di Universitas Smith, Steven Heydemann menyatakan bahwa AS melihat transisi politik di Suriah sebagai peluang untuk menciptakan stabilitas regional dan meredam ancaman terorisme. Menurutnya, tujuan AS adalah mendukung pembentukan pemerintahan Suriah yang inklusif, yang mampu mengintegrasikan Suriah ke dalam tatanan Arab dan dunia internasional.
Pandangan ini selaras dengan pernyataan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, yang menegaskan bahwa stabilitas Suriah adalah kepentingan strategis global. Dalam wawancaranya dengan Foreign Affairs (2024), Blinken menyebutkan bahwa Suriah tidak boleh menjadi sarang terorisme atau penyebab migrasi massal yang dapat memicu instabilitas di wilayah lain.
Tantangan dan Risiko Strategi AS
Meskipun terdapat rencana besar, risiko signifikan tetap mengintai. Blinken mengakui bahwa transisi politik sering kali menghasilkan pola kekuasaan baru yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, seperti penggantian rezim otoriter dengan rezim serupa, atau munculnya kelompok ekstremis baru.
Mantan utusan AS untuk Suriah, Frederic Hof menegaskan bahwa kebijakan AS berfokus pada penghancuran sisa-sisa ISIS, melemahkan pengaruh Iran, dan mendukung pemerintahan baru yang inklusif. Ia juga menyebutkan pentingnya bantuan rekonstruksi dan kemanusiaan sebagai alat diplomasi AS untuk membangun legitimasi pemerintahan baru Suriah (Atlantic Council, 2023).
Tiga Tujuan Utama Pasca-Asad
Pakar Timur Tengah di Council on Foreign Relations (2023), Steven Cook merumuskan tiga prioritas strategis AS di Suriah pasca-kejatuhan Bashar al-Asad:
1. Pemberantasan Ekstremisme: Mencegah kebangkitan kelompok seperti ISIS dan Al-Qaeda.
2. Membatasi Pengaruh Rusia: Mencegah Moskow mempertahankan pangkalan militer strategisnya di Suriah.
3. Mengisolasi Iran: Menghalangi penggunaan Suriah sebagai jalur darat untuk mendukung kelompok bersenjata seperti Hizbullah.
Analis di Atlantic Council dan mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, David Mack menambahkan empat prioritas utama:
1. Stabilitas jangka panjang untuk Suriah dan negara-negara tetangganya, termasuk Lebanon, Yordania, dan Israel.
2. Pemulangan pengungsi Suriah.
3. Membendung upaya Rusia untuk memperluas pengaruh militernya di Kawasan.
4. Menghentikan kebangkitan kelompok teroris di Suriah.
Hegemoni AS di Suriah untuk Eksistensi Israel
Keterlibatan AS di Suriah merupakan bagian dari strategi besar untuk mengukuhkan dominasi geopolitik di Kawasan. Dalam upayanya, AS mengorbankan stabilitas Suriah demi melindungi kepentingan strategisnya, terutama keamanan dan pengaruh Israel di Timur Tengah. Dalih stabilitas regional yang diusung AS hanya menjadi tameng untuk memperpanjang fragmentasi politik di Suriah, memastikan negara itu tidak kembali menjadi ancaman langsung bagi Israel.
Hegemoni AS di Kawasan ini dirancang agar Israel tetap menjadi kekuatan utama Timur Tengah, dengan dukungan penuh Washington. Keseluruhan agenda AS di Suriah adalah bagian dari strategi besar untuk memastikan Israel tetap aman, berpengaruh, dan tak tergantikan dalam tatanan politik regional. Hegemoni ini berjalan dengan mengorbankan stabilitas Suriah dan kedaulatan Kawasan. [PP/MT]
Referensi:
1. “The US in Syria: Strategic Goals and Challenges,” Brookings Institution, 2023.
2. “Blinken on Syria and US Interests,” Foreign Affairs, 2024.
3. “Post-Assad Syria: The American Perspective,” Atlantic Council, 2023.
4. “US Military Presence in Syria: Motives and Outcomes,” Council on Foreign Relations, 2023.
5. Al Jazeera Reports on US Strategy in Syria, 2024.
