China dan Iran: Jangan Jadikan Timteng Medan Konflik dan Korban Ketamakan Negara-negara Besar di Luar Kawasan
POROS PERLAWANAN – “Timteng adalah milik penduduk kawasan tersebut. Timteng bukanlah medan konflik tempat negara-negara besar bermain di sana. Timteng tidak boleh menjadi korban ketamakan dan konflik geopolitik negara-negara di luar kawasan tersebut.”
Diberitakan Fars, pernyataan di atas adalah bagian dari kesepakatan bersama Menlu Iran, Abbas Araghchi dengan Menlu China, Wang Yi di Beijing pada Sabtu 28 Desember.
Araghchi dan Wang Yi juga menekankan bahwa masa depan dan nasib negara-negara Timteng mesti ditentukan oleh rakyat mereka sendiri.
Menlu Iran bersama rombongannya melawat ke Beijing atas undangan kolega Chinanya pada hari Jumat lalu. Dalam kunjungan pertamanya sejak menjadi Menlu Iran, Araghchi disertai sejumlah diplomat Iran, termasuk Jubir Kemenlu Esmail Baghaei.
Setelah tiba di Beijing, Araghchi di hadapan wartawan mengatakan,”Selama tahun-tahun lalu, kami selalu berdiskusi dengan China terkait semua isu regional dan internasional. Sekarang jelas bahwa ada situasi yang penting. Kawasan (Timteng) sedang bergejolak, juga ada berbagai isu di level internasional. Isu nuklir kami di tahun baru akan berhadapan dengan situasi yang perlu didiskusikan lebih lanjut.”
Di antara butir-butir kesepahaman kedua Menlu itu adalah masyarakat internasional harus bersungguh-sungguh menghormati kedaulatan nasional, keamanan, stabilitas, persatuan, dan keutuhan wilayah negara-negara Timteng. Masyarakat internasional juga mesti memedulikan tuntutan logis negara-negara Timteng, menghormati keputusan independen bangsa-bangsa Timteng serta sejarah, budaya, dan tradisi mereka.
Araghchi dan Wang YI menyatakan, solusi diplomatik berdasarkan hukum internasional minus intervensi asing adalah cara untuk mewujudkan stabilitas dan kedamaian di Timteng.
Kesepahaman mereka juga menyangkut isu Palestina dan Lebanon. Menlu Iran dan China mengumumkan, penyelesaian isu Palestina membutuhkan penghormatan dan pemulihan hak legal bangsa Palestina serta diakhirinya pendudukan.
Menurut mereka, prioritas saat ini adalah memberlakukan gencatan senjata, menarik seluruh pasukan militer Israe dari Gaza, dan mengirim bantuan kemanusiaan.
Menlu Iran dan China menyatakan, kesepakatan gencatan senjata di Lebanon messti dijalankan secara serius dan efektif. Keduanya juga menegaskan bahwa penumpasan terorisme dan radikalisme, rekonsiliasi domestik, dan pengiriman bantuan kemanusiaan harus dilakukan secara komprehensif di Suriah.
