Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Jurnalis Lebanon: Sekarang Kalian Bunuh Suriah dan Kelak Kalian Bakal Menyesalinya

Jolani dan Arah Politik Baru Suriah: Kepentingan Barat dan Pergeseran Konflik

POROS PERLAWANAN – Seorang jurnalis terkenal asal Lebanon, Jamal Syu’aib, dalam unggahan media sosialnya, mengungkapkan pandangan mendalam terkait kehancuran Suriah yang ia sebut sebagai tindakan yang disengaja. Ia menyoroti dampak destruktif dari perang, sanksi internasional, dan intervensi terhadap negara tersebut, yang menurutnya dirancang untuk menghancurkan sebuah bangsa, bukan hanya rezim yang berkuasa.

Dilansir Farsnews Agency pada Rabu 1 Januari, dalam pesannya, Syu’aib menggambarkan bagaimana Suriah, yang pernah menjadi negara mandiri dan maju di berbagai sektor, kini menjadi korban konspirasi global.

Kehancuran Ekonomi

“Suriah adalah negara yang tidak memiliki utang, di mana warganya hidup dengan kebutuhan yang terpenuhi sepenuhnya”, tulis Syu’aib. Ia melanjutkan, “Dengan permainan Dolar dan sanksi, mereka menghancurkan mata uang nasionalnya. Setelah itu, mereka mengatakan bahwa mata uang Suriah tidak bernilai dan gaji rakyatnya sangat kecil”.

Syu’aib menjelaskan dampak ekonomi tersebut bukanlah akibat alami dari konflik, melainkan hasil dari kebijakan yang disengaja untuk melemahkan perekonomian negara.

Penghancuran Industri

Menurut Syu’aib, Suriah dulunya merupakan negara produsen yang mandiri dengan industri yang berkembang pesat. Ia menulis: “Mereka menghancurkan pabrik-pabrik yang sukses dan menjarah peralatannya. Kemudian, mereka menyebut Suriah sebagai negara yang terbelakang”.

Ia menambahkan bahwa penjarahan aset-aset industri tidak hanya menghancurkan perekonomian, tetapi juga memutus kemampuan negara untuk membangun kembali dirinya.

Keruntuhan Sistem Kesehatan

Jurnalis ini juga menyoroti sektor kesehatan Suriah, yang pernah menjadi salah satu yang terbaik di Kawasan: “Suriah adalah negara yang maju di bidang kesehatan, dengan rumah sakit yang memberikan layanan gratis dan produk farmasi yang diekspor ke luar negeri. Namun, rumah sakitnya dibom, dan pabrik-pabrik farmasinya diledakkan. Setelah itu, mereka mengatakan bahwa Suriah adalah negara yang gagal”.

Syu’aib menggambarkan tindakan tersebut sebagai upaya sistematis untuk menghancurkan infrastruktur yang menopang kesejahteraan rakyat Suriah.

Serangan terhadap Pendidikan

Sektor pendidikan Suriah, yang sebelumnya dikenal secara internasional, juga menjadi sasaran penghancuran.

“Suriah dikenal dengan universitas-universitasnya yang bereputasi dan ijazahnya yang diakui dunia. Namun, para dosen dibunuh, dan ilmuwan-ilmuwannya dihabisi. Lalu mereka mengatakan bahwa Suriah adalah negara yang mundur”.

Menurut Syu’aib, serangan terhadap pendidikan bertujuan untuk menghancurkan fondasi intelektual negara tersebut, sehingga memperpanjang penderitaan rakyatnya.

Penghancuran Pertanian

Dalam pesannya, Syu’aib juga menyoroti bagaimana sektor pertanian Suriah dihancurkan secara sistematis: “Suriah adalah negara dengan infrastruktur pertanian yang maju. Namun, bank-bank pertanian dijarah, pusat-pusat penelitian dirampok, hasil panennya dikenai sanksi, ladangnya dibakar, dan produknya dicuri. Setelah itu, mereka bertanya: di mana roti?”

Pesan Peringatan

Syu’aib menegaskan bahwa pandangannya tidak dimaksudkan untuk mendukung rezim tertentu atau ideologi politik tertentu.

“Kita berbicara tentang Suriah, bukan Partai Ba’ath. Tentang sebuah negara, bukan keluarga al-Assad. Tentang Tanah Air, bukan hanya satu keluarga”, tulisnya.

Ia juga menuduh bahwa kehancuran Suriah dilakukan dengan rencana yang disengaja oleh kekuatan asing: “Kalian menghancurkan Suriah atas perintah tuan-tuan kalian, yang bahkan mengakuinya. Kalian tidak hanya menghancurkan sebuah rezim, tetapi juga sebuah sistem, negara, dan Tanah Air”.

Dalam pernyataan terakhirnya, Syu’aib memperingatkan konsekuensi jangka panjang dari tindakan ini: “Kalian membunuh Suriah, dan kalian tahu apa yang kalian lakukan. Suatu hari, kalian akan menyesalinya!”

Pernyataan Syu’aib mencerminkan kritik mendalam terhadap kekuatan-kekuatan yang dianggap bertanggung jawab atas kehancuran Suriah. Ia menempatkan fokus pada penderitaan rakyat Suriah yang diakibatkan oleh kombinasi perang, sanksi internasional, dan kebijakan yang ia sebut sebagai “permufakatan jahat”.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa konflik di Suriah tidak hanya melibatkan pertarungan politik internal, tetapi juga intervensi eksternal yang menghancurkan sebuah bangsa secara menyeluruh. []

 

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *