Ketika Yaman Jadi Mimpi Buruk Buat Rezim Pembunuh Anak-anak Palestina
POROS PERLAWANAN – Di tengah serangan udara massif oleh Israel, Amerika Serikat, dan Inggris, bangsa Yaman tetap menunjukkan solidaritas teguh terhadap perjuangan rakyat Palestina. Dukungan ini tidak hanya berupa pernyataan politik, tetapi juga melalui operasi militer langsung.
Pada Senin malam 30 Desember, Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan serangkaian operasi militer strategis terhadap Israel, sebagai bagian dari solidaritas dengan rakyat Gaza yang terisolasi akibat blokade.
Pernyataan Resmi Pemerintah Sanaa
Pemerintah Sanaa menyebut bahwa operasi ini adalah bentuk perlawanan terhadap agresi yang terus berlangsung di Kawasan. Dalam pernyataan resminya, Angkatan Bersenjata Yaman menegaskan bahwa tindakan ini adalah respons terhadap pembantaian yang dilakukan terhadap rakyat Palestina, khususnya di Gaza, serta sebagai pembalasan atas agresi militer terhadap Yaman.
Tujuan Operasi Militer
Dalam pernyataannya, Angkatan Bersenjata Yaman menyampaikan: “Operasi ini dilakukan demi membela rakyat Palestina yang tertindas, sebagai tanggapan atas pembantaian terhadap saudara-saudara kami di Gaza, dan dalam rangka mendukung perjuangan besar ‘Pertempuran Penaklukan yang Dijanjikan’ serta ‘Pertempuran Suci’. Operasi ini juga merupakan respons atas agresi Israel, Amerika, dan Inggris terhadap negara kami.”
Target Serangan Militer
Pasukan Yaman meluncurkan serangan rudal terarah ke dua lokasi strategis di wilayah Pendudukan Israel:
1. Bandara Ben Gurion, Tel Aviv
Rudal balistik hipersonik yang diberi nama “Palestine 2” diluncurkan menuju Bandara Ben Gurion di kawasan Yaffa.
Media Israel mengonfirmasi serangan ini, disertai rekaman sirene darurat yang memaksa ribuan penumpang berlindung di tempat aman.
Bulan ini saja, Yaman telah meluncurkan lebih dari 12 rudal hipersonik ke arah Tel Aviv dan wilayah pusat Israel. Serangan ini memaksa lebih dari satu juta warga Israel berlindung di bunker.
2. Stasiun Pembangkit Listrik di Dekat Al-Quds (Yerusalem)
Sebuah rudal balistik “Zulfiqar” diluncurkan ke sebuah stasiun pembangkit listrik di wilayah selatan Al-Quds.
Ini adalah pertama kalinya Yaman menargetkan infrastruktur energi milik Israel, menunjukkan kemampuan strategis yang mengejutkan dan belum terduga oleh pihak Israel.
Dalam pernyataannya, Angkatan Bersenjata Yaman mengonfirmasi bahwa kedua target berhasil dihantam.
Operasi terhadap Armada Angkatan Laut AS
Selain menyerang Israel, Angkatan Bersenjata Yaman juga meluncurkan operasi militer terhadap kapal induk Amerika, USS Harry S. Truman.
Operasi ini dilakukan secara terkoordinasi oleh unit Angkatan Laut, Pasukan Rudal, dan UAV Yaman.
Sejumlah besar drone dan rudal jelajah diluncurkan untuk menyerang kapal induk yang saat itu sedang mempersiapkan serangan udara terhadap Yaman.
Menurut pernyataan Angkatan Bersenjata Yaman, operasi ini berhasil menggagalkan rencana serangan udara Amerika. Mereka menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari “pertolongan Allah Yang Mahakuasa”.
Peningkatan Kesiapan Tempur
Angkatan Bersenjata Yaman juga mengumumkan peningkatan signifikan dalam kesiapan tempur mereka. Langkah ini dilakukan untuk menghadapi ancaman dari pasukan Israel dan Amerika yang terus mencoba menekan Perlawanan Yaman.
Dalam pernyataannya, mereka menegaskan: “Angkatan Bersenjata Yaman telah meningkatkan kesiapan tempur sejumlah unit militer untuk menghadapi ancaman musuh Israel dan Amerika. Kami berkomitmen untuk melindungi tugas agama, moral, dan kemanusiaan kami terhadap rakyat Palestina.”
Operasi Berkelanjutan Hingga Blokade Gaza Berakhir
Angkatan Bersenjata Yaman menegaskan bahwa operasi militer ini akan terus berlanjut hingga Israel menghentikan agresi terhadap Gaza dan mencabut blokade terhadap wilayah tersebut.
“Operasi kami tidak akan berhenti hingga penyerangan terhadap Gaza dihentikan dan pengepungan dicabut,” tegas pernyataan Angkatan Bersenjata Yaman.
Eskalasi Serangan dan Reaksi Dunia
Serangan Yaman ini memperlihatkan eskalasi konflik regional. Di satu sisi, Yaman menunjukkan kemampuan militernya yang berkembang pesat dengan melancarkan serangan ke infrastruktur strategis Israel. Di sisi lain, serangan Israel terhadap Yaman, termasuk kilang minyak dan Bandara Sanaa—bahkan saat Direktur WHO berada di dalamnya—menggambarkan tingkat keputusasaan Israel dalam menghadapi serangan balasan dari kawasan Arab.
Para analis menyebutkan peran Yaman dalam konflik ini menunjukkan solidaritas lintas batas terhadap Palestina, serta menjadi mimpi buruk bagi kekuatan Militer Israel dan sekutunya di Kawasan.
