Fase ‘Waterloo’ Rezim Zionis Israel di Depan Mata
POROS PERLAWANAN – Ketidakmampuan Israel mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 tetap menjadi topik kontroversial yang belum terselesaikan. Isu ini kembali memanas setelah seorang politisi oposisi secara terbuka menyerukan Kepala Staf Militer Israel, Herzi Halevi, untuk mengundurkan diri.
Mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot, yang kini menjabat sebagai anggota Knesset dari partai oposisi National Unity, pada Sabtu 11 Januari menegaskan bahwa Halevi, bersama para pejabat yang terlibat dalam kegagalan tersebut, termasuk Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, harus bertanggung jawab. Dalam laporan Times of Israel, Eisenkot menyebut kegagalan Halevi dalam mencegah serangan besar-besaran Hamas, yang dikenal sebagai Badai Al-Aqsa, merupakan “kesalahan fatal yang tak termaafkan”.
Serangan itu mengakibatkan lebih dari 1.100 orang tewas dan sekitar 250 lainnya ditawan oleh Hamas. Hingga kini, puluhan tawanan masih berada di Gaza. Serangan tersebut menjadi pukulan telak bagi citra Israel sebagai rezim dengan kekuatan militer yang tak tergoyahkan.
Desakan Mundur dan Krisis Kepemimpinan
Eisenkot, yang pernah memimpin Angkatan Bersenjata Israel dari 2015 hingga 2019, menyampaikan kritik pedas terhadap Halevi. “Orang-orang yang bertanggung jawab pada hari itu harus mundur. Kegagalan ini terlalu besar untuk diabaikan,” ujarnya.
Eisenkot juga mengungkapkan bahwa Halevi, yang memimpin Militer saat serangan terjadi, telah kehilangan kepercayaan publik.
Krisis di tubuh Militer Israel semakin memburuk setelah Wakil Kepala Staf, Mayor Jenderal Amir Baram mengajukan surat pengunduran diri pada Jumat 10 Januari. Dalam surat tersebut, Baram menyatakan bahwa di bawah situasi saat ini, kontribusinya sebagai Wakil Kepala Staf menjadi “sangat terbatas”. Ia juga menyinggung kemungkinan dirinya untuk mengisi posisi baru di masa mendatang, secara implisit mengindikasikan ambisi untuk menggantikan Halevi.
Militer Israel dalam Tekanan
Sejak Badai Al-Aqsa, serangkaian pengunduran diri di kalangan pejabat militer tingkat tinggi mengguncang Israel. Hubungan yang memanas antara Halevi dan Baram semakin memperlihatkan ketegangan internal di tubuh Angkatan Bersenjata Israel.
Menurut laporan Times of Israel, meski kantor keduanya membantah adanya konflik, hubungan mereka telah memburuk di tengah perang berkepanjangan di Gaza. Baram, yang dianggap sebagai kandidat potensial pengganti Halevi, menggunakan surat pengunduran dirinya untuk menyampaikan kritik terselubung terhadap kepemimpinan Halevi.
Harga dari Serangan Balasan Israel
Setelah serangan Hamas, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza, yang oleh banyak pihak disebut sebagai perang genosida. Serangan ini telah menyebabkan lebih dari 46.000 warga Palestina tewas, tetapi tujuan utama Israel—menghancurkan Hamas dan membebaskan para tawanan—belum tercapai.
Kerentanan Israel semakin mencolok. Dalam editorialnya, Le Monde menggambarkan bahwa pertahanan Israel “runtuh seperti rumah kartu” ketika Hamas melancarkan serangan kejutan tersebut. Serangan itu mengikis reputasi Israel sebagai kekuatan militer tak tertandingi sejak “negara” haram itu berdiri pada 1948.
Hamas dan Narasi “Macan Kertas”
Operasi Badai Al-Aqsa tidak hanya berhasil mengungkap kelemahan sistem pertahanan Israel, tetapi juga memperkuat narasi bahwa Israel hanyalah “macan kertas”. Citra “tak terkalahkan” yang selama ini dibanggakan oleh rezim tersebut kini tercoreng dan terpuruk.
Gelombang pengunduran diri dan kritik terhadap pejabat tinggi Militer menunjukkan adanya upaya untuk mengalihkan perhatian publik dari realitas ini. Namun, dampak serangan tersebut telah meninggalkan bekas yang dalam, baik bagi Militer maupun rezim Israel.
Israel Menuju “Waterloo”-nya
Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan besar seringkali runtuh dari dalam, dan Israel tampaknya tidak terkecuali. Serangan Hamas telah membuka babak baru dalam perlawanan terhadap dominasi Israel di wilayah tersebut. Dengan tekanan internal yang semakin besar dan resistensi yang terus tumbuh, banyak pengamat percaya bahwa “Waterloo” bagi Israel hanya tinggal menunggu waktu.
Dalam menghadapi krisis ini, pertanyaan yang lebih besar muncul: apakah Israel mampu bangkit dari keterpurukan ini, ataukah negara tersebut akan terjebak dalam spiral konflik tanpa akhir? Jawabannya mungkin akan menjadi penentu nasib Israel di masa depan. [PP/MT]
Referensi:
– Times of Israel: Eisenkot says IDF chief Halevi should resign: ‘Won’t be forgiven’ for October 7
– Times of Israel: IDF deputy chief of staff requests to step down, indicates he hopes to succeed Halevi
– Haaretz: IDF Deputy Chief Asks to Resign: ‘The War Has Died Down’
