Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Mengapa Opini Publik Cenderung Bandingkan Kebakaran Los Angeles dengan Kehancuran Gaza?

POROS PERLAWANAN – Kebakaran besar yang melanda Los Angeles baru-baru ini tidak hanya menjadi tragedi lokal, tetapi juga sorotan atas ketimpangan kebijakan Amerika Serikat. Banyak pihak membandingkan kehancuran ini dengan situasi di Gaza—dua wilayah dengan konteks yang jauh berbeda, namun sama-sama menggambarkan pemandangan kehancuran yang menyayat hati. Perbandingan ini memicu pertanyaan mendalam tentang prioritas kebijakan, terutama bagaimana alokasi anggaran pemerintah seringkali lebih mengutamakan geopolitik dibandingkan kesejahteraan domestik.

Ketimpangan Anggaran: Data yang Berbicara

Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Amerika Serikat mengucurkan 3,8 miliar Dolar AS per tahun sebagai bantuan militer untuk Israel. Selain itu, pada 2023, lebih dari 113 miliar Dolar AS dialokasikan untuk mendukung Ukraina dalam konfliknya melawan Rusia.

Namun, kebutuhan domestik, seperti mitigasi kebakaran hutan di California, sering kali diabaikan. Berdasarkan laporan dari California Department of Forestry and Fire Protection (Cal Fire), Negara Bagian tersebut hanya mengalokasikan 200 juta Dolar AS untuk pembersihan vegetasi kering pada 2023, meskipun ini merupakan salah satu faktor utama penyebab kebakaran hutan. Angka tersebut mencerminkan ketimpangan serius dalam prioritas alokasi anggaran nasional.

Narasi di Media Sosial: Antara Api dan Perang

Visual kebakaran Los Angeles ramai dibandingkan dengan konflik Gaza di media sosial. Unggahan-unggahan bertajuk “Ini bukan Gaza, ini Los Angeles” ramai dibagikan, memperlihatkan kesamaan antara kehancuran akibat api di Los Angeles dengan kehancuran akibat konflik di Gaza. Foto warga yang mengungsi karena kebakaran disandingkan dengan gambar pengungsian warga Gaza, mempertegas narasi tentang ketidakadilan dalam prioritas kebijakan pemerintah.

Seorang aktor yang dikenal mendukung kebijakan Israel, James Woods, dalam wawancara dengan CNN menjadi perhatian publik setelah menangis karena kehilangan rumahnya akibat kebakaran di Los Angeles. Unggahan lamanya di media sosial, yang mengandung tagar kontroversial #KillThemAll, kembali disorot oleh warganet, memunculkan kritik atas sikapnya.

Penyair Palestina, Mosab Abu Toha, turut memberikan tanggapan dalam sebuah surat terbuka. Ia menyoroti perbedaan konteks antara kehancuran akibat bencana alam di Los Angeles dan kehancuran akibat konflik berkepanjangan di Gaza.

Dalam surat terbukanya, Mosab Abu Toha menggarisbawahi penderitaan yang dialami warga Gaza akibat konflik yang berkepanjangan. Ia menyatakan, “Ketika rumah kami dibom, saya tidak punya tempat yang aman untuk pergi. Kota saya diduduki, dan teman saya yang membantu menyelamatkan buku-buku kami terbunuh.”

Abu Toha juga membandingkan realitas ini dengan pengalaman warga Los Angeles, menyoroti ketimpangan perhatian terhadap konflik global dan kebutuhan domestik.

Amerika Serikat dan Dukungan kepada Israel

Sejak berdirinya Israel pada 1948, Amerika Serikat menjadi sekutu utamanya, memberikan dukungan besar secara militer, diplomatik, dan ekonomi. Bantuan militer ini sering digunakan dalam serangan udara di Gaza yang mengorbankan ribuan warga sipil. Kritik internasional terhadap dukungan ini semakin gencar, mencerminkan kekecewaan atas kebijakan luar negeri Amerika yang dianggap lebih berfokus pada ambisi geopolitik daripada peran sebagai penengah perdamaian.

Krisis Kebakaran: Potret Kegagalan Domestik

Saat kebakaran melahap Los Angeles, pemerintah lokal menghadapi serangkaian kendala: kekurangan sumber daya, peralatan pemadam yang usang, dan minimnya persiapan menghadapi bencana besar. Bahkan, beberapa laporan menyebutkan petugas pemadam kebakaran kehabisan air di beberapa lokasi—sebuah ironi yang mencerminkan kurangnya perhatian terhadap infrastruktur vital.

Salah satu warga yang terdampak, Mary Jenkins mengungkapkan rasa frustrasinya. “Ketika rumah kami terbakar, kami bertanya-tanya mengapa pemerintah tidak punya cukup dana untuk melindungi kami, tapi punya miliaran Dolar untuk perang di negara lain.”

Situasi ini menunjukkan bagaimana prioritas geopolitik dapat mempersempit ruang fiskal untuk kebutuhan domestik. Sementara bantuan luar negeri sering kali dilihat sebagai alat untuk memperkuat pengaruh global Amerika Serikat, ketidakseimbangan ini sangat melemahkan dukungan publik domestik.

Kritik Global terhadap Kebijakan AS

Amnesty International, dalam laporan terbaru 2024, menyebutkan bahwa dukungan Amerika kepada Israel telah memperburuk konflik Gaza, yang menewaskan lebih dari 15.000 warga sipil sejak 2008. Kebijakan luar negeri ini mencerminkan fokus Amerika yang lebih condong pada intervensi militer dibandingkan peningkatan kesejahteraan masyarakat domestik.

Kebakaran di Los Angeles menjadi simbol nyata dari ironi besar dalam prioritas kebijakan Amerika Serikat. Dukungan besar-besaran kepada Israel dan fokus pada konflik di luar negeri mengesampingkan kebutuhan mendesak dalam negeri.

Dunia kini mempertanyakan peran Amerika sebagai penjaga perdamaian global, mengingat kebijakannya justru memperburuk konflik internasional dan melukai stabilitas domestik.

Jika Amerika Serikat tidak segera memperbaiki arah kebijakannya, dampaknya tidak hanya akan dirasakan di Gaza atau Timur Tengah, tetapi juga oleh rakyat Amerika sendiri.

Langkah nyata dalam mengurangi intervensi militer, memperkuat diplomasi damai, dan memprioritaskan kesejahteraan domestik adalah solusi untuk memulihkan reputasi global dan memastikan masa depan yang lebih stabil bagi masyarakatnya. [PP/MT]

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *