Sadar Telah Lakukan Kejahatan Perang, Ratusan Serdadu Zionis Tolak Lanjutkan Operasi Militernya di Gaza
POROS PERLAWANAN – Pada Senin malam 13 Januari, Kantor Berita Associated Press mengumumkan telah mendapatkan surat yang ditulis sekitar 200 serdadu Rezim Zionis. Dalam surat tersebut, mereka menyatakan penolakan untuk melanjutkan perang di Jalur Gaza.
“Sekitar 200 serdadu Israel menandatangani sebuah surat, yang menyatakan bahwa jika Kabinet tidak memberlakukan gencatan senjata (di Gaza), mereka akan berhenti berperang,” tulis Associated Press, diberitakan Fars.
“Para serdadu yang menolak melanjutkan perang di Gaza mengakui, mereka telah menyaksikan atau melakukan tindakan-tindakan (di Gaza) yang melampaui batas etika.”
Associated Press menukil dari seorang mantan serdadu Israel yang mengatakan,”Saya terlibat dalam kejahatan perang (di Gaza). Saya menyesal atas apa yang telah kami lakukan.”
Dalam surat tersebut, para serdadu Rezim Zionis mengakui:”Kami merasakan penyesalan. Butuh waktu lama untuk mencerna apa yang kami saksikan di Gaza.”
Laporan Associated Press mengutip pengakuan dari para serdadu Zionis yang terlibat dalam pembunuhan anak-anak dan kejahatan perang selama lebih dari 15 bulan. Mereka mengatakan,”Kami melihat para serdadu menjarah dan menghancurkan rumah-rumah. Kami menerima perintah untuk membakar atau menghancurkan rumah-rumah yang sama sekali tidak membahayakan.”
“Gambaran para serdadu kami yang tengah membunuh seorang pemuda Palestina tak bersenjata telah terukir di benak saya. Saya diperintah untuk menembak siapa pun yang memasuki kawasan penghalang yang dikontrol kami.”
Seorang serdadu Israel yang menghabiskan waktu selama 2 bulan di Gaza mengatakan,”Salah seorang komandan memerintahkan pembakaran sebuah rumah. Dia berkata dirinya tidak ingin Hamas menggunakan rumah tersebut. Para serdadu menjarah rumah-rumah dan mengumpulkan ‘oleh-oleh’ dari rumah-rumah tersebut.”
Menurut Associated Press, Militer Israel merespons penolakan para serdadu itu untuk melanjutkan perang. Militer Israel menyatakan,”Kami mengecam penolakan untuk mengabdi. Orang-orang yang menolak mungkin akan dipenjara.”
