Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Jenderal Zionis: Militer Lumpuh dan Terpuruk, Warga Israel di Ambang Perang Saudara

POROS PERLAWANAN – Jenderal senior Israel, Ishaq Brik –mantan pejabat yang menangani keluhan personel Militer Israel— memperingatkan bahwa masyarakat Israel berada di ambang perang saudara, sementara militer negara itu mengalami keterpurukan serius.

Dilansir Tasnim News Agency pada Jumat 24 Januari, Ishaq Brik dalam pernyataan terbarunya menanggapi perkembangan di Jalur Gaza dan perjanjian gencatan senjata, menyebut bahwa tentara Israel tidak lagi mampu melanjutkan perang.

“Hamas dan Jihad Islam telah kembali ke kondisi mereka sebelum perang, sementara masyarakat Israel kini berada di ambang perang saudara. Kenyataan yang harus dihadapi adalah jika perang berlanjut, Militer Israel tidak akan mampu mengalahkan Hamas,” ujar Brik.

Ia menambahkan bahwa pasukan Israel tidak dapat mempertahankan wilayah yang telah mereka kuasai di Jalur Gaza, apalagi menghancurkan jaringan terowongan bawah tanah Hamas yang membentang ratusan kilometer. “Jika perang ini terus berlanjut, kita akan kehilangan ratusan tentara lagi, para tawanan akan terbunuh, dan Israel akan menghadapi bencana yang mengerikan,” tegasnya.

Brik juga menyoroti kegagalan Militer Israel dalam mencapai tujuan utama mereka untuk melemahkan Hamas. Ia mengatakan bahwa meskipun Israel telah melakukan serangan besar-besaran, Hamas tetap mampu mempertahankan kendali atas jaringan kota bawah tanah di Gaza. Selain itu, ribuan pemuda Palestina bergabung dengan Hamas, sehingga kerugian yang mereka derita selama perang pun dapat segera dipulihkan.

Menurut Brik, tentara Israel saat ini berada dalam kondisi kelelahan dan kehabisan tenaga. “Militer kita kini dalam kondisi lumpuh. Setiap upaya untuk kembali berperang di Gaza hanya akan berujung pada kegagalan, dengan ratusan tentara tewas dan ribuan lainnya terluka,” jelasnya.

Di sisi lain, kritik terhadap gencatan senjata di kalangan internal Israel terus berkembang. Mayoritas media dan analis militer di Israel sepakat bahwa rezim Netanyahu terpaksa menerima gencatan senjata tanpa mencapai tujuan strategis yang telah diumumkan sebelumnya.

Analis politik dari surat kabar Yedioth Ahronoth, Avi Issacharoff menyatakan bahwa gencatan senjata ini merupakan kekalahan politik besar bagi Israel. Menurutnya, kesalahan terletak pada keputusan Kabinet Perdana Menteri Benyamin Netanyahu yang secara sadar membiarkan Hamas tetap berkuasa di Gaza.

Issacharoff menyoroti situasi saat tiga tawanan Israel dibebaskan di Gaza, di mana mereka diserahkan ke Palang Merah dalam keadaan dikelilingi oleh ribuan warga Palestina, termasuk ratusan anggota bersenjata Hamas yang mengenakan ikat kepala hijau. “Pemandangan ini menunjukkan sejauh mana kegagalan politik Israel, yang secara tidak langsung membiarkan Hamas bertahan bahkan setelah 15 bulan perang,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pada awal perang, Kabinet Netanyahu bersikeras bahwa operasi militer akan terus berlangsung hingga Hamas dihancurkan sepenuhnya. Namun kenyataannya, Hamas tidak hanya bertahan secara militer, tetapi juga tetap mempertahankan kendali atas Gaza tanpa gangguan berarti.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *