Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Reaksi Sarkastis Ansharullah terhadap Tindakan Bermusuhan Pemerintah AS

POROS PERLAWANAN – Wakil Ketua Organisasi Media Gerakan Ansharullah, Nasruddin Amir merespons secara sinis keputusan Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump yang kembali memasukkan Gerakan Perlawanan Yaman tersebut ke dalam daftar organisasi teroris. Nasruddin menegaskan bahwa langkah AS ini justru dianggap sebagai suatu kehormatan bagi Ansharullah.

“Jika kami masuk dalam daftar teman Washington, justru itu yang akan membuat kami khawatir,” ujarnya seperti dikutip kantor berita Tasnim pada Kamis 23 Januari.

Ia menilai bahwa keputusan AS ini pada akhirnya akan menemui kegagalan. “Sebagaimana AS telah dikalahkan di laut oleh Yaman, tindakan ini pun tidak akan berhasil,” tegas Nasruddin.

Lebih lanjut, ia menyebut keputusan tersebut sebagai reaksi balasan atas dukungan rakyat Yaman terhadap perjuangan di Gaza. “Bagi rakyat Yaman, ini adalah kehormatan besar dan merupakan bagian dari jihad serta perjuangan kami,” tambahnya.

Nasruddin juga menekankan bahwa Ansharullah tidak memiliki kepentingan ekonomi maupun politik di AS. “Kami tidak memiliki investasi, perusahaan, atau rencana untuk berkunjung ke AS,” ujarnya.

Keputusan AS dan Tudingan Gedung Putih

Pemerintahan AS di bawah Donald Trump secara resmi mengumumkan pada Rabu malam 22 Januari, bahwa Gerakan Ansharullah Yaman kembali dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris. Keputusan ini dijadwalkan berlaku dalam 30 hari sejak pengumuman.

Dalam pernyataan resminya, Gedung Putih menuding aktivitas Ansharullah (Houthi) telah mengancam keamanan warga dan personel AS di Timur Tengah. “Tindakan mereka juga membahayakan keamanan mitra regional AS dan stabilitas perdagangan maritim global,” bunyi pernyataan tersebut.

Selain itu, Gedung Putih menuduh bahwa sejak Oktober 2023, kelompok Houthi telah meluncurkan lebih dari 300 rudal ke arah Israel (Palestina yang Diduduki). Serangan Ansharullah terhadap kapal-kapal internasional disebut turut memperburuk inflasi global.

Latar Belakang Keputusan AS

Keputusan ini diambil setelah koalisi AS dan Inggris gagal memaksa Yaman untuk menghentikan dukungannya terhadap Gaza, meskipun telah melakukan serangan udara berkali-kali. Operasi militer Yaman terhadap rezim Zionis Israel terus berlanjut hingga menjelang gencatan senjata di Gaza.

Pada masa kepresidenan pertama Donald Trump, Ansharullah pernah dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris. Namun, keputusan tersebut dicabut pada Januari 2021 setelah Joe Biden menjabat sebagai Presiden AS. Meski begitu, pada 17 Januari 2024, Departemen Luar Negeri AS di bawah Pemerintahan Biden kembali menyatakan Ansharullah sebagai kelompok “teroris”, meskipun tanpa secara resmi memasukkannya ke dalam daftar hitam.

Analisis

Langkah AS ini dinilai sebagai upaya untuk meningkatkan tekanan politik dan militer terhadap Yaman. Namun, reaksi sarkastis dari pejabat Ansharullah menunjukkan bahwa mereka tetap teguh pada prinsip perjuangan dan tidak terpengaruh oleh tekanan eksternal.

Dukungan Yaman terhadap Gaza serta perlawanan terhadap rezim Zionis Israel terus menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas politik dan militer Ansharullah. Keputusan AS ini justru semakin memperkuat narasi perlawanan Yaman terhadap apa yang mereka anggap sebagai hegemoni global yang tidak adil.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *