Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Rumor Kembalinya Saudara Assad Guncang Istana Rezim Al-Jolani

Baghdad Bantah Kehadiran Maher Assad di Irak

POROS PERLAWANAN – Sebuah laporan yang diterbitkan oleh surat kabar berbahasa Arab, Rai Al-Youm pada 25 Januari mengungkapkan bahwa beredarnya rumor mengenai kembalinya saudara dari mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad, Maher al-Assad, telah menimbulkan kepanikan di kalangan kelompok HTS yang menguasai negara itu. Desas-desus ini semakin memperlihatkan betapa rapuhnya kondisi politik, militer, dan media di Suriah.

Kekuasaan kelompok bersenjata di Suriah, yang dibangun di atas fondasi yang sangat rapuh, mudah goyah hanya dengan tersebarnya sebuah rumor.

Menurut laporan Rai Al-Youm, kabar tentang kembalinya Maher al-Assad ke Suriah, bersamaan dengan terlihatnya pesawat-pesawat tempur Rusia di langit Suriah, memicu reaksi panik dari rezim Al-Jolani. Bahkan, rumor ini dilaporkan menyebabkan mundurnya pasukan mereka dari Latakia.

Setelah rumor ini menyebar, sejumlah aktivis dan pengguna media sosial mengganti bendera hijau yang biasa dikaitkan dengan kelompok teroris dengan bendera merah Suriah. Seperti yang dikutip dari Kantor Berita Mehr, pasukan yang mendukung rezim Bashar al-Assad segera melancarkan serangan terhadap posisi Kementerian Dalam Negeri Suriah yang berada di bawah kontrol Al-Jolani. Perkembangan ini dengan jelas menunjukkan betapa rapuhnya situasi politik, militer, dan media di Suriah.

Meskipun aktivitas ISIS setelah pengambilalihan Pemerintahan Suriah, menimbulkan gerakan baru yang cukup mengkhawatirkan, namun langkah tersebut masih dipenuhi ketidakjelasan. Pasalnya, ISIS dan Tahrir al-Sham adalah dua entitas yang memiliki banyak kesamaan, terutama dalam pandangan mereka terhadap komunitas Alawi dan Syiah.

Seperti yang disampaikan oleh Young Journalists Club (YJC), pada dasarnya, Tahrir al-Sham merupakan versi modern dari ISIS. Sejarah kerja sama dan kekejaman yang dilakukan kedua kelompok Takfiri tersebut terhadap masyarakat dan komunitas Syiah selama bertahun-tahun perang di Suriah tidak mungkin dilupakan. Meskipun Al-Jolani dan sekutunya berupaya memperbaiki citra mereka, jejak kelam mereka tetap tak bisa dihapus begitu saja.

Dalam konteks ini, ISIS, yang sering dianggap sebagai alat yang dikendalikan oleh Amerika Serikat, tidak memiliki tujuan yang bertentangan dengan Tahrir al-Sham, yang juga beroperasi di bawah naungan dan kendali Amerika. Oleh karena itu, asumsi bahwa kedua kelompok ini berada dalam posisi berhadap-hadapan tidaklah realistis. Amerika Serikat memiliki sejumlah strategi untuk Suriah, termasuk pembentukan pemerintahan ekstremis yang akan semakin memperkuat pengaruhnya di negara tersebut demi memenuhi kepentingan rezim Zionis.

Selain itu, meskipun konflik yang terus berlanjut antara Tahrir al-Sham dan ISIS dapat membuka celah bagi kehadiran yang lebih besar dari Amerika Serikat di Suriah, hal ini juga memberi ruang bagi kelompok-kelompok oposisi seperti Kurdi Suriah dan Kelompok Perlawanan lainnya. Dalam hal ini, bagi para pendukung Israel, pilihan terbaik adalah mengendalikan situasi di Suriah untuk menciptakan stabilitas dan rekonsiliasi, guna mengurangi potensi pergerakan Kelompok Perlawanan di Kawasan serta menekan ancaman terhadap Israel.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *