Arab Saudi Beri Syarat untuk Normalisasi Hubungan dengan Israel
POROS PERLAWANAN – Arab Saudi menegaskan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel tidak akan terjadi sebelum tercapainya penyelesaian yang adil atas masalah Palestina.
Duta Besar Arab Saudi untuk Inggris, Khalid bin Bandar, dalam wawancara dengan Radio Times pada Senin 27 Januari, menegaskan negaranya tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa penyelesaian konflik Palestina-Israel harus menjadi prioritas utama sebelum mempertimbangkan langkah diplomatik lebih lanjut dengan Israel.
“Kami tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel sebelum masalah Palestina terselesaikan. Solusi yang jelas dan tidak dapat ditawar adalah pembentukan negara Palestina,” ujar Khalid bin Bandar.
Ia menambahkan Arab Saudi selalu terbuka untuk berdialog dan menjalin hubungan dengan berbagai pihak sebagai upaya mendorong kemajuan. Namun, ia menekankan, ada “garis merah” yang tidak bisa dilewati, yakni perlunya mengakhiri penderitaan rakyat Palestina yang telah berlangsung selama lebih dari 75 tahun.
Menurutnya, penyelesaian konflik harus mencakup pendirian negara Palestina yang berdaulat. “Konflik di wilayah ini telah berlangsung selama 6.000 tahun. Hampir setiap peradaban besar dari tiga benua—Asia, Afrika, dan Eropa—telah terlibat dalam perebutan wilayah ini. Ini bukan masalah yang mudah untuk diselesaikan,” tambahnya.
Dubes Saudi juga menekankan bahwa posisi Kerajaan terhadap Palestina sejak lama bersifat konsisten dan tidak berubah. Ia menegaskan hingga komunitas internasional mengakui negara Palestina yang merdeka dalam perbatasan tahun 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota, Arab Saudi tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Arab Saudi terus menyerukan pendekatan yang adil dan komprehensif dalam menyelesaikan konflik ini, katanya, dan menegaskan stabilitas di Kawasan hanya dapat dicapai melalui solusi yang menghormati hak-hak rakyat Palestina.
