Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Trump yang Rakus: Setelah Iran, Kini Greenland, Panama dan Kanada

POROS PERLAWANAN – Iran selama ini kerap menjadi target utama tekanan ekonomi dan sanksi Amerika Serikat (AS). Namun, bagaimana dengan negara-negara lain yang juga menghadapi tekanan ekonomi serupa? Apakah mereka hanya sekadar sekutu, atau sebenarnya korban dari strategi dominasi AS yang lebih luas?

Baru-baru ini, Pemerintahan Donald Trump kembali menerapkan kebijakan proteksionisme yang agresif dengan memberlakukan tarif perdagangan baru. Kanada, salah satu sekutu terdekat AS, kini menjadi sasaran setelah sebelumnya kebijakan serupa diterapkan terhadap China dan Meksiko.

Tarif: Senjata Ekonomi AS terhadap Sekutu dan Lawan

Tarif pada dasarnya adalah pajak atas barang impor yang meningkatkan biaya bagi importir. Pada 1 Februari 2025, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengenakan tarif sebesar 25% terhadap impor dari Kanada dan Meksiko, serta 10% terhadap impor dari China. Meskipun tarif terhadap Meksiko akhirnya ditunda selama 30 hari untuk negosiasi lebih lanjut, Kanada dan China tetap menghadapi beban tersebut.

Bagi Kanada, kebijakan ini berdampak besar. Sebagai mitra dagang utama AS dengan nilai ekspor tahunan sekitar $470 miliar, Kanada menghadapi risiko penurunan permintaan akibat harga yang meningkat. Dampak ekonomi yang diprediksi mencakup perlambatan pertumbuhan PDB, hilangnya lapangan kerja, serta tekanan terhadap nilai tukar mata uangnya.

Menurut seorang pakar urusan Amerika Utara, Amir Ali Abolfath, tarif ini memiliki kemiripan dengan sanksi ekonomi. “Washington menggunakan sanksi terhadap musuh, sementara tarif diterapkan kepada sekutu,” ujarnya dalam wawancara dengan Al Jazeera, dan menambahkan bahwa kebijakan ini merupakan strategi AS untuk mempertahankan dominasi ekonomi globalnya dengan mengorbankan negara lain, termasuk sekutunya sendiri.

Trump, Trudeau, dan Polarisasi Diplomasi

Selain kebijakan tarif, Trump juga memperburuk hubungan dengan sekutu melalui retorika agresifnya. Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, menjadi target serangan verbal Trump di media sosial. Bahkan, Elon Musk ikut serta dalam perdebatan dengan menyebut Trudeau sebagai “gadis” dalam konteks yang merendahkan. Trump dan Musk bahkan sempat bercanda tentang gagasan menjadikan Kanada sebagai “Negara Bagian ke-51 AS”.

Namun, tekanan AS terhadap sekutu tidak hanya terbatas pada tarif dan serangan verbal. Trump pernah mengeklaim ingin “mengambil alih Greenland” dari Denmark, mengubah nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika, hingga melontarkan pernyataan mengenai kemungkinan kendali AS atas Terusan Panama. Klaim-klaim ini mencerminkan pola pikir imperialistik yang mengingatkan pada era kolonialisme.

Seperti yang dikatakan Abolfath dalam wawancara dengan The Atlantic, “Pernyataan dan tindakan ini mengingatkan kita pada saat orang kulit putih pertama kali tiba di Amerika dan mulai mengambil alih tanah orang lain.” Ia menambahkan bahwa perlakuan kasar AS terhadap sekutunya terkadang bahkan lebih ekstrem dibandingkan perlakuannya terhadap negara-negara musuh. “Bagaimana mungkin sekutu mengancam untuk mengambil wilayah negara lain?” tanyanya, menegaskan bahwa dalam perspektif Washington, semua negara harus tunduk pada kepentingan AS atau menghadapi konsekuensi serius.

Iran dan Paradoks Kebijakan AS

Di tengah kebijakan ekonomi agresif AS, muncul refleksi dari Iran—negara yang selama ini dianggap sebagai salah satu musuh utama Washington. Jika AS memberlakukan tarif dan ancaman terhadap sekutunya, bagaimana publik dapat terus percaya tentang narasi bahwa Iran adalah satu-satunya negara yang pantas mendapatkan sanksi dan tekanan?

Fenomena ini menjadi bahan diskusi di media sosial. Seorang pengguna X (Twitter) dari Iran berkomentar sinis, “Apakah saya melewatkan sesuatu? Apakah Kanada juga dituduh mengembangkan senjata nuklir?” Sementara yang lain menimpali, “Mungkin Kanada membantu Gerakan Perlawanan di Texas.”

Di balik sarkasme ini, tersirat pertanyaan yang lebih besar: Apakah AS benar-benar memperlakukan negara-negara lain secara adil, ataukah ia hanya mencari cara untuk mempertahankan dominasinya, bahkan dengan merugikan sekutunya sendiri?

Pada akhirnya, kebijakan AS di bawah Trump menunjukkan bahwa tidak ada sekutu yang benar-benar aman. Hari ini Kanada, besok mungkin negara lain. Namun satu hal yang pasti, strategi ini semakin memperlihatkan wajah politik ekonomi global yang semakin keras dan tidak kompromistis. [PP/MT]

Referensi:

1. Kompas.com. (2025). Trump Resmi Terapkan Tarif Impor ke Kanada, Meksiko, dan China.

2. Antara News. (2025). AS Tunda Tarif Impor dari Kanada Selama 30 Hari, kata PM Trudeau.

3. Detik.com. (2025). Ada Aja Gebrakan Trump Mau Ambil Alih Terusan Panama hingga Greenland.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *