Sekitar 7 Ribu Orang Hilang, Warga Gaza Cari Orang Tercinta di Antara Puing-puing Bangunan Hancur Akibat Perang
POROS PERLAWANAN – Kesepakatan gencatan senjata setelah perang Israel selama 15 bulan di Gaza memberikan kesempatan bagi warga Palestina untuk memeriksa kerugian mereka, mencari kerabat serta orang-orang tercinta, dan memastikan siapa saja yang masih hidup.
Surat kabar Amerika, The Wall Street Journal menerbitkan laporan berjudul “Gazans Search for Thousands of Missing—With No Idea if They’re Alive” pada 4 Februari lalu. Laporan ini membahas pencarian ribuan orang hilang di Jalur Gaza pasca-gencatan senjata, yang jumlahnya diperkirakan mencapai 7.000 orang. Upaya pencarian ini penuh tantangan akibat kendala logistik dan minimnya informasi.
Tragedi Keluarga Mahmoud Abu Hani
Sudah satu tahun sejak keluarga Mahmoud Abu Hani terakhir kali mendengar kabar kepulangannya ke Gaza. Musisi berusia 27 tahun itu, yang lelah hidup di tenda pengungsian di selatan Gaza, memutuskan kembali ke rumahnya di utara dengan berjalan kaki, melintasi wilayah luas yang dikuasai tentara Israel. “Kami hanya ingin tahu di mana dia berada,” kata saudara iparnya, seorang pengungsi di Deir al-Balah.
Sejak awal agresi, Komite Internasional Palang Merah menerima laporan tentang lebih dari 9.000 orang hilang. Sekitar 2.400 orang di antaranya telah ditemukan, tetapi sekitar 7.000 lainnya masih belum diketahui keberadaannya. Palang Merah memperkirakan banyak di antara mereka tidak terlaporkan, kemungkinan terkubur di bawah reruntuhan atau ditahan Israel tanpa pemberitahuan kepada keluarga mereka. Ribuan orang lainnya menghilang tanpa jejak.
Keluarga Mahmoud Abu Hani telah melakukan segala upaya untuk mengetahui nasibnya—apakah ia terbunuh, ditangkap oleh tentara Israel dalam perjalanan, atau masih hidup tetapi tidak dapat dijangkau. Mereka telah mengajukan petisi ke Palang Merah dan meminta informasi dari pihak Israel melalui organisasi hak asasi manusia, tetapi diberi tahu bahwa ia tidak ada dalam daftar tahanan Israel. Keluarga juga menghubungi warga Palestina yang baru saja dibebaskan dari penjara Israel, tetapi tidak ada satu pun yang melihatnya selama masa penahanan.
Dengan penuh harapan, keluarga itu menunggu pembebasan bertahap tahanan Palestina dari penjara Israel sesuai kesepakatan gencatan senjata yang dimulai bulan lalu, berharap Mahmoud ada di antara mereka. Pekan lalu, mereka pergi ke Netzarim, daerah yang dikuasai pasukan Israel dan menjadi rute yang seharusnya dilalui Mahmoud untuk mencapai utara. Di sana, mereka menemukan banyak sisa tulang manusia berserakan, tetapi tidak dapat mengidentifikasi apakah ada yang terkait dengan putra mereka.
Dilema Keluarga Korban: Menolak Mencatat Kematian Tanpa Bukti
Saudara ipar Mahmoud, Jalal mengungkapkan bahwa Mahmoud menyesali keputusannya meninggalkan rumah di utara Gaza bersama orang tua dan saudara-saudaranya akibat perintah evakuasi Israel pada minggu-minggu pertama perang. Keluarga mereka tidak mengenal siapa pun di selatan dan akhirnya hidup di bawah tenda kain goni di dekat tembok sekolah. Penghinaan ini sangat menyakitkan bagi Mahmoud, yang digambarkan keluarganya sebagai pria sensitif dan seorang musisi yang bermain oud (alat musik petik Timur Tengah). Ia pernah berkata kepada keluarganya bahwa ia tidak ingin mati, tetapi juga menolak hidup tanpa martabat.
Kini, Kementerian Kesehatan Gaza meminta keluarga Abu Hani untuk mencatat putra mereka sebagai korban tewas agar namanya dimasukkan dalam daftar resmi korban perang. Namun, keluarga menolak melakukannya tanpa menemukan jasad atau bukti konkret tentang nasibnya. “Kami menolak mencatatnya sebagai syahid tanpa adanya bukti kematiannya. Kasus ini tidak boleh ditutup begitu saja tanpa dasar yang jelas,” tegas Jalal.
Bagi ribuan keluarga yang kehilangan orang tercinta selama perang, kasus ini tidak dapat ditutup sebelum ada bukti yang jelas dan pasti.
Tantangan Mengeluarkan Jenazah dari Reruntuhan
Mengeluarkan jenazah korban dari reruntuhan di Gaza, terutama di kota Gaza dan wilayah utara, merupakan tugas berat dan berbahaya. Banyaknya amunisi yang belum meledak serta bangunan yang runtuh menambah risiko dalam proses pencarian. PBB memperkirakan bahwa, dengan keterbatasan alat berat di Gaza dan pembatasan Israel terhadap impor tambahan, diperlukan lebih dari 20 tahun untuk membersihkan sekitar 50 juta ton puing akibat serangan udara Israel.
Seorang anggota tim pertahanan sipil di lingkungan Tel al-Hawa, kota Gaza, Mustafa Hamdan mengatakan bahwa sejak gencatan senjata, ia telah berpartisipasi dalam banyak operasi pencarian dan penyelamatan, sering kali harus memanjat reruntuhan dan mencari dengan tangan kosong. “Sebagian besar yang kami temukan hanyalah tulang-belulang. Anjing-anjing telah memakan sebagian besar jasadnya,” ujarnya.
Tim pertahanan sipil Gaza kini bekerja dengan kapasitas setengahnya setelah 100 anggota mereka tewas dalam perang, 300 lainnya terluka, dan beberapa ditangkap oleh tentara Israel.
“Kami pikir kami akan bisa beristirahat setelah perang berakhir, tetapi kenyataannya justru semakin sulit dengan lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” tambah Hamdan.
Harapan Keluarga: Apakah Mereka Ditahan Israel?
Beberapa keluarga masih berharap bahwa kerabat mereka yang hilang sebenarnya ditahan oleh Israel, yang telah menangkap ribuan warga Gaza sejak perang dimulai. Sejumlah tahanan diproses dalam sistem penjara Israel, tetapi ada kasus yang nama-nama mereka hilang akibat kesalahan administrasi, menurut kelompok hak asasi manusia Israel. Pihak otoritas penjara menolak memberikan komentar mengenai hal ini.
Selain itu, beberapa orang ditahan di kamp-kamp sementara Israel di dalam Gaza tanpa pernah dicatat secara resmi. Direktur Eksekutif Mokim L’Ma’an (sebuah pusat advokasi hak asasi manusia) Jessica Montell mengatakan, “Saya percaya bahwa orang-orang ini tidak pernah dicatat dalam sistem mana pun. Jika mereka ditahan selama beberapa hari lalu dibebaskan, tidak ada catatan keberadaan mereka. Jika sesuatu terjadi pada mereka setelah pembebasan, tidak ada satu pun informasi tentang mereka.”
Sementara itu, Reem Ajjur telah menunggu kabar tentang suami dan putrinya yang kini berusia lima tahun selama hampir satu tahun. Ketiganya terluka ketika pasukan Israel menyerbu rumah mereka dekat Rumah Sakit Al-Shifa di kota Gaza. Saat itu, tentara memaksanya pergi ke selatan, sementara suami dan putrinya tetap di utara.
“Harapan membuat saya tetap kuat dan tidak menyerah. Saya berharap dan berdoa agar ada kabar tentang mereka segera. Ketidakpastian adalah bagian tersulit,” ujarnya.[PP/MT]
