Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Pendiri IRGC Ungkap Alasan Imam Khomeini Larang Bom Nuklir

Seorang Pendiri IRGC Ungkap Alasan Imam Khomeini Larang Bom Nuklir

POROS PERLAWANAN – Menjelang peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran, aktivis politik era pra-Revolusi Islam dan salah seorang pendiri IRGC, Mohsen Rafighdust melakukan wawancara dengan kanal al-Alam. Dalam wawancara eksklusif tersebut, ia menjabarkan kenangan penyambutan Imam Khomeini dan pengembangan industri pertahanan Iran.

“Di hari itu, saya mengemudikan mobil Imam Khomeini dari bandara Mehrabad ke Behesht-e Zahra. Saya juga bertanggung jawab mengawal beliau,” kata Rafighdust.

“Setelah Shah (Reza Pahlevi) kabur dari Iran, Imam mengumumkan niatnya untuk pulang. PM Iran saat itu, Shapour Bakhtiar berencana menutup bandara. Namun protes rakyat dengan slogan-slogan seperti ‘Jika besok Imam tidak datang, senapan mesin akan dikeluarkan’, membuat bandara kembali dibuka. Kami memilih aula nomor 1 dan menyiapkannya untuk menyambut Imam.”

“Kami menyiapkan sebuah mobil untuk menyambut Imam, yang bagian belakangnya antipeluru. Namun Imam menolak duduk di bagian belakang dan memilih duduk di depan.”

“Kami telah mempersiapkan segala yang diperlukan untuk pekerjaan itu. Namun penyambutan rakyat sangat tak terduga, sehingga mengubah total seluruh program kami. Jarak 34 km dari bandara ke Behesht-e Zahra ditempuh selama 3 jam 40 menit karena jumlah penyambut mencapai 6 juta orang. Orang-orang begitu dekat ke mobil sehingga kaki-kaki mereka menghalangi pandangan dan membuat gelap bagian dalam mobil.”

“Imam dengan penuh percaya diri duduk dalam mobil. Bahkan ketika mobil berguncang karena tekanan massa, beliau berkata,’Tenang saja dan tak usah khawatir. Hal buruk tak akan terjadi.’”

“Saat kami tiba di Behesht-e Zahra, mesin mobil mati. Setir juga terkunci ke arah kanan. Untungnya ada helikopter yang sudah siap di jarak 500 meter. Dengan bantuan para pemuda yang berada di sekitar mobil, kami mendorongnya ke arah helikopter.”

“Saat pindah ke helikopter, saya membuka pintu mobil. Saya memeluk Imam dan mencium kakinya. Kemudian saya sendiri pingsan. Saat siuman, saya mendengar Imam sedang mengeluarkan perintah untuk menggulingkan Pemerintahan Bakhtiar.”

Terkait dengan pembentukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Rafighdust mengatakan,”Sebelum Imam pulang, Syahid Mohammad Montazeri menggulirkan ide pembentukan pasukan untuk menjaga Revolusi. Pemerintah saat itu meminta supaya IRGC berada di bawah pengawasan mereka. Namun setelah berkonsultasi, Imam memutuskan IRGC di bawah pengawasan Dewan Revolusi.”

“Saya orang pertama yang bergabung dengan IRGC dan menjadi Menteri Pasukan IRGC. IRGC terbentuk secara utuh dalam perang Iran-Irak (1980-1988) dan sekarang menjadi pasukan yang kuat.”

“Saya membeli persenjataan pertama untuk IRGC di tahun 1979. Di masa itu, saya pergi ke Lebanon dan bertemu Yaser Arafat. Saya membeli 2.000 pucuk AK-47 dan 500 peluru RPG dari Arafat, lalu membawanya ke Iran.”

“Lantaran embargo internasional dalam hal persenjataan, saya memutuskan untuk memulai jalur produksi senjata. Saat ini, Iran telah mencapai swasembada 100 persen di bidang rudal presisi dan drone modern. Bahkan negara-negara seperti Rusia tidak memiliki teknologi tersebut.”

“Suatu hari, saya melapor kepada Imam bahwa saya telah membentuk 18 grup untuk memproduksi perangkat dan senjata pertahanan, mulai dari amunisi hingga perangkat pertahanan kimia, biologi, dan nuklir. Beliau bertanya,’Apakah itu termasuk bom nuklir juga?’ Saya terdiam. Imam berkata,’Jangan membuat bom nuklir.’ Saat saya hendak keluar, beliau bertanya,’Tahu kenapa kalian tidak boleh membuat bom nuklir?’ Saya menjawab,’Tidak, namun perintah Anda sudah cukup.’ Beliau berkata,’Senjata nuklir bukan senjata perang. Itu akan menyebabkan kehancuran generasi dan pertanian. Kita tidak diciptakan untuk menghancurkan generasi dan pertanian.’”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *