Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Saat Jolani Terus Cari Muka, Tapi Dunia Tak Menggubrisnya

POROS PERLAWANAN – Sebagai “pemimpin baru Suriah”, Abu Mohammad al-Jolani kini menghadapi realitas pahit pemerintahan. Dengan penuh percaya diri, ia mengumumkan lelang impor minyak dan gas dalam jumlah besar, seolah-olah investor akan berbondong-bondong menyelamatkan ekonomi Suriah yang terpuruk.

Namun kenyataannya? Sunyi. Tak satu pun pihak, baik domestik maupun internasional, yang tertarik dengan “kesempatan emas” ini.

Era Baru, Masalah Lama: Suriah di Bawah Kepemimpinan Jolani

Setelah Damaskus jatuh pada 8 Desember 2024, Suriah memasuki babak baru dengan Jolani di tampuk kekuasaan. Ia menjanjikan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan pembangunan infrastruktur. Namun, janji-janji itu kini berbenturan dengan dinding kenyataan: embargo ekonomi, ketidakstabilan politik, dan minimnya kepercayaan dunia internasional.

Lelang Energi yang Tak Dilirik Investor

Dokumen yang bocor mengungkapkan bahwa pemerintahan transisi Jolani membuka lelang impor 4,2 juta barel minyak mentah dan 100 juta ton solar, dengan tenggat 31 Januari 2025. (Reuters – 31 Jan 2025: Syria Turns to Intermediaries for Oil Imports after Low Interest in Tenders, Sources Say).

Terdengar ambisius? Sayangnya, tak ada satu pun perusahaan yang tertarik.

Sebelum pergantian rezim, Assad masih bisa mengandalkan Rusia, Iran, dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) untuk memenuhi kebutuhan energi negara. Kini, setelah Jolani naik takhta, seluruh pasokan itu terputus, meninggalkan rumah sakit, pembangkit listrik, dan infrastruktur penting dalam kegelapan total—baik secara harfiah maupun politis.

Namun, kegagalan lelang ini bukan sekadar masalah logistik. Ini adalah bukti bahwa dunia internasional tak percaya pada kepemimpinan Jolani.

Mengapa Tak Ada Investor yang Mau Ambil Risiko?

1. Ketidakstabilan Politik dan Keamanan

– Suriah masih berstatus medan perang.
– SDF di timur laut, Druze di selatan, Alawi di barat, dan suku-suku Arab di timur—semuanya memiliki hubungan yang jauh dari harmonis dengan pemerintahan baru Jolani.
– Kelompok bersenjata loyalis Jolani sendiri kerap menjadi sumber ketidakstabilan.
– Investor butuh kepastian jangka panjang—sesuatu yang lebih langka daripada listrik di Suriah saat ini.

2. Embargo Ekonomi dan Sanksi Internasional

Meski Jolani mungkin berharap “direstui” Barat, kenyataan berbicara lain. Uni Eropa memang menawarkan peta jalan untuk pelonggaran sanksi, tetapi itu proses panjang dan penuh syarat. (Reuters – 20 Januari 2025: Syria has Issued Public Tenders for Oil and its Products, its Oil Minister Says).

Seorang eksekutif perusahaan minyak Timur Tengah merangkum semuanya dengan satu kalimat: “Kami belum tahu apakah Uni Eropa akan mencabut sanksi atau tidak. Namun yang kami tahu, berinvestasi di Suriah sekarang ibarat menaruh uang di api unggun.”

3. Skema Pembayaran yang Tidak Menarik

– Jolani menawarkan pembayaran kredit, sementara mayoritas perusahaan lebih memilih tunai.
– Pemasok diwajibkan menyetor jaminan finansial sebesar $200.000 hingga $500.000 di bank-bank Suriah sebagai “jaminan pengiriman”.
– Bagi banyak perusahaan, ini lebih mirip jebakan daripada kesepakatan bisnis.

4. HTS Masih Berstatus Organisasi Teroris

– Meskipun berusaha mengubah citra, Haiat Tahrir al-Sham (HTS) yang dipimpin Jolani tetap masuk daftar organisasi teroris Barat.
– Berbisnis dengan pemerintahnya sama saja dengan menantang sanksi internasional.
– Selama status ini tidak berubah, investor yang waras tentu tidak akan bersedia mengambil risiko.

Jolani Terus Mencoba, Dunia Terus Mengabaikannya

Sebagai bentuk kegigihan—atau mungkin keputusasaan—Jolani juga membuka lelang impor 20.000 ton gas cair dengan tenggat 20 Januari 2025. Hasilnya? Persis sama—tak ada peminat. (MEES – 24 Januari 2025: Syria Issues ‘Urgent’ Oil Import Tenders).

Sementara itu, produksi minyak domestik terus merosot hingga hanya 10.000 barel per hari—jauh dari kejayaan 383.000 barel per hari sebelum sanksi internasional pada 2011. (S&P Global – 17 Januari 2025: FEATURE: Syria Seeks to Rebuild Oil and Gas Industry, but Needs Western Backing).

Menteri Perminyakan, Ghiath Diab sendiri mengakui kebuntuan ini: “Kami membutuhkan partisipasi internasional untuk mengaktifkan kembali infrastruktur energi. Tanpa teknologi canggih dan tanpa pencabutan sanksi, hampir mustahil membangun kembali sektor ini.”

Bahkan janji Jolani untuk menyediakan listrik selama 8 jam per hari kini tampak seperti ilusi. Sebaliknya, yang terjadi justru pemadaman total.

Kepemimpinan yang Tak Dibutuhkan Dunia

Meski Jolani berusaha tampil sebagai wajah baru Suriah, tantangan yang dihadapinya jauh lebih besar dari yang ia perkirakan. Kegagalan lelang energi ini hanyalah salah satu dari banyak alarm bahaya yang menandakan:

1. Dunia belum siap dan tidak tertarik berbisnis dengan pemerintahan Jolani.
2. Sanksi ekonomi tetap menjadi penghalang utama pemulihan ekonomi Suriah.
3. Tidak ada investor yang mau membuang uangnya di negara tanpa kepastian politik dan ekonomi.
4. Jolani tetap membawa beban sejarah HTS, yang masih masuk daftar hitam Barat.

Selama semua faktor ini terus menghantui Suriah, rezim Jolani tampaknya akan terus menjalani “puasa investasi” tanpa batas waktu. Tanpa pasokan energi yang memadai, Suriah bisa saja mencetak rekor sebagai negara pertama di abad ke-21 yang benar-benar hidup dalam kegelapan—sebuah pencapaian ironis dalam dunia modern.

Pada akhirnya, tentu saja, janji-janji kemakmuran dan stabilitas dari Jolani akan tetap berkibar indah di udara, seperti bendera baru rezimnya yang perlahan pudar diterpa pahitnya kenyataan. [PP/MT]

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *