Loading

Ketik untuk mencari

Berita Nasional Opini

Apa yang Dibisikkan Erdogan ke Telinga Prabowo?

POROS PERLAWANAN – Tampaknya, Donald Trump tidak puas hanya dengan mengendalikan arah kebijakan Raja Yordania—yang pada Selasa 11 Februari dengan taat menerima perintahnya. Kini, ia mengincar negara-negara Muslim lainnya agar mengikuti jejak yang sama. Dan siapa yang lebih cocok menjadi utusan khusus Trump selain Recep Tayyip Erdogan? Pemimpin Turki ini tampaknya telah menjelma menjadi tangan, kaki, dan mulut Trump dalam misi geopolitiknya.

Dalam kunjungan kenegaraannya ke Indonesia pada 12 Februari di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, tentu ada agenda yang lebih besar daripada sekadar diplomasi biasa. Mengingat rekam jejak Erdogan dalam bermain di berbagai sisi politik internasional, wajar jika ada pertanyaan besar yang muncul: Apakah Erdogan membisikkan pesan Trump ke telinga Presiden Prabowo? Apakah ia sedang mencoba meyakinkan Indonesia untuk menerima relokasi warga Gaza sebagai bagian dari proyek global yang sedang dijalankan?

Jika demikian, maka Indonesia harus berpikir seribu kali.

Trump dan Ambisi Globalnya: Gaza dalam Genggaman Imperialisme

Sementara itu, Trump, dengan segala kebijaksanaan dan kejeniusannya yang tak tertandingi, baru-baru ini mengusulkan untuk mengambil alih Jalur Gaza dalam konferensi pers bersama sahabat sejatinya, Bibi Netanyahu, di Ruang Oval pada 4 Februari. Sejak saat itu, ia terus mengulang-ulang bahwa warga Gaza sedang “hidup dalam neraka”. Luar biasa, akhirnya dia mengakui sesuatu yang sudah jelas bagi dunia!

Namun, sebelum terlalu berambisi menambahkan Gaza ke daftar wilayah yang ingin ia kuasai—setelah Kanada dan Greenland—mungkin ada baiknya ia menjawab pertanyaan sederhana: Siapa sebenarnya yang mengubah Gaza menjadi neraka? Apakah kehancuran ini akibat fenomena alam, atau ada pihak tertentu yang rajin menjatuhkan bom dan menerbangkan jet tempur di atas kepala warga sipil?

Menurut laporan PBB dan organisasi HAM internasional, Gaza telah dihantam lebih dari 70.000 ton bahan peledak sejak Oktober 2023 saja, menewaskan lebih dari 30.000 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak. Namun Trump masih berpura-pura bahwa kehancuran ini adalah misteri yang belum terpecahkan.

Trump juga perlu menjelaskan bagaimana serangan 7 Oktober bisa menjadi alasan yang “sangat masuk akal” untuk menghancurkan seluruh Gaza dan membunuh puluhan ribu orang. Pasti ada logika luar biasa di balik ini—logika yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang menganggap nyawa manusia sebagai statistik dalam laporan perang.

Netanyahu dan Rencana Penghapusan Gaza

Di sisi lain, Netanyahu, yang berdiri tegak di samping Trump selama konferensi pers, tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah atas kehancuran Gaza. Sebaliknya, ia semakin percaya diri ketika Trump dengan penuh semangat mengusulkan “solusi brilian” untuk mengambil alih wilayah tersebut. Netanyahu bahkan menyebut usulan itu “kreatif” dan “revolusioner”.

Tentu saja, karena apa yang lebih kreatif daripada mengusir jutaan orang dari tanah mereka sendiri?

Usulan Trump untuk merelokasi warga Gaza jelas bukan hal baru. Ini tak lebih dari hadiah kecil untuk Netanyahu dan rezimnya, yang dengan penuh kasih menghujani Gaza dengan bom selama 471 hari berturut-turut. Sebuah penghargaan atas kerja keras mereka dalam menciptakan pembersihan etnis yang sistematis.

Namun, di tengah gempuran ini, masih ada satu masalah besar: Ke mana warga Gaza akan dipindahkan?

Jawabannya mungkin ditemukan dalam kunjungan Erdogan ke Indonesia.

Amerika Serikat: “Pembela HAM” yang Mengubah Gaza Menjadi Neraka

Sampai di sini, mari kita beri tepuk tangan meriah untuk Amerika Serikat—sang “pembela hak asasi manusia” yang dengan setia membantu mengubah Gaza menjadi neraka.

Dalam satu tahun terakhir, Washington telah menggelontorkan lebih dari $14 miliar dalam bentuk bantuan militer ke Israel, dengan dalih mempertahankan “keamanan”. Dengan kata lain, AS tidak hanya mendukung, tetapi juga mendanai dan memfasilitasi kehancuran Gaza.

Namun, alih-alih mendukung Netanyahu dalam pembersihan etnis, mungkin ada langkah yang lebih logis: membawa Netanyahu dan para pelaku kejahatan perang lainnya ke Mahkamah Internasional (ICC).

Bahkan, laporan terbaru dari Human Rights Watch dan Amnesty International telah mendokumentasikan dugaan kejahatan perang yang dilakukan Israel di Gaza, dari serangan yang tidak membedakan target, hingga blokade kemanusiaan yang disengaja. Namun tentu saja, bagi AS, hukum internasional hanya berlaku untuk musuh mereka, bukan untuk sekutu kesayangannya.

Indonesia dalam Pusaran Geopolitik: Apa yang Harus Dilakukan?

Jika benar ada upaya dari Trump melalui Erdogan untuk mendesak Indonesia menerima relokasi warga Gaza, maka ini bukan hanya urusan kemanusiaan—ini adalah bagian dari strategi global yang lebih besar.

Apakah Indonesia siap menjadi bagian dari permainan geopolitik ini?

Jika memang Presiden Prabowo Subianto sedang mempertimbangkan permintaan ini, ia harus bertanya:

– Apakah Indonesia benar-benar siap menerima jutaan warga Gaza?
– Bagaimana jaminan keamanan dan kesejahteraan mereka di Tanah Air?
– Apakah ini solusi nyata bagi Palestina atau hanya strategi untuk mempermudah Israel dalam menuntaskan pembersihan etnisnya?

Karena satu hal yang pasti: jika dunia benar-benar peduli terhadap Gaza, maka solusinya bukan merelokasi mereka—tetapi menghentikan genosida yang sedang berlangsung.

Pilihan: Kemanusiaan atau Kepentingan?

Semua ini, tentu saja, dilakukan atas nama “kemanusiaan” dan “perdamaian”.

Karena dalam dunia Trump dan para sekutunya, keadilan dan kemanusiaan bukanlah prinsip, melainkan alat tawar-menawar dalam politik global.

Kini, Indonesia harus memutuskan: Apakah akan berdiri di sisi kemanusiaan, atau justru menjadi bagian dari konspirasi global ini?

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia harus berani bersuara dan bukannya justru menjadi bagian dari permainan geopolitik ini. [PP/MT]

Tags: