Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Hajizadeh: Pertahanan Anti-Balistik, Prioritas Utama Kepemimpinan Iran

POROS PERLAWANAN – Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh menegaskan bahwa proyek pertahanan anti-balistik Iran menjadi perhatian utama kepemimpinan negara. Dalam pernyataannya yang dilaporkan Tasnimnews, ia mengungkapkan bahwa setiap pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Iran selalu dimulai dengan pertanyaan mengenai perkembangan proyek tersebut.

“Setiap kali kami bertemu dengan Yang Mulia, pertanyaan pertamanya adalah: bagaimana perkembangan proyek pertahanan anti-balistik dan ke mana arahnya?” ujar Hajizadeh. Ia mengungkapkan bahwa proyek ini telah dimulai tiga tahun lalu dan diharapkan sistem pertamanya akan siap tahun depan.

Dampak Operasi Badai Al-Aqsa dan Kegagalan Israel

Dalam pidatonya di acara Saf Awal pada Rabu 19 Februari, Hajizadeh menyoroti dampak dari Operasi Badai Al-Aqsa yang dilancarkan Hamas terhadap Israel. Ia mengutip pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran yang menyebut kegagalan Israel dalam menangani operasi tersebut sebagai “kerugian yang tidak dapat diperbaiki”.

Menurutnya, meskipun Israel berupaya menciptakan citra kekuatan yang tak tertandingi, fakta di lapangan menunjukkan kegagalan mereka dalam mencegah Operasi Badai Al-Aqsa dan dalam perundingan gencatan senjata.

“Meskipun banyak syuhada gugur, kesadaran dan kewaspadaan global meningkat. Ini merupakan pencapaian besar bagi Palestina dan pukulan yang tidak dapat dipulihkan bagi Israel,” tegasnya.

Operasi Sadeq: Respons Iran terhadap Serangan Israel

Hajizadeh juga menguraikan secara rinci Operasi Promise 1 dan Operasi Promise 2, yang dilakukan Iran sebagai respons terhadap serangan Israel terhadap konsulat Iran di Suriah.

“Serangan ini terjadi karena kesalahan perhitungan Israel yang mengira Iran tidak akan mengambil tindakan langsung karena ingin menghindari perang,” katanya. Ia menekankan bahwa operasi tersebut diputuskan secara kolektif dan merupakan bagian dari garis merah Iran yang tidak boleh dilanggar oleh pihak mana pun.

Menurutnya, operasi ini membuktikan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk melakukan serangan balasan yang efektif. “Operasi rudal balistik terbesar di dunia telah dilakukan oleh Republik Islam Iran, menunjukkan kapasitas pertahanan dan serangan strategis kami,” tambahnya.

Dominasi Iran dalam Serangan Rudal dan Kelemahan Sistem Pertahanan Israel

Hajizadeh mengungkapkan bahwa dalam Operasi Promise 2, lebih dari 75 persen rudal yang ditembakkan Iran mencapai target.

“Kami meluncurkan 150 hingga 160 drone dalam wilayah Sadeq, dan Barat sendiri mengakui bahwa ini adalah serangan pesawat tak berawak terbesar yang pernah dilakukan Iran,” ujarnya.

Sebagai respons, Israel mengerahkan sistem pertahanan terbesar mereka dengan dukungan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Yordania. Namun, pertahanan ini dinilai gagal.

“Jika operasi kami berlangsung sedikit lebih lama, mereka tidak akan mampu mempertahankan diri,” kata Hajizadeh, mengutip pernyataan seorang pilot F-15 Amerika yang menyatakan kehabisan rudal dalam waktu 20 menit setelah pertempuran dimulai.

Hajizadeh juga menyebut bahwa sistem pertahanan Israel mengalami “kegagalan struktural”, dengan beberapa rudal anti-balistik mereka justru menghantam rudal pertahanan mereka sendiri.

“Sebagian besar kerusakan yang terjadi di Israel berasal dari rudal mereka sendiri yang salah sasaran,” ungkapnya, merujuk pada lebih dari 2.500 klaim asuransi yang diajukan akibat kerusakan oleh sistem pertahanan Israel sendiri.

Strategi Iran dalam Menghadapi Tekanan Global

Dalam pidatonya, Hajizadeh menekankan bahwa Iran tidak hanya fokus pada penguatan militer, tetapi juga memperhatikan stabilitas ekonomi sebagai faktor utama dalam pertahanan negara.

“Kita harus siap menghadapi perang agar perang tidak terjadi. Namun, tantangan utama kita sebenarnya ada di bidang ekonomi, yang memerlukan perhatian khusus,” ujarnya.

Iran, yang sebelumnya hanya menjadi pengimpor senjata, kini telah bertransformasi menjadi salah satu negara produsen dan pengekspor senjata dengan teknologi canggih.

“Kini, sistem pertahanan yang diproduksi Iran bahkan ditiru oleh negara lain,” tambahnya.

Kesiapan Iran dan Proyeksi Masa Depan

Hajizadeh mengungkapkan bahwa proyek pertahanan anti-balistik Iran terus berkembang dan akan diterapkan di beberapa kota besar, termasuk Teheran.

“Kami akan melengkapi Teheran dan beberapa kota besar dengan sistem pertahanan anti-balistik,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah pada tekanan atau negosiasi yang bertujuan untuk membatasi kekuatan pertahanannya.

“Semua ancaman dan sanksi ini bertujuan untuk memaksa kami bernegosiasi, tetapi Iran tidak akan menyerahkan hak-haknya,” tegasnya.

Menurut Hajizadeh, negara-negara Barat saat ini berusaha memperoleh konsesi dari Iran melalui ancaman militer dan ekonomi.

“Mereka mencoba menekan kita dengan berbagai ancaman, tetapi mereka tahu bahwa serangan terhadap Iran tidak dapat ditoleransi. Oleh karena itu, mereka lebih memilih perang psikologis daripada konfrontasi langsung,” ungkapnya.

Iran Siap Menghadapi Tantangan Global

Menutup pidatonya, Hajizadeh menegaskan bahwa Iran akan terus meningkatkan kapasitas pertahanannya di tengah tekanan internasional.

“Jika kita bisa mencapai kemajuan dalam pertahanan dan teknologi, kita juga bisa mengatasi tantangan ekonomi dengan strategi yang tepat,” katanya.

Ia juga mengimbau rakyat Iran untuk tetap tenang dan percaya pada kekuatan pertahanan negara.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Iran kuat dan siap menghadapi segala ancaman,” pungkasnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *