Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Fatamorgana Transatlantik, Pelajaran Pahit Eropa Akibat Terlalu Percaya pada Amerika

Tuduh Uni Eropa Tipu Amerika, Trump Berlakukan Tarif 25% untuk Impor

POROS PERLAWANAN – Kekhawatiran mengenai kemungkinan runtuhnya hubungan antara Amerika Serikat dan Eropa—yang terbentuk dari puing-puing Perang Dunia II—semakin meningkat di sejumlah Ibu Kota Eropa.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam masa jabatan pertamanya pernah menyebut Uni Eropa sebagai “musuh” dan menegaskan bahwa blok tersebut dibentuk untuk merugikan Amerika Serikat secara ekonomi.

Pada Rabu 19 Februari lalu, dalam pertemuan Kabinet pertamanya setelah kembali ke Gedung Putih, Trump melangkah lebih jauh dengan pernyataan yang lebih tajam. Ia menuduh Uni Eropa didirikan untuk “menipu Amerika Serikat”.

Tak lama setelahnya, Trump kembali membuat pernyataan yang mencerminkan jurang pemisah dalam hubungan transatlantik. Ia mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif sebesar 25 persen pada barang-barang impor dari Eropa.

Keretakan Hubungan dengan Eropa

Harian The New York Times pada Kamis 19 Februari melaporkan bahwa sikap Trump tersebut, ditambah dengan pendekatannya yang lebih bersahabat terhadap Rusia serta kebijakan yang mengesampingkan Ukraina, telah menimbulkan keresahan di kalangan pemimpin Eropa.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa saat ini sedang terjadi perdebatan mengenai sejauh mana permusuhan Trump terhadap Eropa. Bahkan, beberapa pihak mulai mencurigai bahwa tujuan utama Trump sebenarnya adalah untuk menghancurkan Uni Eropa.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump dan timnya juga secara terbuka mengkritik NATO dan sesekali menunjukkan sikap yang sejalan dengan kebijakan Rusia.

Wakil Presiden Trump, J.D. Vance, belum lama ini mengkritik kondisi demokrasi di Eropa dan menyerukan agar negara-negara Eropa memberi lebih banyak ruang bagi partai-partai sayap kanan.

Namun, yang paling mengejutkan para pemimpin Eropa adalah keputusan AS dalam pemungutan suara pekan ini di Dewan Keamanan PBB terkait resolusi untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Dalam pemungutan suara tersebut, AS memilih untuk berseberangan dengan sekutu-sekutunya dan, tanpa mengecam invasi Rusia ke Ukraina, justru menyetujui resolusi yang sejalan dengan sikap Moskow dan Minsk.

Masa Depan Hubungan Transatlantik dalam Pertaruhan

Perkembangan ini, yang terjadi dalam kurun waktu hanya sebulan sejak Trump kembali ke Gedung Putih, telah memaksa Eropa untuk kembali mempertimbangkan ketergantungannya pada Amerika Serikat. Bahkan, ada kekhawatiran yang semakin besar mengenai kemungkinan berakhirnya aliansi transatlantik yang telah terjalin sejak Perang Dunia II.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, dalam wawancaranya dengan National Public Radio (NPR) pada Kamis 27 Februari mengungkapkan keheranannya terhadap sikap AS. “Saya ingin tahu apa yang telah dilakukan Eropa hingga pantas diperlakukan seperti ini oleh Amerika Serikat,” ujarnya.

Di Jerman, Pemimpin partai Uni Demokrat Kristen (CDU) yang juga merupakan kandidat kanselir, Friedrich Merz menyatakan bahwa kini semakin jelas bahwa AS tidak terlalu peduli dengan masa depan Eropa.

Merz menyerukan agar Eropa lebih mandiri dari Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa prioritas utama Eropa haruslah membangun kekuatan yang cukup agar tidak lagi bergantung pada Washington untuk pertahanan. “Saya tidak pernah membayangkan harus mengucapkan kata-kata ini dalam sebuah program televisi,” tambahnya.

Eropa dan AS: Sekutu atau Lawan?

Mantan pejabat NATO yang kini menjadi anggota lembaga kajian Council on Foreign Relations, Camille Grand mengungkapkan bahwa hubungan Amerika Serikat dan Eropa memang telah lama diwarnai perdebatan strategis mengenai berbagai isu, mulai dari Irak dan Afghanistan hingga Vietnam.

Namun, menurut Grand, kali ini tampaknya perpecahan antara sekutu di kedua sisi Atlantik meluas ke tiga ranah utama: ideologi, strategi, dan ekonomi.

“Berhadapan dengan permusuhan di semua lini ini adalah sebuah guncangan besar bagi Eropa,” ujarnya. “Jika kita melihat keseluruhan gambaran ini, muncul pertanyaan: apakah kita masih mitra atau justru telah menjadi saingan—atau bahkan musuh?”

Ia menambahkan bahwa saat ini setiap negara di Eropa sedang melakukan evaluasi ulang mengenai hubungan mereka dengan Washington.

Dinamika ini menandai titik kritis dalam sejarah hubungan transatlantik. Apakah aliansi yang telah bertahan selama puluhan tahun akan mampu melewati ujian ini, atau justru akan hancur oleh perubahan politik di Washington? Waktu yang akan menjawabnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *