Kepala Mossad Ungkap Rincian Baru Tentang ‘Pembantaian Pager’ dan Pembunuhan Syahid Sayyid Hasan Nasrallah
POROS PERLAWANAN – Kepala Dinas Intelijen Israel, Mossad, David Barnea mengungkapkan informasi baru terkait operasi rahasia yang disebut sebagai “Pembantaian Pager” serta peran teknologi dalam strategi perang Israel terhadap Hizbullah. Pernyataan ini disampaikan dalam pidatonya pada konferensi tahunan Institut Studi Keamanan Nasional di Universitas Ibrani Reichman pada Senin 24 Februari lalu.
Operasi Walkie-Talkie dan Perang Teknologi
Dalam pidatonya, Barnea mengungkapkan bahwa Operasi Walkie-Talkie pertama kali dikembangkan sekitar satu dekade lalu di bawah kepemimpinan Tamir Pardo dan berlanjut pada era Yossi Cohen. Namun, efektivitasnya terbatas dalam situasi pertempuran tertentu, sehingga Mossad mengembangkan metode lain.
“Ketika kami menyadari bahwa operasi Walkie-Talkie tidak efektif dalam semua situasi pertempuran, kami mulai mencari cara lain untuk melemahkan Hizbullah. Kami akhirnya menemukan metode untuk meledakkan perangkat yang dipasang secara permanen pada tubuh mereka,” ungkap Barnea.
Ia menyebut bahwa beberapa minggu sebelum serangan 7 Oktober, pengiriman pertama berisi 500 pager tiba di Lebanon. Sementara itu, ribuan perangkat komunikasi dari operasi sebelumnya disimpan di gudang-gudang milik Hizbullah.
Serangan Mematikan dan Titik Balik Perang
Menurut Barnea, Mossad menunda aktivasi dua operasi tersebut hingga momen yang dianggap strategis. Ketika akhirnya dijalankan, serangan ini menjadi salah satu pukulan terbesar terhadap Hizbullah.
“Hari ketika ribuan perangkat meledak di tangan teroris Hizbullah akan dikenang sebagai titik balik dalam perang—hari ketika kekuatan tipu daya melampaui kekuatan pergerakan,” kata Barnea.
Ia mengeklaim bahwa serangan ini menunjukkan keunggulan Mossad dalam aspek intelijen, pemahaman musuh, serta kecanggihan teknologi.
“Operasi ini menjadi penanda perubahan arah dalam perang di wilayah utara dan awal dari sepuluh hari yang membalikkan keadaan melawan musuh-musuh kita. Dari titik ini, garis yang jelas bisa ditarik dari peringatan hingga eliminasi Sayyid Nasrallah,” lanjutnya.
Selain itu, Barnea menegaskan bahwa dampak psikologis dari serangan tersebut lebih besar dibandingkan jumlah korban tewas.
“Kemenangan dalam perang tidak diukur dari jumlah mayat atau rudal yang hancur, tetapi dari keberhasilan menghancurkan semangat, moral, dan motif musuh,” tegasnya.
Dampak Serangan dan Implikasi Teknologi
Laporan mencatat bahwa pada 17 September 2023, musuh Israel meledakkan perangkat pager, disusul dengan ledakan walkie-talkie ICOM keesokan harinya. Serangan ini menyebabkan kematian sedikitnya 40 pejuang Hizbullah serta warga sipil, dan melukai sekitar 3.000 orang, termasuk wanita dan anak-anak.
Industri teknologi global yang mengandalkan rantai pasokan terdistribusi turut berperan dalam operasi ini. Setiap perangkat terdiri dari komponen yang bersumber dari berbagai negara, dirakit di tempat lain, dan kemudian dikirim melalui jaringan perdagangan internasional.
Para analis menilai bahwa Mossad mengeksploitasi kebutuhan Hizbullah akan teknologi komunikasi yang lebih aman, seperti pager yang dianggap kurang rentan terhadap penyadapan. Strategi ini bertujuan untuk mengganggu komunikasi dan melemahkan efektivitas Perlawanan di medan perang.
Sejumlah pihak juga menyoroti bagaimana teknologi yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat kini dimanipulasi sebagai alat perang.
“Teknologi bukan lagi sekadar alat bagi Israel dan sekutunya untuk berperang, tetapi juga menjadi instrumen hegemoni kolonial,” ungkap seorang analis pertahanan yang enggan disebutkan namanya.
Selain itu, muncul pula kritik terhadap dominasi Barat dalam penguasaan teknologi tinggi.
“Kekuatan Barat terus mengingatkan dunia bahwa keunggulan teknologi harus tetap berada di tangan mereka. Setiap upaya dari negara-negara seperti Iran, Rusia, atau China untuk mandiri dalam teknologi akan selalu dihadapkan pada tantangan,” tambahnya.
Resistensi dan Tantangan ke Depan
Serangan di Lebanon ini tidak hanya ditujukan pada individu Hizbullah, tetapi juga mengarah pada manipulasi sistem teknologi secara sistematis.
Sejumlah pemimpin Perlawanan menegaskan bahwa kejahatan ini tidak akan menghambat upaya mereka dalam mengembangkan teknologi komunikasi yang lebih aman dan independen.
“Kejahatan ini tidak akan menghentikan Perlawanan dalam menemukan cara baru untuk menjaga keamanan digital, menghindari kontrol teknologi imperialisme, dan memastikan komunikasi tetap independen,” ujar salah satu pejabat Hizbullah.
Sebagai penutup, sumber-sumber di dalam Kelompok Perlawanan menegaskan bahwa mereka akan terus meningkatkan kecanggihan teknologi untuk melawan dominasi intelijen Barat dan memastikan teknologi tetap menjadi alat pembebasan, bukan senjata untuk menghancurkan rakyatnya.
