Duh, Arab Saudi Gelontorkan 100 Juta Dolar untuk Produksi Serial Kontroversial ‘Muawiyah’
POROS PERLAWANAN – Serial ini dikecam luas karena dinilai dapat memicu perpecahan sektarian di dunia Islam. Sejumlah pihak menilai produksi ini sebagai upaya mempromosikan gagasan pewarisan kekuasaan dalam Islam serta mendukung narasi Islam aristokratik.
Investasi Besar Arab Saudi dalam Serial Sejarah
Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Arab semakin aktif memproduksi serial televisi bertema sejarah untuk tayangan khusus bulan Ramadan. Namun, banyak dari produksi ini justru memicu perdebatan di dunia Islam karena dinilai menyentuh isu-isu sensitif yang berpotensi menimbulkan ketegangan sektarian.
Pada Ramadan tahun lalu, Mesir merilis serial Hashashin, yang mengisahkan perjalanan Hassan Sabbah dan sekte Nizari. Serial ini menuai kritik karena dianggap menyajikan narasi yang bias tentang kelompok tersebut. Tahun ini, Arab Saudi menghadirkan Muawiyah—sebuah serial yang sebelumnya sempat ditangguhkan selama dua tahun—dengan anggaran fantastis mencapai 100 juta dolar AS.
Larangan Penayangan di Irak dan Gelombang Kecaman
Sejak 2023, ketika kabar mengenai produksi serial Muawiyah mulai beredar, berbagai tokoh politik dan ulama mengeluarkan pernyataan tegas menentang penayangannya. Salah satu kritik paling awal datang dari Muqtada al-Sadr, pemimpin berpengaruh di Irak, yang dalam sebuah pernyataan resmi menggambarkan Muawiyah sebagai sosok yang memicu konflik sektarian dalam sejarah Islam. Ia memperingatkan bahwa penayangan serial ini berpotensi meningkatkan ketegangan antarmazhab di dunia Islam.
Menanggapi polemik tersebut, pemerintah Irak secara resmi melarang penayangan Muawiyah di seluruh wilayahnya sejak awal bulan Ramadan. Dalam pernyataan yang dikeluarkan otoritas penyiaran Irak, disebutkan bahwa penayangan konten sejarah yang kontroversial dapat memicu konflik sosial dan mengancam stabilitas nasional, terutama di bulan suci Ramadan.
Visi Penulis: “Mengungkap Sisi Manusia dalam Politik”
Khaled Salah, seorang jurnalis Mesir sekaligus penulis skenario Muawiyah, membela serial ini dengan menyatakan bahwa tujuannya bukan untuk menampilkan sejarah sebagai kisah kemenangan dan kekalahan, melainkan untuk menggali sisi manusia dalam politik.
Dalam pernyataan yang ia unggah di media sosial, Salah menulis:
“Muawiyah bukanlah seorang prajurit gagah berani seperti Khalid bin Walid, bukan pula seorang ahli ibadah seperti Ali bin Abi Thalib. Ia juga bukan penghafal Al-Qur’an seperti Abdullah bin Mas’ud, atau sahabat Nabi yang dekat seperti Hudzaifah bin Yaman dan Ammar bin Yasir. Namun, ia adalah seorang pemikir yang sejak kecil memahami bahwa tidak semua kemenangan diraih di medan perang. Ia percaya bahwa perang bukan selalu merupakan solusi, melainkan sering kali menjadi perangkap bagi mereka yang bertindak gegabah. Kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu tetap tegak saat yang lain tumbang, serta mengelola konflik dengan strategi dan akal, bukan dengan emosi.”
Namun, pernyataan ini justru memicu lebih banyak kontroversi. Sejumlah ulama dan sejarawan menilai bahwa pendekatan yang diambil dalam serial ini berpotensi menyajikan narasi yang bertentangan dengan fakta sejarah serta tradisi Islam yang telah diterima luas.
Muawiyah: Tokoh Kontroversial dalam Sejarah Islam
Muawiyah bin Abu Sufyan adalah salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Islam. Ia dikenal sebagai pendiri Dinasti Umayyah dan khalifah pertama dari dinasti tersebut. Serial Muawiyah, yang diproduksi dalam bahasa Arab Fushah (Arab baku), mengangkat berbagai peristiwa besar dalam sejarah Islam, mulai dari pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan, pemerintahan Imam Ali (as), kepemimpinan Imam Hasan (as), hingga masa kekuasaan Muawiyah dan putranya, Yazid bin Muawiyah, yang berpuncak pada tragedi Karbala dan pembantaian Imam Husain (as) serta para pengikutnya.
Dalam serial ini, peran Muawiyah diperankan oleh aktor Suriah Lujain Ismail, sementara karakter Imam Ali (as) diperankan oleh aktor Yordania Eyad Nassar.
Namun, serial ini menuai kritik tajam dari berbagai kalangan, terutama terkait dengan penyajian tokoh Muawiyah. Salah satu poin kritik utama adalah penggambaran Muawiyah sebagai “penulis wahyu,” padahal dalam banyak sumber Islam, statusnya sebagai penulis wahyu masih diperdebatkan. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa Muawiyah hanya bertugas sebagai penulis surat biasa untuk Rasulullah (saw), bukan sebagai penulis wahyu ilahi.
Protes Publik dan Polemik di Media Sosial
Di berbagai platform media sosial, serial ini disambut dengan gelombang kritik dan protes. Salah satu tagar yang viral adalah #MuawiyahSandalMuminin, yang digunakan oleh netizen untuk menyampaikan ketidaksetujuan mereka terhadap serial tersebut. Beberapa pengguna media sosial berbahasa Arab bahkan membagikan cuplikan dari serial Imam Ali (as) yang menggambarkan pertempuran Shiffin, di mana Amr bin Ash—sekutu Muawiyah—melucuti pakaiannya untuk menghindari serangan dari pasukan Imam Ali (as).
Seorang pengguna media sosial menulis:
“Tujuan dari serial Muawiyah yang ditayangkan di jaringan MBC milik Arab Saudi adalah untuk menyebarkan gagasan pewarisan kekuasaan dalam Islam. Serial ini selaras dengan ideologi Al-Saud yang menganut sistem monarki. Selain itu, konsep Islam aristokratik yang dikembangkan Muawiyah juga terlihat jelas dalam serial ini.”
Tujuan Arab Saudi: Strategi Politik di Balik Serial Sejarah
Serial Muawiyah bukan sekadar produksi televisi bernuansa sejarah, tetapi juga merupakan alat propaganda media yang bertujuan membentuk opini publik serta mendukung kepentingan politik tertentu. Dengan investasi sebesar 100 juta dolar, Arab Saudi jelas menganggap proyek ini sebagai langkah strategis, bukan sekadar tontonan hiburan belaka.
Mengangkat tokoh seperti Muawiyah dalam serial berbiaya tinggi menunjukkan adanya upaya untuk membentuk narasi baru mengenai sejarah Islam, yang kemungkinan besar berorientasi pada kepentingan geopolitik kerajaan Saudi.
Karena tokoh Muawiyah merupakan figur yang sangat kontroversial dalam sejarah Islam, reaksi keras terhadap serial ini bukanlah hal yang mengejutkan. Cara penggambarannya dalam Muawiyah berpotensi menimbulkan berbagai interpretasi yang berbeda, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah.
Bagi sebagian pihak, serial ini dianggap sebagai upaya mendistorsi sejarah untuk menguatkan legitimasi ideologi monarki yang dianut oleh Arab Saudi. Sementara bagi yang lain, serial ini merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali narasi Islam aristokratik yang diwariskan dari era Dinasti Umayyah.
Apa pun motif di balik produksinya, jelas bahwa Muawiyah bukan sekadar sebuah drama sejarah biasa, tetapi juga sebuah produk media yang memiliki dampak sosial dan politik yang luas di dunia Islam.
