Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Bagaimana Hamas Akan Dipimpin Pascakesyahidan Yahya Sinwar dan Ismail Haniyeh?

POROS PERLAWANAN – Sebuah media berbahasa Ibrani telah menerbitkan laporan mengenai kondisi kepemimpinan Hamas, termasuk sayap militer Gerakan tersebut, pascakesyahidan Yahya Sinwar dan Ismail Haniyeh.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnimnews dan situs berita Ynet yang diterbitkan pada Sabtu malam 15 Maret, Muhammad al-Sinwar—yang saat ini merupakan penerus de facto saudaranya dalam komando militer—bersama dengan sebuah Komite sementara yang beranggotakan lima orang, bertanggung jawab atas urusan politik Hamas.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa di tengah kekacauan akibat Perang Pedang Besi dan setelah serangkaian pembunuhan terhadap tokoh-tokoh penting seperti Ismail Haniyeh, Hamas membentuk sebuah Komite Kepemimpinan sementara yang terdiri dari lima orang. Anggota Komite ini meliputi Khaled Meshaal, Khalil Al-Hayyah, Zaher Jabarin, Mohammad Darwish, dan Nizar Awadallah. Nama-nama tersebut awalnya dirahasiakan oleh media karena alasan keamanan.

Selain mereka, Muhammad al-Sinwar, saudara mendiang Syahid Yahya al-Sinwar yang terbunuh di Rafah, juga terlibat dalam pengambilan keputusan strategis Hamas.

Menurut laporan media ini, setelah kematian Syahid Sinwar, para pejabat Hamas mengadakan pertemuan untuk menentukan penggantinya. Mereka memutuskan bahwa Organisasi akan terus berjalan sebagaimana adanya hingga pemilihan pemimpin baru, yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Maret. Namun, belum jelas apakah pemilihan tersebut akan tetap diadakan sesuai jadwal. Jika pemilihan berlangsung, Hamas kemungkinan akan memilih pemimpin barunya dari kalangan tokoh ekspatriat.

Laporan juga menyoroti peran Nizar Awadallah yang semakin menonjol dalam Hamas, terutama dalam negosiasi yang saat ini berlangsung secara rahasia dan menghasilkan gencatan senjata di Jalur Gaza serta pertukaran tahanan. Sumber-sumber yang mengetahui situasi ini mengeklaim bahwa Awadallah adalah tokoh utama dalam negosiasi tersebut, meskipun secara publik Khalil al-Hayyah diperkenalkan sebagai pemimpin Hamas di Jalur Gaza dan tokoh utama dalam perundingan tersebut. Dalam praktiknya, Awadallah bertindak sebagai Kepala delegasi secara de facto, sementara al-Hayyah lebih sering tampil sebagai Juru Bicara media Hamas.

Ynet juga melaporkan bahwa Awadallah memiliki popularitas tinggi di kalangan anggota Hamas. Dalam Pemilu internal Hamas pada 2021, ia mencapai putaran kedua sebelum dikalahkan oleh Yahya Sinwar dengan selisih tipis.

Dalam laporan yang sama, Ynet mengutip pernyataan Muhammad al-Sinwar yang diidentifikasi sebagai tokoh penting dalam kepemimpinan militer Hamas. Disebutkan bahwa ia memegang posisi tinggi di sayap militer Hamas dan saat ini bertanggung jawab membangun kembali kekuatan tempur Kelompok tersebut, termasuk mengawasi para tahanan yang masih ditahan di terowongan bawah tanah.

Salah satu tokoh kunci lainnya adalah Izz al-Din Haddad, yang dikenal sebagai “hantu Hamas” atau “hantu Al-Qassam”. Ia dianggap sebagai salah satu Pemimpin senior Hamas dan Komandan utama Operasi Badai Al-Aqsa. Sehari sebelum operasi berlangsung, Haddad diam-diam mengumpulkan para komandan batalion dan memberikan instruksi yang menekankan pentingnya menangkap sebanyak mungkin tentara Israel serta membawa mereka ke Jalur Gaza dalam tahap awal operasi. Selain itu, ia juga menginstruksikan agar proses tersebut didokumentasikan secara rinci.

Menurut laporan Ynet, Haddad telah beberapa kali selamat dari upaya pembunuhan Israel, meskipun kedua putranya—yang juga memegang posisi komando—tewas dalam konflik terbaru.

Laporan tersebut diakhiri dengan pernyataan bahwa setelah 17 bulan perang, Hamas masih mengendalikan Jalur Gaza meskipun mengalami serangan intensif dan kehilangan banyak pemimpin utamanya.

Hamas tetap mempertahankan struktur organisasinya, mengelola distribusi bantuan kemanusiaan, serta merekrut pasukan baru. Menurut sumber-sumber di Gaza, Muhammad al-Sinwar telah menginstruksikan perekrutan pasukan secara cepat, dan saat ini Hamas diperkirakan memiliki sedikitnya 20.000 personel di Jalur Gaza. [PP/MT]

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *