Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Haaretz: Netanyahu Mengorbankan Nyawa Tahanan Israel Demi Kepentingan Pribadinya

air mata sudah habis

POROS PERLAWANAN – Surat kabar berbahasa Ibrani Haaretz pada Rabu (19/3) melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah berbohong mengenai hambatan dalam negosiasi dengan Hamas. Menurut Haaretz, bukan Hamas yang melanggar perjanjian gencatan senjata, melainkan Israel. Surat kabar tersebut juga menegaskan bahwa Netanyahu sengaja mengorbankan nyawa para tahanan Israel di Gaza demi menyelamatkan dirinya dan kabinetnya dari kehancuran.

Dalam tajuk rencananya, Haaretz menyoroti dimulainya kembali perang di Jalur Gaza dan mengungkapkan bahwa Netanyahu tidak berkata jujur ketika menyatakan bahwa pertempuran kembali berkobar karena “Hamas telah melanggar perjanjian gencatan senjata dan menolak membebaskan tahanan Israel yang tersisa di Gaza.”

Selain itu, Haaretz menegaskan bahwa Netanyahu bersedia membayar harga demi menarik kembali Itamar Ben-Gvir, menteri kabinetnya yang sebelumnya mengundurkan diri. Namun, harga yang dibayarkan bukan berasal dari kantongnya sendiri, melainkan dengan mengorbankan nyawa 59 tahanan Israel yang berisiko tewas jika perang di Gaza terus berlanjut.

Media Zionis tersebut juga menyoroti pernyataan dari kantor Netanyahu yang menyebutkan bahwa “serangan terhadap Gaza dilanjutkan setelah Hamas berulang kali menolak untuk mengembalikan tahanan Israel dan menolak semua usulan dari Amerika Serikat serta mediator untuk gencatan senjata.” Namun, Haaretz menegaskan bahwa pernyataan ini adalah kebohongan besar dan bahwa Israel-lah yang berulang kali melanggar perjanjian gencatan senjata, bukan Hamas.

Analisis dan Implikasi

Dalam laporannya, Haaretz menyoroti tindakan Israel yang mengingkari janjinya untuk menarik pasukan dari Koridor Philadelphia, serta kebijakan yang menghambat masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza dengan menutup perbatasan di jalur tersebut. Tindakan militer Israel ini tidak hanya membahayakan nyawa para tahanan, tetapi juga pasukan Israel sendiri, serta menyebabkan kehancuran yang semakin parah di Gaza.

Negosiasi tahap kedua dalam perjanjian gencatan senjata seharusnya dimulai pada hari ke-16 sejak tahap pertama, dengan tujuan membebaskan seluruh tahanan Israel secara bertahap. Namun, kabinet Israel justru menggagalkan proses tersebut.

Media berbahasa Ibrani ini juga menegaskan bahwa Netanyahu mengorbankan para tahanan Israel demi mempertahankan kabinetnya dari kehancuran. Baik Netanyahu maupun sekutunya tampaknya tidak peduli terhadap kemarahan keluarga para tahanan. Bagi mereka, menjaga stabilitas pemerintahan ekstremis serta memastikan anggaran tetap berjalan jauh lebih penting dibandingkan kehidupan para tahanan.

Perkembangan Terbaru

Setelah dua bulan jeda perang akibat gencatan senjata yang rapuh, pada Selasa dini hari, Israel mengumumkan bahwa mereka telah kembali melancarkan serangan terhadap Gaza. Sementara itu, gerakan Hamas menyatakan bahwa mereka telah menyetujui proposal gencatan senjata yang diajukan para mediator dengan sejumlah amandemen. Namun, menurut situs berita Amerika Axios, Israel tetap melanjutkan operasi militernya setelah Hamas menolak proposal AS terkait perpanjangan gencatan senjata.

Perusahaan Penyiaran Israel mengumumkan bahwa Angkatan Udara Israel telah melancarkan gelombang serangan besar-besaran di Jalur Gaza, yang diperintahkan langsung oleh Perdana Menteri Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant.

Kantor Netanyahu merilis pernyataan yang menyatakan bahwa “serangan terhadap Gaza dilanjutkan setelah Hamas berulang kali menolak mengembalikan tahanan Israel dan menolak semua usulan dari utusan AS, Steve Whittaker, serta mediator lainnya.” Namun, laporan Haaretz dan sumber lainnya menunjukkan bahwa Israel telah lebih dulu memutuskan untuk melanjutkan perang sebelum Hamas menanggapi usulan tersebut.

Selain itu, meskipun pemerintahan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump mengklaim sedang menengahi gencatan senjata di Gaza, situs Axios mengutip pejabat Zionis yang menyatakan bahwa Israel telah memberitahukan kepada pemerintah AS tentang keputusan mereka untuk melanjutkan perang. Ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat mengetahui dan memberikan dukungan terhadap keputusan Israel untuk kembali melakukan serangan terhadap Gaza.

Penutup

Laporan Haaretz menyoroti bagaimana Netanyahu lebih mementingkan kelangsungan politiknya dibandingkan keselamatan para tahanan Israel dan rakyat Gaza. Israel berulang kali melanggar perjanjian gencatan senjata, sementara komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat, tampaknya tetap memberikan dukungan terhadap tindakan Israel. Situasi ini semakin memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza dan meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *