Perang Baru di Gaza: Israel Catat Rekor Pembunuhan Anak dalam Sehari
POROS PERLAWANAN – Pada hari kedua sejak dimulainya kembali serangan brutal Israel terhadap Gaza, jumlah korban jiwa di wilayah tersebut telah meningkat menjadi 440 orang, mayoritas di antaranya adalah wanita dan anak-anak. UNICEF menyatakan bahwa Israel telah mencatat jumlah pembantaian anak terbesar dalam satu hari, menyoroti krisis kemanusiaan yang semakin memburuk.
Menurut laporan Tasnimnews pada Rabu (19/3), serangan udara oleh militer Israel terus menggempur berbagai wilayah di Jalur Gaza. Jumlah korban tewas telah melampaui seribu jiwa, sementara pemboman masih berlanjut tanpa henti.
Serangan yang Meningkat di Berbagai Wilayah Gaza
Serangan brutal tentara Israel telah menewaskan lebih dari 10 orang di berbagai wilayah Gaza. Pagi ini, media Palestina melaporkan bahwa pesawat tempur Israel menyerang sebuah kamp pengungsi di Jalan Abedin, sebelah barat Khan Yunis, di Gaza selatan. Akibat serangan tersebut, empat warga sipil tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka.
Selain itu, serangan udara di Khan Yunis dan Rafah pada pagi yang sama telah meningkatkan jumlah korban tewas menjadi 10 orang. Di Kota Gaza bagian selatan, tiga warga Palestina terbunuh dan beberapa lainnya terluka dalam pemboman sebuah rumah di lingkungan Sabra.
Jet tempur dan helikopter Israel juga dilaporkan berulang kali menyerang kamp-kamp pengungsi, termasuk Al-Mawasi di barat Khan Yunis serta barat Rafah. Serangan ini menyebabkan kematian sejumlah warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.
Jumlah Korban Tewas Meningkat Signifikan
Artileri Israel dilaporkan menembaki wilayah timur kamp Al-Buriej, sementara drone militer mereka menembakkan peluru ke arah timur lingkungan Shojaiyeh. Serangan udara yang semakin intens di Gaza selatan dan tengah, termasuk di lingkungan Sabra, telah menambah jumlah korban tewas secara signifikan.
Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa jumlah korban yang gugur akibat serangan Israel di Khan Yunis, Rafah, dan Kota Gaza telah meningkat menjadi 14 orang pada pagi hari ini. Serangan lain terhadap sebuah rumah di Deir al-Balah, pusat Jalur Gaza, juga terjadi, meskipun jumlah korban masih belum diketahui. Secara keseluruhan, sejak kemarin jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah mencapai 440 jiwa, dengan ratusan lainnya mengalami luka-luka.
Rekor Pembantaian Anak oleh Israel
Catherine Russell, Direktur Eksekutif UNICEF, menyatakan bahwa serangan terbaru Israel di Jalur Gaza telah mencatat pembantaian anak-anak terbesar dalam satu hari. Data dan gambar dari Gaza menunjukkan betapa mengerikannya situasi yang dihadapi anak-anak di wilayah tersebut. Laporan menyebutkan, lebih dari 130 anak-anak terbunuh hanya dalam beberapa jam sejak Selasa pagi, menjadikannya hari dengan jumlah korban anak tertinggi yang tercatat.
Russell menekankan, “Serangan Israel baru-baru ini menargetkan tempat perlindungan sementara tempat anak-anak dan keluarga mereka tidur.” Ia menambahkan, kejadian ini semakin menegaskan kenyataan mengerikan bahwa tidak ada tempat yang aman di Gaza. Ditambah dengan serangan berulang dan penolakan bantuan kemanusiaan, kondisi ini semakin memperburuk situasi anak-anak di Gaza. Saat ini, sudah 16 hari sejak terakhir kali truk bantuan kemanusiaan diizinkan masuk ke wilayah tersebut.
“Satu juta anak di Gaza telah menghadapi penderitaan perang yang mengerikan selama lebih dari 15 bulan. Mereka kini hidup dalam ketakutan dan di bawah ancaman kematian. Serangan terhadap Gaza harus segera dihentikan. Kami menyerukan kepada semua pihak untuk menghormati hukum humaniter internasional, segera mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk, dan melindungi warga sipil,” tambahnya.
Respon Internasional terhadap Serangan Israel
Aaron David Miller, mantan analis dan negosiator Departemen Luar Negeri AS, menanggapi serangan terbaru Israel dengan menyatakan bahwa dia tidak terkejut dengan insiden ini. Menurutnya, kemungkinan mencapai kesepakatan melalui jalur diplomasi sangat kecil.
Miller menegaskan, Hamas tidak akan membebaskan semua tahanan Israel, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, kecuali ada jaminan nyata bahwa militer Israel akan sepenuhnya menarik diri dari Gaza dan mengakhiri perang. Namun, baik PBB maupun Amerika Serikat tidak memberikan jaminan seperti itu kepada Hamas.
Ia juga menambahkan, “Hamas tidak akan pernah hilang, dan pengaruhnya di Gaza tetap kuat.”
Perang yang terus berlanjut di Jalur Gaza semakin memperburuk krisis kemanusiaan, sementara komunitas internasional terus mendesak agar pertempuran segera dihentikan demi melindungi warga sipil yang tidak bersalah.
