[EDITORIAL] Idul Fitri: Merayakan Kemenangan, Meneguhkan Spirit Perlawanan terhadap Ketidakadilan dan Penindasan
POROS PERLAWANAN – Di antara gemuruh takbir yang menggetarkan langit pagi, di balik kemeriahan baju baru dan hidangan ketupat, terselip sebuah pertanyaan esensial: Sudahkah kita benar-benar kembali ke fitrah dan telah berhasil meraih ketakwaan?
Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah bukan sekadar perayaan yang menandai akhir Ramadan. Lebih dari itu, Idul Fitri merupakan momentum reflektif bagi setiap Muslim untuk menakar sejauh mana perubahan diri setelah satu bulan penuh menjalani ibadah dan pengendalian diri. Ramadan tidak hanya mengajarkan manusia untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengasah kepekaan sosial, memperkuat spiritualitas, serta membangun karakter yang lebih bijaksana dan penuh empati terutama kepada mereka yang tertindas dan terzalimi, di setiap tempat, di segala zaman.
Kita dapat memaknai Idul Fitri sebagai hari kemenangan, yang bukan sekadar momen berakhirnya puasa, tetapi juga simbol kebebasan jiwa dari belenggu hawa nafsu, kebangkitan hati dari keterpurukan dan tipu daya setan, serta tumbuhnya semangat persaudaraan yang semakin kuat di tengah umat. Namun, di balik takbir yang menggema di tanah-tanah lapang dan masjid-masjid kita, masih ada ratapan pilu dari saudara-saudara kita di Palestina, Yaman, dan berbagai belahan dunia lainnya yang hingga kini hidup dalam bayang-bayang agresi dan belenggu penjajahan.
Di Palestina, yang dikenal sebagai tanah para nabi dan negeri yang seharusnya menjadi saksi damai dan keadilan, sudah sekian lama suara takbir Idul Fitri masih bercampur dengan raungan sirene dan senjata berdentuman. Anak-anak yang harusnya bersukacita dan berlarian di lapangan dengan baju baru, kini hanya bisa menangis di bawah rumah mereka yang sudah berubah menjadi reruntuhan. Sementara di Yaman, negeri yang dahulu dikenal dengan peradabannya yang luhur, kini rakyatnya dipaksa bergulat dengan kelaparan, perang yang dipaksakan, dan serangan demi serangan berkelanjutan dari sekelompok agresor tak berperikemanusiaan.
Fakta yang lebih mengenaskan adalah karena ketidakadilan ini tidak hanya terjadi di Palestina dan Yaman. Di Rohingya, Myanmar, etnis Muslim terusir dari tanah mereka sendiri. Di Kashmir, kebebasan masih dibelenggu oleh konflik berkepanjangan. Di berbagai penjuru Afrika, Asia, dan bahkan di negara-negara maju, rakyat kecil terus menjadi korban eksploitasi dan ketimpangan global. Bagaimana kita bisa merayakan kemenangan, sementara saudara-saudara kita bahkan tak punya tempat untuk sekadar bersujud kepada-Nya dengan tenang?
Islam mengajarkan bahwa Idul Fitri bukan hanya tentang kebahagiaan pribadi, melainkan juga momentum untuk menguatkan solidaritas dan menegakkan keadilan. Rasulullah s.a.w mengajarkan bahwa umat Islam itu bagaikan satu tubuh: jika satu bagian sakit, seluruh tubuh turut merasakan perihnya. Maka, penderitaan bangsa-bangsa yang tertindas adalah luka kita semua, dan perlawanan mereka terhadap para penindas mestinya juga menjadi tanggung jawab agama, moral, dan kemanusiaan kita.
Di saat dunia semakin bungkam dicekam ketakutan pada ancaman, umat Islam mestinya semakin lantang menyuarakan dan memperjuangkan tegaknya keadilan. Perjuangan rakyat Palestina, Yaman, dan bangsa-bangsa tertindas lainnya bukan sekadar perlawanan politik, tetapi jihad mempertahankan hak asasi manusia, menegakkan martabat, dan melawan kesewenang-wenangan. Namun, lebih dari sekadar kepedulian, Islam menuntut kita untuk bertindak sesuai prinsip yang diajarkan Rasulullah s.a.w: menegakkan keadilan, melawan kebatilan, dan tidak tunduk pada tirani kaum arogan. Sebab kemenangan sejati bukan hanya terbebas dari belenggu fisik, melainkan juga dari mentalitas takut dan tunduk kepada kezaliman.
Umat Islam harus menjadikan prinsip Islam sebagai pedoman untuk berlaku adil dan melawan ketidakadilan. Al-Qur’an telah menegaskan: “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah:8). Selain itu, Allah juga berfirman: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud:113). Ayat ini menjadi pengingat bahwa keberpihakan terhadap kezaliman, sekecil apa pun, dapat membawa kita pada kebinasaan.
Perlawanan terhadap penindasan bukan hanya tugas aktivis kemanusiaan dan para mujahid atau pejuang di medan perang, melainkan juga kewajiban setiap Muslim sesuai dengan kapasitasnya masing-masing—dengan doa, dengan dukungan, dengan harta, dan dengan suara lantang yang terus menyerukan kebenaran.
Idul Fitri mengajarkan kita untuk merayakan kemenangan dengan cara yang benar: menghidupkan kembali nilai-nilai keadilan, memperkuat empati, dan memastikan bahwa kita tidak diam terhadap penindasan. Sebab, kemenangan sejati bukan hanya tentang diri kita, melainkan juga tentang membebaskan mereka yang masih terjajah dan berada di bawah penindasan tirani arogan.
Mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai momentum kebangkitan, bukan sekadar perayaan seremonial keagamaan. Mari kita tegakkan kembali semangat perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang luhur. Karena dalam gema takbir yang kita lantunkan, ada lantunan doa yang selayaknya terus menggema: Allahu Akbar! Keadilan pasti menang, dan seluruh bangsa di segala penjuru dunia mesti terbebas dari ketidakadilan dan penindasan!
Akhirnya, seluruh tim POROS PERLAWANAN mengucapkan; Minal Aidin wal Faizin, Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. []
