Puluhan Ribu Warga Mesir Turun ke Jalan Dukung Palestina dan Program el-Sisi untuk Rekonstruksi Gaza
POROS PERLAWANAN – Puluhan ribu warga Mesir turun ke jalan di Ibu Kota Kairo pada Senin 31 Maret setelah melaksanakan salat Idul Fitri, dalam aksi solidaritas mendukung rakyat Palestina dan menolak pengusiran paksa warga Gaza.
Menurut laporan Kantor Berita Farsnews, Kairo menyaksikan demonstrasi besar yang jarang terjadi dalam mendukung Palestina dan rakyat Gaza. Aksi ini dimulai setelah salat Idul Fitri di depan Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq di kawasan Masaken Sheraton, Kairo, dan diikuti oleh ribuan peserta.
Para demonstran mengibarkan bendera Palestina dan Mesir serta membawa plakat berisi slogan-slogan dukungan bagi Palestina. Mereka juga meneriakkan seruan solidaritas terhadap rakyat Gaza, yang terus menghadapi tekanan akibat agresi yang berkepanjangan.
Selain itu, massa yang hadir menyuarakan dukungan terhadap program Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi untuk rekonstruksi Gaza. Plakat-plakat yang mendukung el-Sisi menunjukkan bahwa aksi ini berlangsung dengan dukungan Pemerintah.
Tak hanya di Kairo, demonstrasi serupa juga digelar di puluhan kota lain, termasuk Damietta, Beheira, Gharbia, Port Said, Bani Suef, dan Daqahliya. Masyarakat Mesir dalam berbagai kesempatan telah menegaskan dukungan mereka terhadap hak-hak rakyat Palestina, menolak segala upaya untuk mengesampingkan isu Palestina dalam kebijakan regional.
Sementara itu, perdebatan di kalangan politik Mesir semakin meningkat mengenai perlunya keseimbangan antara tuntutan rakyat dan kebijakan dalam negeri, terutama mengingat puluhan pemuda Mesir telah ditangkap karena menyuarakan dukungan terhadap Palestina.
Pemerintah Mesir secara resmi melarang segala bentuk perkumpulan dan demonstrasi di luar kendali otoritas negara, dengan sering mengaitkan aksi semacam itu dengan kelompok Ikhwanul Muslimin (IM). Namun, dalam beberapa bulan terakhir, dinamika politik tampak mengalami perubahan. Kairo semakin khawatir dengan rencana Donald Trump yang ingin memindahkan warga Gaza ke wilayah Mesir, yang dianggap sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional negara itu. Dalam konteks ini, demonstrasi besar-besaran yang terjadi dapat dianggap sebagai dukungan rakyat bagi el-Sisi dalam menolak rencana tersebut.
Pada awal bulan ini, Kairo menjadi tuan rumah pertemuan darurat para pemimpin Arab, di mana Mesir mengajukan rencana komprehensif untuk rekonstruksi Gaza. Dalam pertemuan tersebut, Mesir meminta para pemimpin negara-negara Arab untuk mendukung rencana ini sebagai alternatif terhadap inisiatif yang diusulkan Donald Trump.
Berdasarkan rencana Mesir, rekonstruksi Gaza akan dilakukan dalam beberapa tahap untuk menangani krisis kemanusiaan dan menciptakan stabilitas keamanan. Langkah-langkah tersebut mencakup pembersihan puing-puing, perbaikan infrastruktur seperti jaringan listrik, air, dan saluran pembuangan, serta penyediaan perumahan sementara bagi para pengungsi selama tahap pemulihan awal yang diperkirakan berlangsung sekitar enam bulan.
Selain itu, administrasi Jalur Gaza direncanakan akan berada di bawah pengawasan Pemerintah Otoritas Palestina melalui sebuah komite administratif guna memastikan stabilitas dan keberlanjutan proyek rekonstruksi di wilayah tersebut.
