Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Gagal Tekuk Yaman, Apa Pesan AS Kali ini untuk Iran?

POROS PERLAWANAN – Setelah dua dekade konflik militer di Timur Tengah, Amerika Serikat kembali menghadapi jalan buntu di Yaman. Presiden Donald Trump, yang memulai serangan udara ke Yaman dengan nada ancaman dan maksud “mengirim pesan kepada Teheran”, kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit: koalisinya tak mampu menghancurkan kekuatan militer Houthi, meski telah mengerahkan kekuatan udara selama lebih dari 20 hari.

Dalam sebuah laporan tajam, situs berita Al-Ahed pada Minggu malam 7 April, menilai bahwa kegagalan aksi militer ini bukan sekadar kemunduran taktis, melainkan sebuah kekalahan strategis yang memalukan bagi Washington.

Serangan yang Gagal Mencapai Sasaran

Meskipun AS mengeklaim menyerang sasaran-sasaran strategis milik Houthi, laporan-laporan lapangan menunjukkan bahwa mayoritas serangan udara justru menghantam infrastruktur sipil dan fasilitas lama yang telah berkali-kali dibom sebelumnya oleh Saudi. Hingga saat ini, tercatat 61 warga sipil tewas dan hampir 1.400 lainnya luka-luka akibat bombardemen yang terus berlanjut di berbagai provinsi di Yaman.

Salah satu insiden paling mencolok adalah saat Trump memublikasikan video serangan yang diklaim sebagai pembunuhan terhadap sejumlah komandan militer Yaman. Faktanya, video tersebut memperlihatkan serangan terhadap sebuah acara sosial, bukan target militer aktif. Media Amerika pun mempertanyakan kredibilitas klaim ini, memperkuat kesan bahwa Washington tengah membangun narasi kemenangan palsu.

Iran Menilai: Ini Bukti Kegagalan Amerika

Menurut Al-Ahed, Iran membaca kegagalan AS di Yaman sebagai cerminan kelemahan struktural strategi militer Washington di Kawasan. Serangan udara yang tidak efektif, ketidakmampuan menargetkan pusat komando musuh, dan absennya hasil nyata di lapangan—semuanya mengirimkan pesan jelas ke Teheran bahwa “ancaman militer” AS sudah tidak lagi menakutkan.

Pemimpin Ansharullah, Abdul Malik al-Houthi, dalam pidatonya menegaskan bahwa rakyat Yaman tidak akan menyerah dan akan terus berjihad. Al-Houthi menyebut serangan AS sebagai kelanjutan dari agresi delapan tahun Saudi, dan menyatakan bahwa kemenangan Yaman adalah hasil dari keteguhan spiritual dan kebergantungan kepada Allah Swt, bukan hanya kekuatan senjata.

Trump, Kegagalan yang Terulang

Upaya Trump untuk membedakan dirinya dari pendahulunya, Joe Biden, yang juga gagal mengakhiri perang Yaman, justru memperburuk situasi. Alih-alih membuktikan ketangguhan Militer Amerika, Trump malah harus menghadapi tekanan politik domestik dan kritik internasional karena strategi militernya yang tidak membuahkan hasil.

Laporan Al-Ahed menyimpulkan bahwa AS tidak memiliki “bank target” yang akurat, tidak mampu melumpuhkan kekuatan rudal Houthi, dan bahkan tidak bisa memastikan lokasi gudang senjata lawan. Kapal induk AS pun kini enggan mendekat ke arena tempur karena dibayangi ancaman rudal Yaman.

Teheran Melihat Washington yang Lemah

Dalam pandangan Iran, kegagalan AS di Yaman adalah cerminan dari ketidakmampuannya untuk menaklukkan kekuatan yang berakar secara ideologis dan bersenjata secara lokal. Jika Amerika gagal di Yaman; sebuah negara yang terisolasi secara ekonomi dan politik, bagaimana mungkin mereka bisa berharap menang dalam konfrontasi langsung dengan Iran?

Trump kini dihadapkan pada dilema: melanjutkan operasi yang mahal dan tidak efektif, atau menerima kekalahan dan kehilangan muka secara global. Dalam kedua skenario, pesan untuk Iran sudah jelas: Washington bukan lagi aktor dominan yang tak terbantahkan di Kawasan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *