Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Ketika Dunia Dipaksa Membayar Tontonan ‘Tarif Trump dan Senyum Xi’

POROS PERLAWANAN – Bayangkan dua kekasih lama: Donald Trump dan Xi Jinping, pernah saling menatap di forum G-20, saling lempar senyum tipis di sela santap nasi goreng dan daging panggang. Donald, sang kekasih impulsif, dengan gaya khas yang lebih banyak bicara ketimbang berpikir, pernah berujar: “Kita bisa bikin kesepakatan yang indah!” Sementara Xi, si kekasih yang dingin dan metodis, diam-diam menimbang: “Bisa jadi, tapi mari kita lihat dulu niatnya.”

Sayangnya, romansa ini kandas di meja makan malam diplomatik. Trump, layaknya bocah yang baru belajar main Monopoli tapi langsung ingin jadi Bankir Dunia, memutuskan memulai perang dagang. Alasannya? China terlalu sukses, dan Trump, seperti biasa, tak suka jika bukan dirinya yang paling sukses di arena.

Tarif, Bahasa Cinta yang Salah Diterjemahkan

Dalam kamus ekonomi Trump, diplomasi dimulai dengan tarif dan diakhiri dengan tarif yang lebih tinggi. Ketika ia menaikkan bea masuk hingga 34 persen terhadap seluruh produk China, itu bukan sekadar sinyal ekonomi, tapi puisi cinta berformat denda impor.

Sayangnya, Xi membaca puisi itu sebagai ancaman. Ia pun membalas dengan puisi versinya: larangan ekspor mineral langka, daftar hitam perusahaan Amerika, dan investigasi antimonopoli terhadap DuPont, karena tak ada yang lebih romantis di Beijing selain penyelidikan hukum yang terencana.

Trump pun meradang. Ia menulis di media sosial favoritnya: “China salah main!” Seakan dunia ini adalah papan catur yang hanya punya satu raja dan tak butuh pion dari belahan bumi lain.

Saling Tak Kenal

Ketika Menteri Luar Negeri China mencoba menjadwalkan pertemuan dengan Penasihat Keamanan Nasional AS, ia bahkan tak diberi slot waktu. Mungkin jadwalnya penuh untuk menonton ulang The Apprentice, atau sekadar bingung membedakan antara diplomasi dan deal-making ala real estate.

China, yang sebelumnya sabar seperti biksu Shaolin menunggu pencerahan, akhirnya mengubah haluan. Mereka sadar: dalam hubungan ini, tak akan ada akhir yang bahagia. Maka mereka bersiap untuk perang dagang jilid dua, karena tak ada yang lebih membakar semangat Nasionalisme daripada harga produk asing yang mendadak melambung.

Drama Korea Versi Wall Street

Di balik semua ini, pasar saham Amerika mulai menunjukkan gejala galau ekonomi: harga merosot, investor panik, dan para analis mulai menyalahkan “permainan cinta berbahaya” antara Washington dan Beijing. Sementara itu, saham China justru menguat. Xi pun mengutip pepatah baru: “Timur terbit, Barat menyundul tanah.”

Akhir Kisah: Dua Tokoh, Satu Panggung, Tanpa Dialog

Begitulah versi cinta yang tak tersampaikan antara Trump dan Xi: satu ingin merayu dengan martil, satu lagi menjawab dengan sutra dan sebilah belati di balik punggung. Bagaimana halnya dengan dunia? Dunia hanya penonton pasif, berharap keduanya cepat berdamai, atau setidaknya, saling blokir di media sosial.

Karena jika tidak, kita semua akan ikut membayar harga. Secara harfiah: untuk iPhone yang makin mahal, tahu yang makin langka, dan mesin cuci yang kini seharga sepeda motor. [PP/MT]

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *