CNN Tercengang Amati Ketangguhan Luar Biasa Houthi Hadapi Gelombang Serangan AS
POROS PERLAWANAN – Dalam laporan khusus bertajuk “Far from being cowed by US airstrikes, Yemen’s Houthis may be relishing them”, yang diterbitkan Minggu 6 April, jaringan berita CNN mengungkap kekaguman terhadap ketangguhan luar biasa kelompok Houthi dalam menghadapi gelombang serangan udara yang dilancarkan koalisi pimpinan Amerika Serikat. Meski dihantam puluhan kali, Kelompok Perlawanan yang berbasis di Yaman ini dinilai masih mempertahankan sebagian besar kapabilitas militernya.
Seorang analis Barat dalam wawancaranya dengan CNN menggambarkan Houthi sebagai “musang madu”—hewan omnivora yang dikenal gigih, pemberani, dan tak gentar menghadapi predator berbahaya. “Setelah disengat ular kobra, hewan ini hanya terdiam beberapa menit sebelum bangkit dan menyerang balik,” ujarnya. Analogi ini secara tidak langsung menjadi pengakuan terhadap daya tahan luar biasa Kelompok Perlawanan Yaman tersebut.
Serangan Intensif dan Perlawanan yang Tak Surut
Dalam beberapa pekan terakhir, jet tempur AS menggempur posisi militer dan infrastruktur strategis di Yaman—termasuk kilang minyak, bandara, hingga pangkalan peluncuran rudal. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Washington akan menggunakan “kekuatan menghancurkan” hingga Houthi menghentikan gangguan terhadap pelayaran di Laut Merah.
CNN mencatat bahwa operasi militer Houthi bermula sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina, menyusul invasi Israel ke Jalur Gaza pada Oktober 2023. Sejak itu, Kelompok ini telah meluncurkan lebih dari 100 serangan, menenggelamkan dua kapal, dan memaksa sekitar 70 persen lalu lintas kapal dagang di Laut Merah beralih ke jalur yang lebih panjang di selatan Afrika.
Klaim Kemenangan AS Dipertanyakan
Meski Pemerintah AS mengeklaim telah berhasil melumpuhkan sejumlah komandan Houthi, banyak pengamat Barat meragukan efektivitas operasi ini. Menurut analisis CNN, meskipun sekitar 80 perwira militer Houthi diperkirakan tewas, pucuk pimpinan politik dan militer Kelompok ini diyakini masih utuh. Beberapa fasilitas peluncuran rudal juga dilaporkan masih berfungsi.
Sejak pertengahan Maret, Houthi diketahui telah menembakkan puluhan rudal balistik ke Wilayah Pendudukan Israel dan melancarkan serangan drone serta rudal ke kapal-kapal militer AS di kawasan tersebut.
Tiga sumber yang mengetahui jalannya operasi mengonfirmasi kepada CNN bahwa biaya yang dikeluarkan AS untuk aksi ini hampir menyentuh angka 1 miliar Dolar hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu. Namun, dampaknya terhadap kekuatan tempur Houthi disebut masih minim.
“Persediaan kami mulai terkuras—amunisi, bahan bakar, hingga waktu tempur,” ungkap seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya.
Tak Gentar, Houthi Ancam Perluas Serangan
Alih-alih melemah, Houthi justru mengancam akan memperluas cakupan serangan hingga ke Uni Emirat Arab—negara yang dikenal mendukung pemerintahan rival Houthi dalam perang saudara Yaman. Menyikapi ancaman ini, pihak keamanan Arab Saudi menyatakan bahwa sistem pertahanan udara mereka berada dalam kondisi siaga penuh.
Juru Bicara AngkatanBersenjata Yaman, Brigjen Yahya Saree menegaskan: “Puluhan serangan udara tidak akan menghentikan kami dari menjalankan tugas agama, moral, dan kemanusiaan kami.”
Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan seorang warga Yaman tetap tenang duduk di tokonya saat serangan udara berlangsung—menguatkan citra keteguhan sipil di tengah konflik yang berkecamuk.
Pengamat: Houthi Bukan Target Mudah
Meski CNN mengakui serangan udara telah merusak beberapa fasilitas produksi drone dan memperketat jalur logistik laut—khususnya dari arah Oman—banyak analis menilai Houthi masih menunjukkan daya tahan luar biasa.
Peneliti senior Washington Institute, Michael Knights menyebut bahwa hanya operasi darat skala besar yang mungkin mampu melumpuhkan Houthi. “Mereka terbiasa menghadapi militer canggih, dan memiliki determinasi ideologis tinggi. Mereka adalah pejuang suku yang tangguh dari wilayah utara Yaman.”
Knights menambahkan bahwa Houthi telah bertahan dari berbagai gelombang serangan, mulai dari era Presiden Ali Abdullah Saleh, agresi militer Arab Saudi selama satu dekade terakhir, hingga gempuran Israel, Inggris, dan AS.
Analis dari International Crisis Group, Ahmed Nagi menilai bahwa ketidakpahaman Barat terhadap struktur internal Houthi menciptakan celah intelijen. “Mereka memiliki kepemimpinan tertutup dan organisasi kompleks, yang menyulitkan pemetaan strategi.”
Senada, pakar isu Yaman, Elizabeth Kendall meragukan efektivitas strategi udara AS. “Houthi telah menjadi sasaran puluhan ribu serangan udara selama satu dekade, tapi tetap eksis. Ini menimbulkan pertanyaan besar: mungkinkah semua ini hanya simbolik?”
Knights menutup dengan peringatan: “Mengendalikan Houthi sangatlah sulit. Mereka sangat agresif. Serangan udara saja tak cukup—mereka harus dipukul mundur dari Sanaa dan kawasan pesisir Laut Merah.”
Nagi menambahkan: “AS keliru jika mengira pemboman akan membuat mereka menyerah. Strategi serupa gagal di era Biden dan tampaknya akan gagal pula di era Trump. Ketahanan adalah identitas mereka—dan itu justru menyemangati mereka untuk bertahan.”
Sementara itu, peneliti asal Yaman di Chatham House, Farea al-Muslimi menyebut bahwa Houthi bisa jadi justru menyambut serangan AS demi memperluas medan konflik. “Bagi mereka, ini adalah peluang untuk menyeret Washington lebih dalam ke dalam pusaran perang regional.”
