Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Araghchi: Iran Utamakan Diplomasi, Tapi Tahu Benar Cara Membela Diri

Araghchi: Iran Utamakan Diplomasi, Tapi Tahu Benar Cara Membela Diri

POROS PERLAWANAN – Dilansir al-Alam, Menlu Iran, Abbas Araghchi dalam tulisannya di Washington Post membahas sikap Tehran menjelang perundingan tak langsung dengan AS di Oman.

“Dalam beberapa pekan terakhir, terjadi pertukaran surat dan pesan antara Republik Islam Iran dan AS. Berlawanan dengan sejumlah interpretasi dangkal, interaksi ini, setidaknya dari pihak kami, bukan simbolis atau formalitas. Kami memandangnya sebagai upaya konkret untuk mentransparansikan sikap dan membuka jendela ke arah diplomasi,” tulis Araghchi.

“Kami akan bertemu pada hari Sabtu (12 April) di Oman. Pertemuan ini, selain merupakan sebuah peluang, juga sebuah ujian.”

Menurut Araghchi, model interaksi semacam ini bukan hal baru yang belum pernah ada sebelumnya, karena AS sendiri juga menjadi mediator perundingan tak langsung antara Rusia dan Ukraina.

“Perundingan tak langsung bukan sebuah taktik, juga bukan sebuah refleksi kecenderungan ideologis. Ini adalah sebuah opsi strategis yang diambil berdasarkan pengalaman. Kami menghadapi sebuah tembok besar ketidakpercayaan. Kami menyangsikan ketulusan niat pihak lain; kesangsian yang meningkat lantaran AS bersikeras melanjutkan kebijakan Tekanan Maksimum sebelum memulai interaksi diplomatik.”

“Untuk bergerak menuju masa depan, pertama kita harus bersama-sama memahami sebuah fakta bahwa pada prinsipnya, tidak ada sesuatu bernama ‘opsi militer,’ apalagi ‘solusi militer.’ Presiden Trump telah mengakui fakta ini ketika menyarankan gencatan senjata sebagai langkah pertama untuk mengakhiri perang Ukraina.”

“Menghabiskan dana para pembayar pajak AS untuk meningkatkan kehadiran militer AS di kawasan kami, kehadiran yang bisa mengancam nyawa para serdadu AS ribuan kilometer jauhnya dari negeri mereka, bukan hanya tidak akan membuahkan hasil diplomatik, bahkan justru akan menghalanginya. Bangsa besar Iran, yang kekuatan mereka menjadi tumpuan Pemerintahan saya dalam hal prevensi, tidak akan menerima paksaan dan dikte (pihak lain).”

Di akhir tulisannya, Menlu Iran menulis:”Ingat ucapan saya ini: Iran mengutamakan diplomasi, tapi juga tahu benar bagaimana cara membela dirinya. Kami tidak pernah menyerah di hadapan ancaman, baik dahulu, sekarang, atau nanti. Kami menghendaki perdamaian, namun tidak akan pernah menyerah.”

“Kini bola ada di lapangan AS. Jika AS mencari solusi diplomatik konkret, kami telah menunjukkan jalannya sebelum ini. Namun jika tujuannya adalah memaksakan kehendak melalui tekanan, AS harus tahu bahwa bangsa Iran akan merespons bahasa kekerasan dan ancaman dengan bersatu padu dan tegas. Kini ada kesempatan agar AS pada akhirnya memiliki ‘Presiden perdamaian.’ Apakah AS akan memanfaatkan kesempatan ini atau tidak, pilihan ada di tangannya.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *