Pangkalan dan Personel Militer AS dalam Jangkauan Serangan Iran
POROS PERLAWANAN — Laporan Kekuatan Imperialisme di Kawasan Asia Barat. Think tank kenamaan milik elite Washington, Council on Foreign Relations (CFR) menerbitkan laporan terbaru yang secara terang-terangan memetakan sebaran kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Asia Barat, yang kini berada dalam jangkauan rudal, drone, dan perlawanan dari Poros Perlawanan yang semakin meningkat.
Dalam laporan berjudul “U.S. Forces in the Middle East: Mapping the Military Presence” yang ditulis oleh Jonathan Masters dan Will Merrow, CFR menyebut bahwa Militer AS masih bercokol di lebih dari sepuluh negara, dengan kapal-kapal perangnya berlayar bebas di perairan strategis seperti Laut Merah dan Teluk Aden. Laporan ini menegaskan bahwa Washington terus memperkuat kehadirannya sepanjang 2024 untuk mengadang pengaruh Iran dan jaringan sekutunya: Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, serta Kelompok-kelompok Perlawanan di Irak dan Suriah.
Pada Maret 2025, CENTCOM diketahui meluncurkan serangan udara dari armada lautnya di Laut Merah ke wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman, bagian dari aksi militer AS yang semakin agresif di Kawasan.
Sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023, pasukan dan fasilitas militer AS menjadi sasaran serangan balasan dari Kelompok-kelompok Perlawanan yang menentang genosida dan pendudukan. Serangan drone dan rudal terhadap kapal-kapal AS dan sekutunya terus berlangsung, sebagai bentuk tekanan terhadap keberadaan militer asing di tanah Arab.
Laporan CFR menyoroti bahwa pada April 2024, dalam sebuah insiden tanpa preseden, puluhan drone dan rudal diluncurkan Iran sebagai balasan langsung terhadap Israel. AS kemudian mengerahkan tambahan empat skuadron jet tempur menyusul invasi darat Israel ke Lebanon dan serangan balik rudal Iran.
Tak hanya itu, pada Maret 2025, AS memindahkan pesawat pengebom siluman B-2 ke pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia; langkah strategis untuk menghadapi kemungkinan eskalasi dengan Iran dan Yaman. Pangkalan ini kini menjadi titik proyeksi kekuatan ofensif Washington terhadap Poros Perlawanan.
40.000 Tentara, 19 Pangkalan, dan Armada Imperial di Laut Arab
CFR memperkirakan hingga Oktober 2024, sekitar 40.000 personel militer AS masih aktif di Asia Barat, termasuk yang berpangkalan di laut. Setidaknya ada 19 pangkalan militer AS di Bahrain, Mesir, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Suriah, dan UEA, delapan di antaranya diklasifikasikan sebagai pangkalan permanen.
Selain itu, pangkalan di Djibouti dan Turki (yang secara formal berada di luar komando CENTCOM) tetap memainkan peran penting dalam operasi lintas kawasan.
Bahrain dan Qatar disebut sebagai simpul utama. Bahrain menjadi markas Armada Kelima AL AS sekaligus negara dengan konsentrasi pasukan tertinggi, sementara Qatar menjadi lokasi pusat komando CENTCOM. Di sisi lain, Suriah menjadi satu-satunya negara dalam daftar yang secara terbuka menentang dan tidak menyetujui keberadaan Militer AS di wilayahnya.
Berikut Peta Imperialisme dalam Jangkauan Api Perlawanan
– Lingkaran Merah: Pangkalan AS yang dikontrol penuh selama 15 tahun terakhir
– Lingkaran Oranye: Lokasi dengan kehadiran Militer AS (basis semi-permanen atau berbagi kontrol)
– Segitiga Biru: Posisi armada laut AS setelah 24 Maret 2025
CFR, yang sering disebut sebagai lembaga penasihat kebijakan luar negeri elite kapitalisme global, dalam laporannya secara tidak langsung mengakui bahwa seluruh jaringan pangkalan ini kini rawan dan berada dalam jangkauan penuh kekuatan Perlawanan regional, dari rudal balistik Iran hingga drone bersenjata Houthi.
Dengan Diego Garcia sebagai tulang punggung logistik ofensif lintas samudra, dan Laut Merah yang tidak lagi aman bagi kapal perang imperialis, peta dominasi AS di Kawasan kini tak lagi mutlak.
Laporan lengkap tersedia di situs resmi Council on Foreign Relations; dan terbuka untuk dibaca, dianalisis, serta dipertanyakan oleh seluruh bangsa yang menolak penjajahan.
