Media-media Israel Curiga Mesir dalam Status ‘Siap Berperang’
POROS PERLAWANAN – Media-media Israel pada Selasa malam 8 April mengabarkan, satelit-satelit Rezim Zionis dalam beberapa jam terakhir melacak pergerakan tak lazim di perbatasan Mesir, terutama di koridor Philadelphia (Salahudin).
Diberitakan Fars, situs Israel, NZIV, melaporkan bahwa saat ini sejumlah besar tank dan peralatan berat militer Mesir memasuki kawasan itu untuk pertama kalinya sejak Perjanjian Camp David. Tindakan yang sangat tidak lazim ini memicu kecemasan Otoritas Rezim Zionis.
NZIV menilai tindakan Mesir ini sebagai “persiapan militer tak lazim.” Situs ini juga memberitakan bahwa Kairo telah menempatkan sistem pertahanan udara S-300 di kawasan tersebut.
Beberapa waktu lalu, Menteri Perang Yisrael Katz memperingatkan Mesir dan berkata,”Israel tidak akan membiarkan Mesir melanggar kesepakatan damai. Kesepakatan dengan negara ini masih berlaku. Mesir adalah negara Arab terbesar dan terkuat. Kesepakatan damai dengan negara ini telah menjauhkannya dari lingkaran perang dan mengubah sejarah.”
Setelah Donald Trump menggulirkan wacana kontroversial pemindahan paksa warga Gaza ke Mesir dan Yordania, Militer Mesir disiagakan di kawasan Sinai.
Usai berakhirnya pertemuan terbaru Trump dengan Raja Yordania, Abdullah II, Tentara Ketiga (Third Army) Mesir , yang dikhususkan untuk kawasan Sinai dan perbatasan dengan Gaza, telah disiagakan penuh.
Third Army adalah pasukan darat Mesir yang dibentuk tahun 1968. Tugas utamanya adalah melindungi Kanal Suez dan selatan Gurun Sinai.
Menurut para pengamat, masalah ini adalah pesan darurat bahwa Militer Mesir siap berperang dan menghadapi proyek Trump atau segala bentuk aksi militer Israel dalam memprovokasi penduduk kawasan tersebut.
Sumber-sumber Israel melaporkan, tindakan-tindakan tak lazim terlacak di sejumlah pelabuhan dan bandara di Sinai. Di antaranya adalah perluasan landasan pacu drone dan perbaikan dermaga pelabuhan.
Menurut NZIV, perkembangan ini menunjukkan persiapan besar dan tampaknya perang akan terjadi. Militer Mesir dikabarkan tengah memindahkan persenjataan dan peralatan ke kawasan-kawasan perang.
Baru-baru ini, Mesir menolak permintaan AS untuk membawa pergi perangkat militer dari kawasan perbatasan. Permintaan AS ini menyusul komplain dari Israel, yang memandangnya sebagai pelanggaran kesepakatan damai Tel Aviv-Kairo.
Mesir sendiri berulang kali menegaskan bahwa itu adalah tindakan normal untuk menjamin keamanan perbatasan dan keamanan nasionalnya. Mesir juga menyatakan akan mengambil langkah-langkah yang dianggapnya perlu dalam beberapa hari ke depan.
