Yaman Tak Gentar, Gaza Tak Sendirian: Seruan Al-Houthi untuk Perlawanan Semesta
POROS PERLAWANAN — Dari jantung revolusi Yaman, suara Perlawanan kembali menggema. Dalam pidato pada Kamis malam (10/4), Pemimpin Ansarullah, Sayyid Abdul Malik al-Houthi, menegaskan komitmen mutlak rakyat Yaman untuk terus membela Gaza; melampaui embargo, melampaui misil AS, melampaui blokade imperialis yang kini runtuh oleh semangat Perlawanan sejati.
“Berkat rahmat Allah, sejak pelanggaran gencatan senjata di Gaza oleh Israel, kami bangkit dengan penuh semangat untuk mendukung rakyat Palestina,” ujar Sayyid al-Houthi seperti dilaporkan Sabanews.
Amerika Sponsor Genosida
Dalam pernyataan tajamnya, Al-Houthi menelanjangi peran ganda imperium AS sebagai penyandang dana genosida dan pelindung abadi entitas kolonial Israel. Ia menyebut bahwa perang di Gaza bukan lagi konflik regional, melainkan “konfrontasi terbuka antara Poros Kejahatan dan Poros Kebenaran.”
Dalam kalimat getir, Al-Houthi merangkum apa yang dunia coba abaikan: rezim penjajah telah berhasil menciptakan eksperimen distopia, di mana pembantaian, kelaparan, dan keputusasaan dijadikan kebijakan resmi. “Rekaman dokumenter dari bencana di Jalur Gaza mengungkap tingkat kezaliman dan kejahatan Zionis-Amerika,” katanya.
Menurutnya, genosida di Gaza adalah konspirasi terstruktur dengan restu Washington. Yang dihancurkan bukan hanya kehidupan Palestina, tapi juga eksistensi keadilan global.
Operasi Rudal & Drone: Nafas Gaza dari Langit Yaman
Yaman tak sekadar berbicara, ia menghantam. Dalam momen ketika banyak negara Arab memilih diam atau bahkan berkompromi, Yaman justru menabuh genderang perang maritim terhadap Israel.
Operasi rudal dan drone Yaman, yang menargetkan kapal-kapal dagang yang berafiliasi dengan Israel, telah memaksa rezim penjajah untuk menarik diri dari jalur strategis. Ini bukan sekadar solidaritas. Ini adalah deklarasi bahwa Gaza bukan sendiri, ia dilindungi oleh Poros Perlawanan sejati.
“Drone militer kami sangat efektif. Atas izin Allah, kami telah berhasil sepenuhnya menghentikan pelayaran Zionis di Laut Merah. Pelabuhan Eilat sekarang sepi dan tidak bisa lagi digunakan oleh rezim Zionis. Bukankah ini kemenangan besar bagi Yaman?” tegas Al-Houthi.
Serangan AS: Bukannya Melemahkan, Justru Memperkuat
Menanggapi agresi Amerika terhadap infrastruktur Yaman, Al-Houthi mengejek keangkuhan Washington yang gagal meredam semangat rakyat Yaman.
“Apakah serangan mereka menghentikan rudal kami? Tidak. Apakah mereka mengamankan pelayaran Zionis? Tidak. Lalu siapa yang sebenarnya kalah?”
Dengan fondasi militer yang didirikan atas keyakinan dan keteguhan, Yaman justru menjadikan setiap bom AS sebagai alasan untuk mempercepat pengembangan kekuatan pertahanannya.
“Kekuatan militer Yaman berdiri di atas fondasi iman yang kokoh,” tegasnya.
Netanyahu Tidak Peduli pada Tahanannya Sendiri
Al-Houthi juga menyoroti kebusukan internal rezim Zionis. Menurutnya, Netanyahu dan elit kriminalnya bahkan tak peduli pada nasib tawanan mereka sendiri; sebuah bukti bahwa rezim ini hanya peduli pada ekspansi, bukan rakyatnya.
“Mereka bukan hanya membunuh orang Palestina, mereka juga mengorbankan rakyat mereka demi proyek penjajahan abadi.”
Kompromi Arab Adalah Kekalahan Moral
Al-Houthi tidak menahan diri dalam mengkritik rezim-rezim Arab yang memilih jalur kompromi dan normalisasi dengan entitas Zionis. Ia menyebut bahwa jalan perundingan adalah jalan kehancuran, dan satu-satunya cara melawan penjajahan adalah perlawanan bersenjata yang disertai keteguhan prinsip.
“Kita tak bisa berunding dengan kanker. Kita harus mengangkat pedang.”
Perdagangan Trump, Propaganda Kekuasaan Global
Dalam bagian akhir pidatonya, Al-Houthi juga menyinggung perang dagang yang sedang berlangsung antara AS dan Tiongkok. Ia menyebut bahwa dunia kini mulai melihat wajah sejati Amerika: sebuah imperium pemeras, bukan pelindung.
“Dunia Arab harus belajar. Masalah tidak selesai dengan tunduk kepada Amerika. AS hanya paham bahasa tekanan dan penindasan.”
Yaman Berjalan di Jalan Para Singa
Dengan gaya retoris yang menggugah, Al-Houthi menutup pidatonya:
“Amerika mungkin bisa menghancurkan rumah-rumah dengan bomnya, tetapi mereka tidak akan pernah bisa menghancurkan semangat rakyat kami yang teguh berlandaskan iman kepada Allah.”
“Kami bangga pada posisi kami yang benar, berdasarkan agama, kemanusiaan, dan nilai-nilai moral. Yaman akan terus berdiri tegak, dengan kemuliaan dan kekuatan, di jalan para pejuang,” lanjutnya.
Jika dunia bungkam, maka rudal dari Sanaa, drone dari Dhamar, dan doa dari rakyat yang kelaparan di Gaza akan menjawab. Sebab dalam pertempuran ini, kemenangan bukan soal teknologi; melainkan iman yang tak tergoyahkan.
