Ketika Zionis Akui Kekalahannya Sendiri, Mereka Berkata: ‘Hamas Tetap Berkuasa’ di Gaza
POROS PERLAWANAN – Sebuah laporan internal dari Pusat Studi Keamanan Dalam Negeri rezim Zionis secara terang-terangan mengakui sesuatu yang selama ini coba dibungkam oleh propaganda Tel Aviv dan Washington: bahwa rencana “pasca-Hamas” di Gaza adalah fantasi militeristis yang tak berdasar.
Dalam dokumen yang dibocorkan oleh Al Jazeera pada Jumat (11/4), para peneliti keamanan Zionis menyimpulkan bahwa pengambilan keputusan strategis dan kebijakan destruktif sejak awal agresi merupakan kesalahan fatal. Kesimpulannya menyakitkan itu terangkum dalam satu kalimat: “Hamas akan tetap berkuasa.”
Ketika Tembok Beton Tak Bisa Menutup Kebenaran
Alih-alih meruntuhkan Hamas, agresi militer selama lebih dari setahun hanya berhasil menghancurkan 25% jaringan terowongan perlawanan—sementara 75% lainnya, menurut Channel 12 Zionis, masih aktif. Bahkan data internal diperkirakan 570 km jaringan terowongan masih terjaga, termasuk akses strategis menuju Mesir.
Ini bukan sekedar catatan intelijen, ini adalah pengakuan pahit dari satu rezim yang terjebak dalam ilusi kendali.
Trumpisme dan Mimpi Kolonial: Gaza Tanpa Warga Palestina?
Laporan tersebut tak berhenti di situ. Laporan juga mengindikasikan bahwa beberapa pejabat rezim Zionis terinspirasi langsung oleh proyek “kesepakatan abad ini” ala Donald Trump, menganggap depopulasi Gaza sebagai “strategi alternatif” yang harus dievaluasi. Menteri Perang Zionis, Israel Katz, bahkan terang-terangan menyatakan keinginan untuk memaksa migrasi “sukarela” penduduk Gaza dan menjadikan wilayah tersebut sebagai “zona penyangga militer”.
“Kami akan menghancurkan Gaza, mencaplok wilayah-wilayah baru, dan tetap berada di Koridor Philadelphia bahkan setelah terjadi kesepakatan pertukaran penduduk,” katanya, dalam pernyataan yang lebih menyerupai deklarasi kolonial daripada kebijakan keamanan.
Di Balik Narasi “Usir Hamas”: Penyamaran Upaya Penghapusan Bangsa
Meski Hamas berkali-kali menegaskan tidak berniat mempertahankan kekuasaan jika perang dihentikan, narasi Zionis tetap membingkai organisasi perlawanan itu sebagai hambatan utama. Ini bukan suatu kebetulan, ini adalah strategi lama: menyalahkan korban untuk membenarkan kejahatan.
Namun, seperti diam-diam diakui oleh lembaga think-tank mereka sendiri, ancaman terhadap eksistensi Zionisme bukan hanya berasal dari Hamas, melainkan dari ketidakmampuan mereka memahami Gaza sebagai entitas kehidupan, bukan sekadar objek militer.
Dari Retorika ke Realitas
Saat ini, Israel tidak hanya gagal menyingkirkan Hamas, tapi juga kehilangan arah strateginya. Bahkan para analis mereka mulai menyarankan “menyesuaikan kebijakan dengan pemerintahan Trump”, sebuah tanda bahwa kebijakan luar negeri Israel kini semakin bersifat dependen dan reaktif, bukan visioner atau mandiri.
Saat Musuh Menulis Naskah Kekalahan Mereka Sendiri
Dokumen yang dibocorkan Al Jazeera ini adalah eulogi dini bagi proyek pembongkaran Hamas, dan sekaligus bukti bahwa perlawanan bukan sekadar gerakan bersenjata, tapi ketahanan kolektif sebuah bangsa yang menolak dilenyapkan.
Rezim pendudukan kini berdiri di atas wilayah yang diklaimnya berkuasa, tapi tak bisa dikendalikan. Mereka menghancurkan batu, namun gagal membunuh semangat. Dan sebagaimana disimpulkan oleh lembaga think-tank mereka sendiri: Gaza tetap milik rakyatnya, bukan tanah kosong untuk proyek kolonial ala Trump dan Netanyahu.
