Main Mata UEA-Uni Eropa: Perdagangan Bebas di Atas Abu Gaza
POROS PERLAWANAN – Ketika darah belum mengering di Gaza dan embargo senjata masih hanya menjadi wacana palsu, Uni Eropa justru mempererat ikatan dagang dengan salah satu rezim Teluk yang paling loyal terhadap proyek normalisasi dengan entitas Zionis: Uni Emirat Arab.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, pada Kamis (10/4) mengumumkan dimulainya negosiasi perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Emirat Arab (UEA). Menurut laporan Stuttgarter Nachrichten, langkah ini diambil untuk memperluas jaringan mitra dagang Eropa, seiring dengan makin tidak terprediksinya arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat.
“Kami mencari mitra dagang baru yang dapat diandalkan,” ujar von der Leyen.
Namun pertanyaannya: Dapat diandalkan dalam hal apa?
UEA: Mitra Dagang atau Mitra Penindasan?
UEA selama ini menjadi pion utama proyek “Abraham Accords”, pakta normalisasi yang dijalankan AS dan Israel untuk menundukkan dunia Arab pada dominasi ekonomi-politik Zionisme. Dalam lanskap ini, UEA bukan sekadar pembeli senjata Eropa dan AS, melainkan simpul penting dari kapitalisme perang: membiayai konflik, mencetak narasi moderat, dan menanam investasi yang penuh syarat ideologis.
Dengan menjalin pakta dagang bebas dengan UEA, Uni Eropa secara tidak langsung mematri kesepakatan dagang di atas reruntuhan rumah-rumah Palestina yang dihancurkan. Pasar dibuka, bea dihapuskan, sementara blokade atas Gaza tetap dijaga oleh senjata yang mungkin saja diproduksi di pabrik-pabrik Eropa.
Perdagangan Bebas Tanpa Etika
Retorika “mitra dagang yang stabil” hanyalah eufemisme dari kesediaan negara seperti UEA untuk tidak menyoal isu HAM selama ada keuntungan finansial yang dipertukarkan. Alih-alih menjatuhkan sanksi pada rezim-rezim represif, Uni Eropa justru berlomba menandatangani pakta ekonomi demi mempertahankan akses pasar dan pengaruh geopolitik.
Von der Leyen sendiri dalam beberapa kesempatan menyuarakan “kekhawatiran” atas pelanggaran HAM. Tapi kekhawatiran itu tak tampak ketika perjanjian dagang dibahas dengan negara yang telah melanggar kedaulatan Yaman, mendukung kudeta di Sudan, dan membangun infrastruktur pengawasan massal dengan teknologi Israel.
Zaman Neo-Kolonialisme Dagang
Pergeseran poros dagang Eropa dari AS ke Teluk mencerminkan sebuah realitas baru: kekuatan lama kehilangan arah, dan kini menggantungkan nasibnya pada sekutu-sekutu otokratis demi memastikan mesin industri tetap hidup. Di balik jargon “perdagangan bebas” tersimpan wajah baru kolonialisme: dominasi pasar yang menyamarkan persekongkolan politik.
Sementara rakyat Palestina dihancurkan, diaspora Yaman kelaparan, dan rakyat Sudan ditindas oleh junta, perjanjian ini justru disambut sebagai “terobosan strategis.”
