Tawanan Israel Bongkar Dusta Netanyahu dan Pengkhianatan AS
POROS PERLAWANAN – Brigade al-Qassam merilis video pernyataan dari Edan Alexander, serdadu Zionis yang berkewarganegaraan ganda AS-Israel. Dalam video tersebut, Edan yang ditawan Hamas pada 7 Oktober 2023 secara blak-blakan membongkar kebohongan-kebohongan Benyamin Netanyahu dan pengkhianatan Pemerintah AS.
Dilansir Fars, pada hari ke-25 agresi terbaru Israel ke Gaza, Edan mengatakan,”Tiap hari saya melihat Netanyahu mengelola negara seperti seorang diktator, sementara kondisi fisik dan mental saya tengah runtuh.”
Menurut Edan, semua pihak, termasuk Militer, Pemerintah Israel, bahkan para pejabat AS, telah menghalangi proses pembebasannya.
“Semua orang berbohong, termasuk masyarakat, Pemerintah Israel, Militer, dan Pemerintah AS. Tiga pekan lalu saya mendengar Hamas siap membebaskan saya. Namun kalian (AS) menolak dan meninggalkan saya di sini.”
“Mr. Trump, saya percaya kepada Anda. Saya yakin Anda bisa mengeluarkan saya hidup-hidup dari sini. Namun kenapa Anda dikelabui Netanyahu? Kenapa saya masih di sini? Kenapa saya tidak berada di rumah saya di AS?”
Edan mengungkit serangan berulang Israel ke Gaza dan mengutarakan kekhawatirannya bahwa mungkin ia tewas sebelum dibebaskan.
“Saya tidak ingin percaya ini bahwa mungkin ini video terakhir saya. Mungkin saya tidak akan terlihat lagi dalam keadaan hidup.”
“Kami percaya bahwa kami hanya akan pulang sebagai jenazah. Tak ada harapan yang tersisa.”
Dalam pesannya, Edan menyeru para pemukim Zionis untuk melanjutkan aksi protes terhadap Netanyahu. “Lanjutkan demo kalian. Lakukan apa pun yang kalian bisa.”
Berbarengan dengan publikasi video ini, keluarga para tawanan Israel mengadakan jumpa pers di dekat Kementerian Perang Rezim Zionis. Mereka menyerukan kelanjutan aksi protes dan upaya mewujudkan kesepakatan pertukaran tawanan dengan Perlawanan Palestina.
“Sejak awal, Pemerintahan Netanyahu menjadikan para sandera sebagai alat politik. Kami terpaksa berperang melawan Pemerintah yang tak kenal kasihan untuk memulangkan anak-anak kami. Tanpa tekanan publik, hal itu tidak akan terwujud,” kata seorang kerabat tawanan.
