Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

‘Nakba’ Zionis di Suriah: Kejahatan Terencana Israel yang Diacuhkan Jolani

Sumber: Anadolu

POROS PERLAWANAN – Agresi Zionis terhadap Suriah kini memasuki fase yang lebih mengkhawatirkan. Langkah-langkah yang dilakukan menunjukkan niat Israel untuk mengonsolidasikan pendudukan di wilayah Suriah selatan, khususnya di Quneitra dan Daraa. Ini bukan semata operasi militer, melainkan strategi sistematis yang bertujuan menghapus hak-hak rakyat Suriah atas tanah mereka.

Media berbahasa Ibrani, +972 Magazine, mengungkapkan laporan mengejutkan soal eskalasi ini. Dalam laporannya, Omar Hanoun, warga Suriah berusia 47 tahun, berkata: “Rakyat Suriah baru saja melalui perang yang panjang, tetapi sekarang mereka siap untuk memasuki perang lain dengan Israel guna mempertahankan tanah mereka.”

Serangan Militer dan Konsolidasi Wilayah

Pada Desember 2024, usai runtuhnya Pemerintahan Bashar al-Assad, Israel meluncurkan gelombang serangan massif. Dalam delapan hari pertama, tercatat 600 serangan diluncurkan terhadap posisi militer dan kota-kota dari Latakia hingga pinggiran Damaskus.

Pasukan darat Israel bergerak sejauh 20 kilometer ke dalam wilayah Suriah dan mendirikan sembilan pangkalan militer serta infrastruktur lainnya. Ini menandai transformasi dari serangan ke arah pendudukan permanen.

Pengungsian Massal dan Perampasan Tanah

Pendudukan Israel di Ras al-Rawidi dimulai 8 Desember 2024. Rumah-rumah dihancurkan, ratusan keluarga dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.

Ali al-Ahmad (65 tahun), warga Rasm al-Rawidi, menuturkan: “Pasukan Israel mendobrak pintu-pintu rumah; mereka menggeledah dan menghancurkan beberapa di antaranya, kemudian mengumpulkan banyak keluarga di sebuah sekolah yang terbengkalai.”

Akibat operasi ini, lebih dari 350 orang mengungsi, sementara tanah-tanah mereka disita oleh Militer Israel untuk keperluan strategis.

Kekejaman terhadap Sipil

Di desa Al-Rafid, kekejaman berlanjut. Pohon-pohon berusia seabad dicabut, penduduk ditembaki saat mencoba melindungi lahan mereka.

Badr Safi, seorang guru lokal, bercerita: “Temanku kehilangan tanahnya dan sekarang tinggal di rumahku. Aku mendengar dia menangis setiap hari, karena orang Israel telah mencuri tanahnya, rumahnya, dan segala miliknya.”

Selain itu, dua pemuda Suriah tewas saat berusaha melindungi ternak mereka. Kekerasan terhadap warga sipil pun menjadi instrumen utama pendudukan.

Strategi Kolaborasi Gagal: Penolakan Rakyat Suriah

Israel mencoba menarik warga lokal bekerja di pangkalan militer yang dibangun, menawarkan upah $75 per hari. Namun, niat ini ditolak.

Pengacara dan aktivis HAM, Mohammed Fayyad menyatakan, “Israel telah mengambil segalanya dari kami dan menuntut tebusan untuk makanan, obat-obatan, listrik, dan pekerjaan. Meskipun semua ini untuk diri kita sendiri.”

Rakyat menyadari skema ini sebagai upaya menciptakan ketergantungan dan perpecahan.

Perlawanan Sipil dan Keteguhan Identitas

Meski agresi membabi buta, rakyat tetap kukuh mempertahankan hak atas tanah.

Sheikh Abu Nasr (70 tahun), warga Al-Rafid, berkata: “Ini tanah kami; Kami menanam anggur dan buah ara di sini dan tidak mengakui rezim Pendudukan Israel.”

Pernyataan ini menggambarkan perlawanan sipil yang konsisten di tengah kekerasan dan intimidasi.

Manipulasi Sektarian oleh Israel

Israel juga mencoba mengadu domba komunitas sektarian, khususnya komunitas Druze di selatan Suriah, guna membenarkan intervensi militernya. Namun, komunitas Druze menolak kolaborasi dan tetap menegaskan penolakan atas campur tangan asing.

Profesor Universitas Damaskus, Farid Ayyash menyatakan, “Tujuan Israel adalah memperdalam keretakan antara Druze dan sekte-sekte lainnya, menciptakan kekacauan yang dapat dimanfaatkan oleh mereka.”

Diamnya Dunia dan Ketidakpedulian Al-Jolani

Di tengah keheningan internasional dan ketidakpedulian otoritas baru yang dipimpin Al-Jolani, penderitaan rakyat Suriah kian memburuk. Pendudukan terus meluas, dan upaya perlawanan rakyat tak mendapatkan dukungan berarti dari komunitas global maupun dari penguasa baru Suriah yang dianggap mencaplok negeri itu.

Tanpa solidaritas internasional dan keberpihakan pada keadilan, agresi Zionis di Suriah akan menjadi babak baru “Nakba” yang berlangsung dalam diam.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *