Somalia dalam Cengkeraman Zionis: Prajurit Bayaran, Radar Israel, dan Rencana Serangan Darat ke Yaman
POROS PERLAWANAN — Jika ada satu hal yang menjadi keahlian kolonialisme modern, maka itu adalah menjadikan tanah orang lain sebagai pangkalan untuk membunuh bangsa lain; tanpa rasa malu, tanpa deklarasi perang, dan tanpa bertanggung jawab secara hukum. Somalia hari ini adalah laboratorium dari proyek tersebut. Di tengah kekacauan yang dirancang, kekuatan-kekuatan kolonial regional dan global sedang memoles panggung serangan besar ke jantung Perlawanan Yaman.
Radar Zionis, Sasaran Yaman
Pada Maret 2025, laporan intelijen mengungkap bahwa Uni Emirat Arab (UEA) telah menempatkan sistem radar ELM-2084 buatan Israel di salah satu pangkalan Angkatan Laut mereka di pantai Somalia. Radar ini—yang menjadi tulang punggung sistem Iron Dome Israel—mampu mendeteksi peluncuran rudal, roket, dan drone hingga 480 km. Dalam konteks geografis, radar tersebut dapat menjangkau sebagian besar Yaman bagian utara, termasuk wilayah-wilayah strategis seperti Sa’dah, Sanaa, dan Al-Hudaydah; titik pusat kekuatan Ansharullah.
Pengiriman radar ini bukan sekadar upgrade defensif. Ini adalah perangkat perang kognitif dan taktis: memberikan keunggulan pemantauan dini kepada koalisi anti-Yaman, memetakan jalur penerbangan drone, dan mengantisipasi gerak cepat rudal-rudal balistik Ansharullah yang telah membuktikan efektivitasnya sejak meletusnya eskalasi Laut Merah.
Bosaso: Pangkalan UAV dan Pertahanan Udara
Tak jauh dari sana, di pangkalan Bosaso, pasukan UEA; yang oleh rakyat setempat dikenal sebagai “tentara ekspedisi zionis berturban”, telah memasang rudal pertahanan udara baru dan radar anti-drone canggih. Langkah ini jelas menyasar Qasef-2K, Samad-3, dan drone long-range lainnya yang telah sukses menyerang target Israel, AS, dan Saudi dalam beberapa bulan terakhir.
Pangkalan Bosaso bukan sekadar lokasi strategis di Laut Arab. Ia adalah bagian dari poros penyerangan baru: titik pantau, titik luncur, dan—bila diperlukan—titik infiltrasi untuk pasukan khusus yang akan menjalankan misi search and destroy ke jantung Perlawanan Yaman.
Koalisi Barbar: AS, Israel, Turki, Mesir, UEA, dan Ethiopia
Yang sedang berlangsung di Somalia bukan semata-mata “peningkatan keamanan regional”. Ini adalah transformasi negara gagal menjadi kapal induk darat untuk imperialisme gabungan.
Amerika Serikat mempertahankan pangkalan drone dan fasilitas CIA di sekitar Mogadishu, sembari memfasilitasi koordinasi intelijen lintas negara.
Israel hadir lewat produk teknologi militernya; dari radar hingga sistem penindasan sinyal. Ia hadir tanpa terlihat, mematikan tanpa mengaku.
UEA menjadi operator utama lapangan, menyuap, membangun, dan menempatkan pasukan bayaran bersenjata di wilayah miskin yang tak punya pilihan.
Turki dan Mesir, meski secara geopolitik bersaing, sama-sama menyuplai instruktur dan perangkat keras tempur di beberapa zona Somalia.
Ethiopia, di sisi lain, mulai mengaktifkan jalur suplai darat menuju pelabuhan-pelabuhan Somaliland, membuka jalur logistik militer ke pesisir.
Kombinasi ini adalah peta kolonialisme baru: ketika para penjajah sepakat bahwa Perlawanan Yaman harus dihancurkan, dan bahwa tanah Somalia adalah laboratorium darah berikutnya.
Target: Infrastruktur dan Spirit Perlawanan
Operasi yang sedang dirancang tidak hanya menyasar lokasi militer, tetapi seluruh jaringan yang menopang eksistensi Ansharullah:
1. Titik-titik logistik yang menghubungkan pegunungan Sa’dah ke garis pantai barat.
2. Jalur komunikasi dan radar lokal yang menjadi mata dan telinga pasukan Perlawanan.
3. Pusat produksi rudal dan UAV, yang telah memberi Yaman kekuatan taktis meskipun di bawah blokade.
4. Pemimpin militer dan spiritual Perlawanan, yang menjadi simbol bangkitnya dunia Arab bebas dari dominasi Amerika-Israel.
Somalia dan Kutukan Kolonial
Somalia hari ini berada di ujung tanduk sejarah. Dari negeri yang dulu bangga dengan Islam dan Perlawanan, ia kini dijadikan gudang senjata dan pangkalan pembunuh oleh kekuatan yang pernah menindasnya.
Namun sejarah selalu memberi celah. Ketika radarnya aktif dan rudalnya siap ditembakkan, rakyat pasti bangkit. Ketika darah para pemuda Ansharullah tumpah di tanah Yaman oleh drone yang dikendalikan dari Somalia, maka kemarahan itu tidak akan tinggal diam.
Kelak, mereka yang hari ini menandatangani kontrak penjajahan akan menandatangani surat pengusiran. Dengan tangan rakyat. Dengan tinta Perlawanan. [PP/MT]
