Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

AS dan UEA Siapkan Invasi Darat, Yaman Siapkan Balasan Keras

AS dan UEA Siapkan Invasi Darat, Yaman Siapkan Balasan Keras

POROS PERLAWANAN – Hitung mundur menuju kobaran perang besar di Yaman telah dimulai. Di balik layar diplomasi palsu dan jargon kemanusiaan, Amerika Serikat dan sekutunya di Teluk, terutama Uni Emirat Arab (UEA) sedang mempersiapkan babak baru agresi terhadap rakyat Yaman. Kali ini, mereka hendak menggantikan perang udara dengan skenario pendudukan darat yang brutal: milisi separatis bayaran akan menjadi ujung tombak, sementara langit tetap dikuasai oleh jet-jet pembunuh AS.

Menurut laporan Wall Street Journal pada Selasa 15 April, milisi yang dibina, dibiayai, dan dipersenjatai UEA sedang bersiap menyerang provinsi Taiz dan menduduki pelabuhan strategis Hudaydah. Target mereka jelas: menutup jalur logistik vital dan mematahkan kedaulatan Pemerintahan Revolusioner Sanaa yang dipimpin Ansharullah. Namun, rencana ini bukanlah inisiatif regional murni. Ini adalah buah dari laboratorium perang Pentagon yang menyulap Yaman menjadi ladang eksperimen geopolitik.

Lebih parah lagi, rencana tersebut turut melibatkan para pensiunan Militer AS yang kini kembali menjadi tentara bayaran dan “penasihat militer” untuk kelompok separatis. Mereka bukan hanya mengajarkan strategi militer, melainkan juga mengimpor model penjajahan gaya baru, di mana pasukan lokal diperalat untuk menjalankan ambisi imperium global.

Serangan udara AS yang terus berlanjut sejak awal 2024 hingga sekarang telah menghantam berbagai provinsi, termasuk Al-Jawf, Marib, dan Hudaydah, hingga 29 kali dalam satu malam terakhir. Jet-jet pembunuh membombardir garis pertahanan rakyat Yaman, membentangkan jalan darah bagi gerombolan pasukan bayaran darat yang ingin menguasai negeri ini atas nama “Koalisi Arab”.

Sementara itu, penggelaran kapal induk USS Carl Vinson di tenggara Yaman menjadi sinyal jelas: AS tidak hanya mengawasi, tapi langsung mengorkestrasi agresi ini.

Namun, apakah sejarah tak mengajarkan kepada mereka bahwa Yaman bukan Suriah, dan rakyatnya bukan bangsa yang bisa dikalahkan dengan uang atau misil? Mereka lupa bahwa tanah ini telah melahirkan para pejuang yang lebih memilih syahid daripada tunduk.

Pemimpin Ansharullah, Ali al-Houthi menegaskan bahwa setiap agresi akan dibalas sekeras mungkin. Yaman tidak akan membiarkan tanahnya dijadikan panggung untuk mencuci tangan darah Zionis melalui tentara bayaran Arab. Para Pemimpin Poros Perlawanan telah lama membaca taktik ini: dari Aleppo hingga Gaza, dari Beirut hingga Sanaa, musuh selalu datang dengan dalih perdamaian dan pulang dengan keranda.

Arab Saudi, meski diam-diam mendukung, kini tampak ragu. Riyadh menyadari bahwa keterlibatan langsung dalam operasi ini bisa memantik badai regional yang tak terkendali. Di balik keengganan itu ada kecemasan: bahwa perang darat bukan hanya akan gagal, melainkan juga akan membangkitkan perlawanan yang lebih luas, lintas batas, dan lintas generasi.

Rakyat Yaman, yang telah bertahan selama satu dekade lebih di bawah embargo, kelaparan, dan hujan bom, kini berdiri dengan satu suara: kemenangan atau mati syahid.

Agresi yang akan datang bukan sekadar upaya militer, tapi upaya terakhir dari sebuah tatanan dunia yang sedang runtuh. Dus, seperti biasa, Poros Perlawanan tidak akan tinggal diam.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *